30 C
Jakarta

Lewat Bahasa Indonesia, Mahasiswa UMS Gaungkan SDGs

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendorong mahasiswa untuk berperan aktif sebagai agen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Upaya tersebut disampaikan dalam kuliah umum yang digelar oleh Prodi PBSI UMS dengan mengusung semangat “Dari Kampus untuk Dunia, Mahasiswa PBSI sebagai Aktor Penting dalam Pengimplementasian SDGs”. Kegiatan ini menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam memperkenalkan dan mengimplementasikan SDGs, Kamis (12/3) di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah.

Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa dapat berkontribusi dalam implementasi TPB melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengenalkan budaya serta kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia kepada dunia internasional.

Menurutnya, bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi personal, tetapi juga memiliki dimensi komunal yang memperkuat identitas bangsa.

“Saya kira pentingnya, siapa lagi yang merawat, siapa lagi yang mencintai, siapa lagi yang mempromosikan, siapa lagi yang bisa meninggikan derajat itu kalau tidak kita semua,” ujar Harun.

Ia juga menyoroti upaya internasionalisasi bahasa Indonesia yang saat ini terus berkembang. Meski demikian, masih terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui agar bahasa Indonesia dapat diakui sebagai salah satu bahasa resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Salah satu faktor penting dalam upaya tersebut adalah jumlah pengguna bahasa Indonesia yang menjadi daya tawar di tingkat global.

Dalam kuliah umum itu, Prodi PBSI UMS menghadirkan Esie Hanstein yang merupakan dosen di Humboldt University Berlin dan Leipzig University Jerman, yang juga merupakan aktivis UNESCO dan pegiat SDGs. Esie dipercayai juga untuk mengalihbahasakan lagu The Seventeen Global Goals Project feat. Esie: Dunia Dalam Bahaya.

Esie menceritakan bagaimana mahasiswa di Jerman melek implementasi TPB. Ia juga memiliki program untuk mahasiswa agar dapat mengikuti kegiatan ekskursi untuk berkontribusi pada berbagai isu dalam 17 tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari kesehatan hingga kesejahteraan masyarakat.

Baginya, mahasiswa khususnya PBSI UMS, dinilai memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang dapat memulai berbagai kampanye positif dengan menggunakan bahasa Indonesia secara luas. Ia mendorong mahasiswa agar tidak perlu malu untuk membawa gelas air atau tempat makan, demi mengurangi penggunaan plastik.

“Dengan menggunakan kantong itu jauh lebih membanggakan daripada plastik-plastik juga. Itu tidak merubah sepenuhnya, terbiasa memakai plastik lalu menyetopnya. Tetapi setidaknya secara perlahan tetapi pasti dan konsisten itu yang paling bisa membantu untuk menyelamatkan lingkungan,” kata Esie.

Selain itu, menurutnya mahasiswa dapat membuat program dengan mengajak sesama mahasiswa atau komunitas yang bisa dilakukan. Apabila memungkinkan, bisa melakukan ekskursi ke Universitat Humboldt khususnya untuk dapat mempelajari penerapan TPB dan menerapkannya di Indonesia.

“Dan yang paling terbaik praktek langsung adalah mengirim mahasiswa dari sini untuk belajar langsung dari mahasiswa yang berada di sana,” ujar Esie.

Kegiatan kuliah umum ini dipenuhi oleh semangat mahasiswa. Mahasiswa aktif berdiskusi untuk menggali lebih dalam penerapan TPB yang memungkinkan dilakukan di kampus ataupun lingkungannya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!