SOLO, MENARA62.COM – Kepedulian terhadap pemerataan pendidikan di wilayah perdesaan mengantarkan Hian Risnandar, mahasiswa Program Studi Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, meraih Juara I Pemuda Pelopor Kabupaten Karanganyar 2026 bidang Pendidikan dan Sosial Masyarakat. Melalui Gerakan Mengajar Desa, ia berupaya menghadirkan akses pembelajaran yang lebih bermakna bagi anak-anak di desa.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kiprah Hian dalam mengembangkan gerakan pengabdian masyarakat sejak 2024. Program yang diinisiasinya telah menjangkau tiga desa dan empat sekolah dasar di Kabupaten Karanganyar, dengan melibatkan sekitar 48 relawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi Hian, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan fondasi penting untuk membangun masa depan generasi muda. Ia meyakini, penanaman nilai-nilai positif sejak sekolah dasar dapat memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan anak.
“Saya merasa bisa sampai di titik ini juga berkat pendidikan. Karena itu, ilmu yang saya dapatkan ingin saya tularkan kepada orang lain melalui pendidikan,” ungkap Hian, Senin (19/10/2026).
Gerakan Mengajar Desa Libatkan 48 Relawan
Melalui Gerakan Mengajar Desa, Hian mengajak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Program ini dilaksanakan selama tujuh hari pada masa libur semester.
Pada pagi hari, para relawan mengajar siswa sekolah dasar. Sementara itu, siang hingga malam hari dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan masyarakat dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di desa.
Relawan yang terlibat berasal dari beragam latar belakang keilmuan. Program ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa, khususnya yang menekuni bidang pendidikan, untuk memperoleh pengalaman mengajar secara langsung.
Sebelum kegiatan dimulai, Hian melakukan observasi sekolah, berkomunikasi dengan pemerintah desa, memetakan kebutuhan pendidikan, serta menyusun rancangan materi pembelajaran bersama para relawan. Materi yang dikembangkan tidak hanya berkaitan dengan pelajaran sekolah, tetapi juga mencakup isu kesehatan dan lingkungan.
“Kalau pagi kami ke sekolah dasar, sedangkan siang sampai sore atau malam, jika ada kegiatan masyarakat, kami ikut terlibat. Jadi, pengabdiannya bukan hanya mengajar di sekolah, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Hian, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan program pengabdian berjalan sesuai kebutuhan setempat. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga membangun komunikasi dan kepercayaan dengan warga serta pemerintah desa.
Temukan Sekolah Tertinggal, Dorong Perbaikan
Dalam menjalankan Gerakan Mengajar Desa, Hian menghadapi tantangan, terutama dalam membangun kepercayaan pemerintah desa. Latar belakang relawan yang berasal dari berbagai perguruan tinggi tanpa membawa satu identitas kampus tertentu membuatnya perlu menjelaskan tujuan, mekanisme, dan manfaat program secara terperinci.
Namun, tantangan tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Hian menilai keberhasilan pengabdian masyarakat tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Salah satu pengalaman yang membekas baginya adalah ketika menemukan sekolah dasar dengan kondisi pembangunan yang masih tertinggal. Setelah melakukan observasi dan melaporkan kondisi sekolah tersebut, perbaikan kemudian dilakukan sehingga keadaan sekolah menjadi lebih baik.
Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa program pengabdian harus berangkat dari pemahaman terhadap persoalan nyata di lapangan.
“Ketika saya merasa bisa bermanfaat dan memberikan dampak kepada masyarakat, terutama anak-anak di desa, ada kebahagiaan tersendiri. Dari situ saya merasa bahwa inilah arti menjadi orang yang bermanfaat,” tuturnya.
Gerakan Mengajar Desa di Karanganyar merupakan bagian dari Yayasan Sahabat Peduli Pendidikan yang berpusat di Jawa Barat. Sebagai inisiator di Karanganyar, Hian bertanggung jawab mengurus perizinan, menyusun proposal, menentukan lokasi pengabdian, hingga mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan.
Ke depan, ia ingin memperluas sasaran gerakan, tidak hanya kepada siswa sekolah dasar, tetapi juga kalangan pemuda. Salah satu rencananya ialah mengembangkan komunitas yang berfokus pada peningkatan kapasitas pemuda, termasuk anggota karang taruna, melalui pelatihan dan program pemberdayaan masyarakat.
Mahasiswa UMS Berprestasi dengan IPK 3,90
Kiprah Hian dalam pengabdian masyarakat didukung pengalaman akademik, organisasi, dan kompetisi selama menjadi mahasiswa. Saat ini, ia menempuh semester tujuh Program Studi Geografi UMS dengan IPK 3,90. Ia juga menjalani studi S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota di Universitas Terbuka.
Pada 2024, Hian menerima Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kategori Masyarakat Berprestasi. Dukungan tersebut turut mendorongnya mengembangkan potensi akademik sekaligus memperluas kontribusi di masyarakat.
Dalam bidang akademik dan inovasi, Hian meraih Juara I Mahasiswa Berprestasi Fakultas Geografi UMS 2026. Ia juga memperoleh Gold Medal dalam International Invention & Innovation Competition yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta pada 2026.
Prestasi lainnya meliputi Silver Medal dalam Innovation World Cup yang diselenggarakan Malaysia Innovation Invention Creativity Association pada 2026, Juara III Lomba Esai Edutalk Fair Competition tingkat nasional Universitas Brawijaya pada 2025, serta Bronze Medal dalam World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) pada 2026.
Pengalaman kepemimpinannya juga terasah melalui organisasi kemahasiswaan. Hian pernah menjabat Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa ATLAS UMS periode 2025–2026. Selama memimpin, ia menginisiasi lebih dari lima program kerja baru dan memperkuat kolaborasi dengan pihak eksternal, termasuk instansi pemerintah di Kabupaten Karanganyar.
Saat ini, ia juga menjadi pengurus pusat Chapter Division Desamind Indonesia Foundation dan Wakil Ketua Umum Organisasi Mahasiswa Universitas Terbuka Surakarta.
Berbagai pengalaman tersebut membantunya mengembangkan keterampilan kepemimpinan, komunikasi publik, pengelolaan tim, serta membangun kemitraan lintas lembaga.
Hian menilai, lingkungan kampus turut memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Kesempatan mengikuti kompetisi nasional dan internasional serta aktif berorganisasi menjadi bekal ketika harus berhadapan langsung dengan masyarakat.
“UMS memberikan banyak manfaat bagi saya, bukan hanya secara materiil, tetapi juga melalui kesempatan mengikuti lomba nasional dan internasional serta pengalaman berorganisasi. Hal-hal itu membantu saya lebih siap ketika harus terjun ke masyarakat,” ujarnya.
Siap Wakili Karanganyar ke Tingkat Provinsi
Setelah meraih Juara I Pemuda Pelopor Kabupaten Karanganyar 2026, Hian bersiap mewakili daerahnya dalam seleksi tingkat Provinsi Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada 17–18 November 2026 di Surakarta.
Ia menegaskan, penghargaan bukanlah tujuan utama dalam menjalankan Gerakan Mengajar Desa. Baginya, capaian tersebut merupakan kesempatan untuk memperluas jejaring, memperoleh dukungan, dan membangun kolaborasi agar program pengabdian dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Hian berharap partisipasinya di tingkat provinsi dapat mempertemukannya dengan lebih banyak pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pemerataan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
“Saya tidak pernah mengejar juara. Yang saya kejar adalah bagaimana kegiatan ini bisa berdampak dan membuat saya bermanfaat bagi banyak orang. Harapannya, melalui Pemuda Pelopor, gerakan ini bisa lebih dikenal, didukung, dan difasilitasi sehingga dampaknya bagi masyarakat Karanganyar semakin luas,” pungkasnya. (*)
