SOLO, MENARA62.COM — Mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Biologi, dan Pendidikan Matematika turut terlibat dalam Program Morning Habit di SMA Muhammadiyah 1 Surakarta.
Keterlibatan mahasiswa PLP UMS dalam program pembiasaan pagi tersebut menjadi bagian dari pengalaman praktik kependidikan sekaligus upaya memperkuat pendidikan karakter siswa. Morning Habit dirancang sebagai budaya sekolah untuk menanamkan nilai religius, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian peserta didik.
Selama menjalani PLP, mahasiswa tidak hanya menjalankan praktik mengajar di ruang kelas. Mereka juga dilibatkan dalam berbagai aktivitas sekolah, termasuk mendampingi siswa dalam pelaksanaan Morning Habit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
Kegiatan diawali pukul 06.45–07.00 WIB dengan tadarus Al-Qur’an, doa bersama, dan yel-yel yang diikuti guru serta tenaga kependidikan. Pembiasaan tersebut menjadi sarana penguatan spiritual sekaligus membangun semangat dan kebersamaan warga sekolah sebelum memulai aktivitas belajar.
Selanjutnya, pukul 07.00–07.30 WIB, guru bersama mahasiswa PLP mendampingi peserta didik mengikuti rangkaian pembiasaan pagi. Kegiatan diawali dengan salat Dhuha berjamaah, kemudian dilanjutkan tadarus Al-Qur’an atau kultum yang dilaksanakan secara bergantian.
Melalui rutinitas tersebut, siswa dibiasakan mengawali hari dengan aktivitas bernilai keislaman. Pada saat yang sama, pembiasaan dilakukan untuk menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua PLP UMS, Muhsin Naim, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam Morning Habit memberikan pengalaman penting bagi calon guru. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana budaya sekolah menjadi bagian integral dari proses pendidikan karakter.
“Melalui kegiatan Morning Habit, mahasiswa tidak hanya belajar mengajar di dalam kelas, tetapi juga memahami bahwa peran seorang guru tidak sebatas menyampaikan materi pembelajaran,” kata Muhsin, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab membangun karakter peserta didik melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.
“Pengalaman ini menjadi bekal yang sangat penting bagi mahasiswa sebagai calon pendidik agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai religius, kedisiplinan, tanggung jawab, serta keteladanan dalam praktik pendidikan di masa mendatang,” ujarnya.
Budaya Sekolah
Wakil Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, Ika Setiyani, S.Pd.I., menjelaskan bahwa Morning Habit merupakan salah satu strategi sekolah dalam membentuk karakter siswa secara berkelanjutan.
“Program Morning Habit menjadi bagian dari budaya sekolah yang kami terapkan setiap hari. Melalui pembiasaan salat Dhuha, tadarus, dan kultum, kami berharap peserta didik tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius, disiplin, dan mandiri,” kata Ika.
Ia menilai kehadiran mahasiswa PLP dalam kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Mahasiswa mendapatkan pengalaman praktik lapangan, sedangkan sekolah memperoleh dukungan dalam mendampingi peserta didik menjalankan rutinitas positif.
Pendampingan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran akademik. Nilai-nilai karakter perlu dibangun melalui keteladanan dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekolah.
Bagi mahasiswa PLP UMS, pengalaman mendampingi Morning Habit menjadi pembelajaran langsung mengenai peran guru secara utuh. Calon pendidik tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk karakter peserta didik.
Keterlibatan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa UMS untuk menghadirkan praktik pendidikan yang mengintegrasikan kompetensi akademik, nilai religius, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteladanan. (*)
