27.9 C
Jakarta

Pendidikan Berorientasi Inovasi

Baca Juga:

Kunci inovasi bagi anak muda adalah menghilangkan beban masa lalu dan berorientasi pada solusi. Kabarnya, Mendikbud kali ini sangat gandrung perubahan dan tidak suka berbicara masalah.

Dunia pendidikan di tanah air sangat sarat masalah. Semakin banyak diperbincangkan, semakin mumet mendengarnya. Menteri seperti mas Nadiem ini tidak suka berkelindan dengan masalah. Baginya, apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah, itu lebih penting.

Istilah pemberdayaannya adalah menyalakan pelita. Daripada menghabiskan energi untuk membincangkan kegelapan, lebih baik menyalakan pelita. Menerangi orang lain, walaupun itu kecil, lebih bermanfaat daripada mengutuk keadaan.

Mentri yang masih muda ini menghendaki persoalan pendidikan tidak terus diperbincangkan, sebab tidak ada solusi dari perbincangan itu. Menurutnya, yang penting adalah apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Ketika dunia pendidikan semakin rigid dengan persoalan administratif, mas Menteri ini justru melakukan revolusi administrasi demi membebaskan para pendidik dari rutinitas yang dianggapnya menghambat kemajuan.

Menurutnya, yang penting saat ini dikembangkan di dunia pendidikan Indonesia adalah inovasi. Sebagai lembaga pendidikan, menghasilkan hal-hal baru jauh lebih positif dan produktif. Dan guru sebagai pendidik harus menjadi motor dari inovasi tersebut.

Salah satu strategi yang diterapkan penggagas gojek ini adalah, menanggalkan kewajiban-kewajiban administratif pada guru dan mengubahnya pada tradisi berfikir dan mengasah kreativitas. Kewajiban RPP yang bertumpuk-tumpuk, dipangkasnya menjadi satu lembar. Sebuah terobosan yang menggembirakan.

Sayangnya, menanggalkan tradisi administrasi dan masuk pada budaya inovasi, belum tentu dapat dilakukan dalam sekejap. Mengubah budaya dan menarik guru pada ruang inovasi, tentu butuh waktu. Selain itu, guru-guru juga membutuhkan motivasi dan pemodelan yang memadai. Bahkan jika perlu, membutuhkan sejumlah forum untuk menjadikan guru sebagai pusat inovasi bagi siswa.

Pendidikan yang berorientasi inovasi, harus dimulai dan harus menjadi program yang massif di semua daerah. Membawa guru menjadi inovator di segala bidang mungkin juga tidak mudah. Pada banyak hal, khususnya dalam dunia teknologi, anak-anak sekolah bahkan bisa jadi jauh lebih hebat dari gurunya.

Di sinilah Mentri Nadiem mungkin perlu melihat kondisi ini lebih komprehensif. Membangun jiwa pengajar yang berorientasi inovasi perlu diturunkan dalam bentuk panduan yang lebih kongkrit. Dengan kemampuan yang beragam, dengan fasilitas sekolah yang tidak merata, termasuk geografis daerah yang jomplang antara kota dan desa, inovasi tidak melulu persoalan teknologi, tetapi segala hal yang terkait dengan pengembangan ilmu dalam berbagai aspek.

Tetapi tetap saja keinginan Mas Menteri Nadiem untuk mengedepankan inovasi di dunia pendidikan, menjadi sangat mendesak. Bahkan sesungguhnya hal ini juga dibutuhkan untuk tingkat Perguruan Tinggi, agar para dosen tidak sibuk dengan urusan Jafung, paper, kegiatan seminar, dan kegiatan administrasi lainnya.  Sementara dari aktivitas itu tidak ada inovasi yang ditawarkan kepada publik sebagai hasil pikir dosen di tanah air. Kalaupun ada, mungkin  hanya secuil dan secara umum tidak sebanding dengan kesibukan serta biaya penelitian dan pengabdian masyarakat yang digelontorkan untuk kegiatan itu.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!