34.6 C
Jakarta

Novelet : #13Bintang di Atas Langit Kairo

Baca Juga:

#13. Makin kesini, makin kesana

MIMPI untuk bisa sekolah ke Al-Azhar Cairo, makin kabur. Makin menjauh. Tetapi sebagai orang tua kami, terutama aku, bapaknya tidak pernah berhenti mendorongnya, minimal memberikan gambaran untuk kedepannya. Yang terakhir adalah mendoakannya. Karena memang semua berjalan karena kuasa-Nya. Kita adalah bidak-bidak kecil yang dijalankan oleh kehendak-Nya. Dia juga yang kuasa untuk membolak-balikkan hati setiap insan. Seorang bapak tidak bisa menggenggam hati anaknya. Memaksakan. Kalaupun toh bisa, biasanya berujung tragedi. Kesedihan. Sudah banyak contoh, dari pergaulan dengan teman-teman, baik di kantor, di komunitas atau organisasi, bahwa memaksakan kehendak kepada anak, lebih banyak berkahir dengan penyesalan.
“Tapi anak seusia SMA, 16-17 tahun harus ngikut kehendak orang tuanya. Toh kita yang memberikan fasilitas mereka, hingga membiayainya. Kalau gak nurut apa kemauan kita. Biar cari bea hidup sendiri,” kata temanku satu saat, ketika bertemu dalam sebuah seminar kecil.
“Nanti terpaksa menjalaninya,” sanggahku, tak mau kalah.
“Awalnya terpaksa, tidak mengapa. Contohnya anakmu, masuk pondok usia dini, apakah kemauan penuh anak? saya kira tidak, peran orang tua masih dominan. Jadi mendidik itu ada 2 : Mengarahkan dan Memerintahkan,” tandasnya. Seolah tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk membela diri lagi.
Aku hanya manggut-manggut saja menerima penjelasannya. Sesekali menimpali, namun aku kalah dalil dan data.
“Misalnya anak gak mau sekolah, alasannya pulang sore, kegiatan penuh, capek, gak ada waktu untuk bermain, apa harus kita turuti” sambungnya. Sesekali diselingin minum es teh kesukaannya.
“Ya, saya kira tidak se-ekstrem begitulah, mas. Cuma kadang berbeda dipilihan sekolah yang dituju. Kalau sekolah lanjut, jelas, kami sepakat. Anak tetap harus sekolah setinggi mungkin. Tapi dimana-nya itulah yang kita berbeda pikir. ” aku coba masih menimpali, dengan sisa-sisa tenaga dan pengetahuan.
“Lihatlah Aku,” temanku lebih semangat. Duduknya merangsek. Tidak lagi berhadapan. Lesehan. Dia geser pantatnya mendekati tempat dudukku. Sambil mengeluarkan dompet, isi photo anaknya kini kuliah di luar negeri. S-3. Tidak bermaksud pamer, temanku itu cerita..
“Dulu, Agus ini, tidak mau melanjutkan sekolah. jangankan S-3. Kuliah S-1 saja sudah males. Alasannya bermacam-macam. Dari keinginan bekerja sejak dini, hingga membayangkan, betapa padatnya tugas kuliah. Sehingga berpikir kapan main-nya,” katanya
“Terus?” kataku penasaran.
“Ya aku paksa kuliah. S-1 selesai, meski agak terlambat. Aku dorong lanjutkan S-2. Bapak yang beayai. Dia jawab, capeiknya belum selesai, sudah disuruh lanjutkan S-2. Aku jawab, mumpung masih muda, kuliah mas. Nanti kalau sudah tua, seperti bapak, meski kadang kemampuan masih ada. Tapi energi sudah banyak berkurang, kalau tidak mau dikatakan terkuras,”
“Setiap harinya tidak mengeluh,”
“Awalnya, iya, Coba nanti kalau anaknya pulang, ditanya”
Aku penasaran pingin ketemu anak temanku yang kuliah S-3 di luar negeri itu seperti apa suasananya.  Minimal tahu kesehariannya. ( bersambung )

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!