30.7 C
Jakarta

Prodi Apoteker UMPP Diburu Pendaftar Luar Jawa

Baca Juga:

PEKALONGAN, MENARA62.COM — Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) semakin diminati calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Meski baru meluluskan angkatan kedua, prodi ini sudah diserbu ratusan pendaftar, termasuk dari luar Jawa hingga luar negeri.

Fenomena tingginya minat tersebut terungkap saat prosesi pengambilan sumpah profesi 39 mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker UMPP di Gedung Rektorat UMPP, Kamis (21/5/2026).

Ketua Program Studi Profesi Apoteker UMPP, Nurul Aktifah, mengatakan seluruh mahasiswa angkatan kedua berhasil lulus 100 persen dalam Ujian Kompetensi Nasional sebelum resmi menyandang gelar apoteker.

“Angkatan dua ini alhamdulillah sudah lulus 100 persen untuk Ujian Kompetensi Nasional,” ujarnya.

Menurut Nurul, tingginya animo masyarakat terhadap Prodi Profesi Apoteker UMPP terus meningkat setiap tahun. Tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, para pendaftar juga datang dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri.

“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa, tidak hanya dari Jawa Tengah, tetapi juga luar Jawa hingga internasional,” katanya.

UMPP sendiri membatasi kuota penerimaan hanya 40 mahasiswa setiap angkatan. Namun jumlah pendaftar hampir selalu mencapai 200 orang, sehingga rasio persaingan masuk mencapai 1 banding 4.

Karena tingginya jumlah peminat, kampus menerapkan proses seleksi ketat melalui ujian tertulis dan wawancara untuk memastikan kualitas calon mahasiswa.

Salah satu lulusan terbaik, Hendra Wahyudi, mengaku sengaja merantau dari Kalimantan Timur untuk melanjutkan pendidikan profesi apoteker di UMPP. Ia memilih kampus tersebut karena di daerah asalnya masih sedikit perguruan tinggi yang memiliki program profesi apoteker.

Berbekal informasi dari media sosial, Hendra memberanikan diri mendaftar ke UMPP dan berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

“Saya lihat di media sosial UMPP ternyata punya profesi apoteker. Saya coba daftar dan ternyata fasilitasnya sudah lengkap,” ujarnya.

Ia menilai kurikulum pendidikan profesi apoteker di UMPP sudah relevan dengan kebutuhan dunia farmasi saat ini. Setelah lulus, Hendra berencana kembali ke Kalimantan Timur untuk mengembangkan profesinya di daerah asal.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Kolegium Apoteker, Maria Ulfa, menyoroti tantangan profesi apoteker di tengah maraknya penjualan obat bebas dan bebas terbatas melalui toko kelontong hingga platform e-commerce.

Menurutnya, regulasi terbaru BPOM berpotensi memperluas distribusi obat tanpa pengawasan tenaga profesional yang memahami farmakologi, efek samping, serta interaksi obat.

“Apoteker memahami farmakologi, efek samping, dan interaksi obat. Ini sangat penting demi keamanan pasien,” katanya.

Maria mengingatkan lemahnya pengawasan obat dapat memicu meningkatnya risiko kesalahan penggunaan obat hingga kasus keracunan di masyarakat.

Karena itu, ia berharap pemerintah semakin melibatkan profesi apoteker dalam sistem pengawasan dan distribusi obat demi menjaga keselamatan masyarakat.

Capaian Prodi Profesi Apoteker UMPP yang mampu menarik minat pendaftar dari berbagai daerah sekaligus mencatat kelulusan kompetensi 100 persen menjadi sinyal positif bagi perkembangan pendidikan farmasi di Indonesia. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!