26.4 C
Jakarta

Menkes: Kurang Gizi Pemicu KLB Campak Di Asmat

Baca Juga:

TIMIKA, MENARA62.COM – Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek meyakini kekurangan gizi yang dialami anak-anak dan balita di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, memicu munculnya kejadian luar biasa (KLB) campak, dan penyakit lain seperti peneumonia, TBC, cacingan, malaria dan lainnya.

“Saya yakin karena kekurangan gizi maka mereka kena campak. Itu juga jelas bahwa mereka terkena berbagai macam penyakit lainnya yang memperberat kondisi mereka,” kata Nila di Timika, Kabupaten Mimika, usai mengunjungi para pasien KLB campak di Kabupaten Asmat, seperti dikutip dari Antara, Kamis (25/01).

Menurut Nila, untuk mengatasi persoalan yang terjadi di Asmat sangat tidak mungkin hanya ditangani oleh Kemenkes. Harus melibatkan banyak pihak untuk bersama mengambil langkah memperbaiki sistem pelayanan.

Selain itu, juga untuk mengambil langkah dalam mengobati, meningkatkan imunisasi, perbaikan gizi, serta penguatan di bidang lain agar bisa mempermuda jangkauan pelayanan.

“Terlalu banyak hal dan membutuhkan penanganan jangkah panjang untuk membicarakan penanganan masalah ini. Tapi Kemenkes tidak mungkin bergerak sendiri karena harus ada pembenahan lain mulai dari ketersediaan BBM bagi masyarakat, akses penyaluran air bersih dan hal lainnya,” kata Nila.

Ia mengakui kondisi geografis di Asmat mengakibatkan semua masyarakat berada di atas daerah rawah terkena gizi buruk.

Selain itu, jangkaun ke pusat pengobatan juga sangat sulit karena masyarakat harus menggunakan jalur laut dan kali.

Meski setiap warga telah memiliki sampan dan perahu masing-masing, akan tetapi jangkauan dan jalur tempuh yang sangat susah menjadikan masyarakat kesulitan mendapatkan BBM.

Selain itu, sebanyak 23 Distrik di Asmat yang terletak saling berjauhan dan membutuhkan waktu tempuh yang lama.

Hal ini tersebut, menurut Nila, merupakan kendala yang sangat luar biasa khusus dalam menyalurkan obat-obatan dan bantuan lainnya.

“Dari 23 distrik itu tercatat sebanyak 20 distrik yang telah tersisir oleh hampir seluruh tim kemanusian termasuk TNI dan Polri. Kami memantau, selain di Rumah Sakit, perawatan bagi para korban juga tersebar di tempat ibadah dan posko-posko,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua dr Alosius Giyai juga mengatakan bahwa gizi buruk bisa terjadi karena berbagai aspek yang belum dibenahi dan terpenuhi seperti aspek ketahanan pangan, pertanian, perikanan serta bidang kesehatan.

Di bidang kesehatan, kata Alosius, meliputi ketersedaiaan tenaga kesehatan, cakupan administrasi oleh tenaga kesehatan, serta akses yang memperlancar pelayanan kesehatan.

“Yang dikatakan Ibu Menteri itu benar. Ini murni gizi buruk dan diakibatkan oleh banyak aspek. Tenaga medis di sana mengakui ada motor laut, tapi BBM tidak lancar dan haraganya juga mahal. Itu jadi masalah yang memang sulit dituntaskan,” katanya.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!