26 C
Jakarta

Pendekatan Rekonstruksi Sosial Dalam Kurikulum

Baca Juga:

(Telaah Pada Program Live In Society SMA Muhammadiyah PK Kottabarat)

 Oleh : Hendro Susilo *)

SOLO, MENARA62.COM– Desentralisasi pendidikan membawa paradigma baru bagi sekolah untuk lebih mandiri dalam mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada di sekolah. Ini membawa peluang besar untuk membangun sekolah unggul yang diinginkan. Sekolah unggul akan mampu mengelola siswa untuk menjadi pribadi yang tumbuh dan berkembang sesuai karakteristik individualnya.

Untuk menentukan unggul atau tidaknya suatu lembaga pendidikan, tentu ada indikator dan ciri-cirinya. Dan, salah satu ciri dari sekolah unggul adalah memiliki kurikulum yang diperkaya (eskalasi). Saya pernah menuliskan terperinci dalam sebuah artikel berjudul Adaptasi Eskalasi Kurikulum. Intinya, eskalasi kurikulum merupakan proses pendalaman suatu materi baik secara vertikal maupun horizontal dengan tujuan agar peserta didik tumbuh kembang secara optimal.

Kali ini, saya mencoba menelaah salah satu program di sekolah Muhammadiyah, khususnya di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat. Program yang menarik saya ulas adalah “Live In Society”. Salah satu program untuk kelas X SMA yang tertulis dalam buku kurikulum (KTSP) dengan tujuan mendidik siswa menjadi “problem solver” dalam kehidupan masyarakat. Tulisan ini akan mencoba menguraikan paradigma pendekatan sampai pada tataran pelaksanaan di lapangan.

 

Pendekatan Rekonstruksi Sosial dan Program Live In Society

 

Secara konseptual, Oemar Hamalik (2008) menuliskan bahwa Pendekatan rekonstruksi sosial adalah pendekatan yang memprioritaskan keterkaitan antara kurikulum dengan sosial masyarakat dan perkembangan ekonomi. Pendekatan pengelolaan kurikulum ini harus bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Selain menekankan pada isi pembelajaran, juga menekankan proses pendidikan dari pengalaman belajar. Tujuan dari pendekatan sosial adalah menyiapkan peserta didik yang bisa menghadapi tantangan, ancaman, hambatan, atau gangguan yang dihadapi masyarakat. Di antara kegiatannya adalah melihat kritis terhadap suatu keadaan masyarakat.

Pendekatan rekonstruksi sosial merupakan pendekatan yang menjadikan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai prioritas utama. Dalam pendekatan rekonstruksi sosial, dalam perumusan program kurikulumnya terlebih dahulu melihat kebutuhan sosial masyarakat sekitar, karena pendekatan ini lebih menyiapkan peserta didik untuk mampu menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi di lingkungan sekitarnya. Pendekatan ini berasumsi bahwasannya permasalahan dalam masyarakat tidak harus diperhatikan oleh pengetahuan sosial saja, akan tetapi juga oleh berbagai disiplin ilmu.

Terkait program Live In Society (untuk selanjutnya saya singkat LIS) di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat yang ditunjukkan untuk siswa kelas X, sampai saat tulisan ini dibuat telah dilaksanakan sebanyak 5 kali. 1 kali bertempat di panti, 1 kali bertempat di Simo, Boyolali dan 2 kali bertempat di Beji, Klaten dan 1 kali bersifat online (karena faktor pandemi). Gambaran secara umum program LIS  adalah siswa melakukan pembelajaran dan pengabdian langsung di masyarakat. Sebelum memilih suatu lokasi, siswa bersama sekolah mensurvey tempat terlebih dahulu dan melakukan wawancara terhadap tokoh-tokoh di daerah yang dituju untuk melihat dinamika masyarakat dan kebutuhan pengembangan masyarakat di daerah tersebut.

Data hasil survey tersebut dijadikan acuan bagi siswa dan sekolah menyusun rencana- rencana kegiatan yang akan memberikan dampak positif bagi warga masyarakat di daerah yang dituju. Setelah rencana kegiatan tersusun, maka kegiatan LIS dilaksanakan dengan rentang waktu 3-4 hari siswa menginap, berkegiatan dan bersentuhan langsung dengan realita kehidupan masyarakat di daerah yang dituju. Pola kegiatan pembelajaran yang mengenalkan langsung realita dan problem kehidupan masyarakat ini merupakan sebuah pendekatan kurikulum yang bisa juga disebut pendekatan aksi sosial.

Pendekatan aksi sosial ini merupakan proses mendidik siswa agar mampu melakukan kritik sosial serta mengajari siswa tentang keterampilan dalam membuat keputusan. Pendekatan kurikulum ini telah mencakup berbagai elemen dan menambah suatu komponen yang mempersyaratkan peserta didik membentuk kegiatan yang berkaitan dengan isu, konsep, atau masalah yang sedang dipelajari. Berbagai disiplin ilmu yang didapatkan di sekolah, akan  diterapkan siswa di lingkungan masyarakat, seperti agama (Ismuba), rumpun pelajaran sosial, seni budaya, rumpun pelajaran MIPA, pembelajaran karakter, Pembelajaran ekonomi pedesaan dan lain sebagainya.

Salah satu contoh pengalaman yang di dapat saat kegiatan LIS antara lain, bagaimana siswa belajar mengelola dan memotivasi anak-anak TPA agar gemar membaca dan membangun perpustakaan mini di masjid dengan buku-buku yang siswa bawa sebelumnya dari hasil kajian survey. Selain itu, membangun kepercayaan diri siswa dengan menjadi pengisi kultum didepan jamaah masyarakat setiap selesai sholat jamaah, bekerjasama dengan takmir masjid menyelenggarakan pengajian yang dibutuhkan masyarakat, menyelenggarakan bazar murah untuk masyarakat yang tidak mampu, membantu kegiatan ekonomi orang tua asuh (rumah yang ditempati siswa), memberikan hiburan kepada masyarakat dengan tampilan seni tari adalah beberapa gambaran kegiatan LIS yang dilakukan siswa dan sekolah.

Selain kegiatan yang memberikan manfaat untuk masyarakat, secara tersirat kegiatan LIS mengandung pendidikan karakter yang tak ternilai harganya. Pola hidup kerjasama, saling membantu, dan empati di bangun dalam kegiatan LIS ini. Siswa belajar melihat kehidupan dari beragam perspektif, belajar melihat dan memposisikan diri bila sebagai orang lain akan menumbuhkan jiwa empati yang akan mengantarkan pada karakter yang baik bagi siswa. Pemaparan diatas menggambarkan bahwa program LIS merupakan program dengan pendekatan pengelolaan kurikulum yang bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Pendekatan rekonstruksi sosial ini lebih menyiapkan peserta didik untuk mampu menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi di lingkungan sekitarnya. Hal ini kemudian sejalan dengan tujuan sekolah unggul yaitu sekolah yang dianggap bermutu, banyak kalangan menganggap bahwa dalam kategori unggulan tersirat harapan apa yang dapat diberikan kepada siswa pada saat lulus. Harapan itu sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh setiap orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan oleh siswa itu sendiri, yaitu sejauh mana (out put) dan (outcome) sekolah memiliki kemampuan intelektual, moral dan keterampilan yang dapat berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara.

*) Litbang SMA Muh PK

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!