33.9 C
Jakarta

Rektor UMS Tekankan Riset Berdampak dan Berkelanjutan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Harun Joko Prayitno, menegaskan pentingnya riset yang berdampak nyata bagi masyarakat usai pengukuhan dua Guru Besar UMS di Auditorium Moh. Djazman, Rabu (29/4/2026).

Dalam pernyataannya, Harun menyampaikan harapan agar keilmuan yang dimiliki oleh Prof. Kussudyarsana dan Prof. Arum Pratiwi tidak hanya berhenti pada capaian akademik, tetapi mampu memberikan kontribusi langsung bagi bangsa dan umat. Ia menekankan bahwa gelar guru besar harus menjadi titik awal untuk memperluas manfaat riset secara berkelanjutan.

“Riset tidak boleh hanya berhenti pada publikasi ilmiah. Harus membumi, dekat dengan masyarakat, dan memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Menurutnya, UMS juga terus memperkuat jejaring akademik, termasuk dengan keberadaan Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (BIM University) sebagai bagian dari pengembangan institusi. Sinergi ini diharapkan mampu memperluas kontribusi keilmuan para guru besar dalam skala nasional hingga internasional.

Selain itu, Harun menyoroti pentingnya tata kelola perusahaan keluarga yang berbasis budaya mutu dan sistem yang baik. Ia menyebut perusahaan keluarga sebagai fondasi penting dalam pertumbuhan ekonomi, yang perlu dikelola secara profesional tanpa meninggalkan nilai budaya.

“Bukan sekadar modernisasi, tapi bagaimana perusahaan keluarga bisa tumbuh berkelanjutan dengan sistem yang kuat dan tetap menjaga nilai yang ada,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung pentingnya keseimbangan psikososial dalam dunia akademik. Konsep ini dinilai krusial untuk menjaga produktivitas dan inovasi para akademisi, agar tidak mengalami kelelahan mental atau penurunan fungsi kognitif.

UMS sendiri saat ini memiliki 72 guru besar dan menargetkan peningkatan hingga 100 guru besar dalam masa kepemimpinan saat ini. Target tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan kelembagaan dan peningkatan mutu akademik universitas.

Menutup pernyataannya, Harun mengajak insan akademik untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas ilmiah dan kehidupan sosial. Ia bahkan secara santai mengusulkan kegiatan bersama di luar kampus, seperti naik gunung, sebagai bentuk penyegaran dari rutinitas akademik.

“Akademisi juga perlu ruang untuk recharge agar tetap produktif dan inovatif,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!