29.3 C
Jakarta

Selamat Jalan Sahabat Usman Yatim

Baca Juga:

Sekitar sepekan lalu, saya menyampaikan salah satu hasil  rapat  Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Dr Usman Yatim, pengurus MPI PP Muhammadiyah yang mengkoordinir bidang penguatan jurnalistik, dimana saya menjadi salah satu anggotanya. Isinya, tentang rencana membuat Sekolah Jurnalistik Muhammadiyah yang kelas perdananya akan dimulai pekan depan.

“Insya Allah, kalau sekedar hadir saja, saya bisa. Kondisi fisik saya memang masih naik turun, doakan saja,” ujar Usman dengan yakin melalui telepon.

Namun, hari ini, Sabtu (10/3/2018) sekitar pukul 15.00, saya mendapat kabar, Usman Yatim telah dipanggil sang khalik sekitar pukul 14.00. Tak ada kata lain yang meluncur dari bibirku, selain innalillahi wa’nna ilaihi roji’un.

“Semoga Sekolah Jurnalistik Muhammadiyah mampu mencetak jurnalis tangguh, yang tidak gampang larut hoax, dan kuat dengan data dan punya narasi yang baik,” pesan Usman sebelum menutup pembicaraan.

Amin….

Tenang

Usman Yatim, dikenal sebagai jurnalis yang cukup tenang dalam menghadapi beragam persoalan. Pertanyaan yang diajukannya juga cukup jernih. Hampir selama dua tahun, mengampu Indonesia Jurnalis Forum, yang disiarkan oleh TVMU. Di acara ini, kami sering  bersama berdiskusi untuk menghadirkan narasumber.  IJF, lebih sering menampilkan jurnalis  kader Muhammadiyah.

Usman Yatim, jurnalis yang selalu tersenyum ini,  meninggal dalam usia 59 tahun. Ia meninggalkan seorang istri, Rahmi Mulyati yang dinikahinya tahun 1987, dan tiga orang anak (Hatta Harris Rahman, Meka Medina Rahman, Adlia Atika Rahman). Meski mengidap penyakit kanker, namun tidak pernah ia terdengar mengeluh tentang penyakitnya. Ia cukup tegar menghadapi vonis tentang penyakitnya.

“Saya sepertinya harus operasi,” ujar Usman, suatu saat ketika menceritakan tentang penyakit yang dideritanya. “Doakan saja semua lancar,” ujarnya sesaat sebelum menjalani operasi beberapa bulan lalu.

Pria kelahiran Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, 7 Juli 1958 ini, sudah setahun terakhir berjuang menghadapi penyakitanya. Setelah menjalani operasi di rumah sakit, ia masih harus mejalani perawatan jalan seminggu sekali.

Saat ini, selain menjadi dosen Fikom Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Usman juga sebagai Dewan Redaksi Menara62.com. Selain itu, ia juga menjadi Ketua Departemen Wartawan Kesra, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat.

Masih ingat betul, ketika Usman Yatim meminta saya untuk memimpin Menara62.com dan menjadikannya sebagai media publik yang bernafaskan Muhammadiyah. Usman juga yang mengajak saya untuk mengembangkan media di Majelis Ulama Indonsia.

Usman Yatim, selalu mengingatkan tentang karakter pemimpin dan karakter seorang jurnalis. “Kita tidak bisa memaksakan kehendak, namun bukan berarti kita tidak memiliki sikap,” ujar Usman yang juga menjadi pengurus MUI Pusat periode 2005 – 2010.

Usman mengawali karirnya di dunia jurnalistik pada tahun 1982, ketika diterima sebagai wartawan Suara Karya, selepas menyelesaikan pendidikannya di IKIP Negeri Jakarta. Awalnya, menjadi wartawan bukan pilihan hidupnya, karena jika dilihat dari latar belakang pendidikannya, dia seharusnya bergelut dalam bidang pendidikan, terutama sesuai jurusannya, Pendidikan Luar Sekolah.

“Saya lulus bulan Januari 1982, sambil menunggu diwisuda dan pembukaan pendaftaran pegawai negeri, saya mencoba melamar ke mana-mana. Juli saya diterima di Suara Karya, keenakan jadi wartawan saya lupa mendaftar jadi PNS, sampai sekarang,” tutur Usman yang bekerja sebagai PNS itu merupakan harapan orangtuanya.

Ternyata, menjadi wartawan sangat menyenangkan bagi Usman. Selain jadi wartawan, ia pernah jadi guru SMA Muhammadiyah di Kemayoran. “Tidak lama mengajar, saya sering bolos ngajar karena tugas wartawan yang sering ke luar kota,” ucapnya.

Namun, ketika tidak lagi di Suara Karya, Usman akhirnya tetap mengajar. Ia menjadi dosen di Fkip Univerersitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta, sejak 2002. Selain itu, Usman juga pernah mengajar di Fisip Uhamka selama 3 semester.

Sebagai wartawan, Usman Yatim banyak meliput di Departemen Penerangan, era Ali Moertopo, Harmoko, Hartono dan Yunus Yosfiah. Berbagai masalah informasi dan komunikasi banyak didalaminya, terutama dalam hal penyampaian pesan-pesan pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat.

“Masa pak Harmoko menjadi Menpen, saya sering ikut Safari Ramadhan yang tiap tahun beliau laksanakan. Pak Harmoko termasuk orang yang sukses dalam mengkomunikasikan kebijakan pemerintah,” ucap Usman.

Selain di Deppen, Usman juga cukup lama bertugas di Departemen Agama (1982-2005) dan BP-7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) (1982 – bubar 1999). Ia mengaku, sering terpengaruh dengan bidang liputannya.

“Saya larut dengan bidang penerangan, agama, dan Pancasila. Tapi saya tidak menyesal karena larutnya itu dalam arti positif. Gara-gara di Deppen, banyak yang mengira saya lulusan ilmu komunikasi. Lama meliput di Depag, saya dikira lulusan IAIN dan sering pergi ke Tanah Suci sambil meliput haji. Lama meliput di BP-7 membuat saya meyakini betul bahwa Pancasila adalah dasar Negara yang paling dapat menjadi symbol pemersatu masyarakat, bangsa dan Negara ini,” kata Usman yang pernah ikut penataran P-4 Tingkat Nasional dan terakhir KSA(Kursus Singkat Angkatan) XIV Lemhannas, 2006.

Usman Yatim meninggalkan Suara Karya, Nopember 1999, karena kala itu terpengaruh suasana reformasi. Dia melihat lahirnya Undang-Undang Pers No 40 tahun 1999, dianggapnya sebagai kesempatan memiliki media penerbitan sendiri karena dihapusnya ketentuan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Usman mundur dari Suara Karya atas permintaan sendiri, dan karena itu dia tidak mendapat pesangon sebagaimana sejumlah rekan-rekannya yang ikut program PHK dengan pesangon lumayan besar.

Setelah itu, bersama Syarifuddin Sultan, juga mantan Suara Karya, dia menerbitkan Tabloid Politisia, sebagai pemimpin redaksi. Visi media ini dinilainya sangat bagus karena direspon hangat oleh sejumlah orang, seperti pakar komunikasi Dr Indrawadi Tamin MSc, pengusaha dan tokoh Golkar Nurdin Halid, tokoh Muhammadiyah Prof Dr M Din Syamsuddin, dosen Uhamka Prof Dr H Syofyan Saad MPd dan Hj Jane Palapa.

“Sayang Politisia berusia pendek, waktu itu saya belum pengalaman membangun usaha penerbitan, manajemennya payah,” kata Usman Yatim.

Selepas dari Politisia, Usman kembali menjadi wartawan tapi kali ini di Suratkabar Dialog. Oleh pemilik Dialog, James Tobing, dia dipercaya menjadi salah seorang redaktur. Usman mengakui, melalui Dialog dia banyak belajar bagaimana membangun usaha persuratkabaran dengan modal yang pas-pasan. Dia kagum kepada James Tobing yang memiliki keuletan, semangat kemandirian, dalam mengembangkan Dialog yang meski terbit mingguan tapi dapat bertahan lebih dari 5 tahun.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan dari Dialog ini, akhirnya Usman kembali memberanikan diri menerbitkan suratkabar MADINA, 6 Juni 2004.

“Kebetulan ada orang-orang seperti pak Dasril Hasibuan, pak Syofyan Saad, pak Said Agil Husin Al Munawar, kemudian pak Tarmizi Taher, pak Feisal Tamin, dan pak Haryono Suyono, maka jadilah kini saya berkiprah di suratkabar MADINA.”

Dia jadi anggota PWI sejak bekerja di Suara Karya, kemudian aktif di tingkat koordinatoriat, baik di Departemen Penerangan, Departemen Agama, dan BP-7 Pusat. Ketika ikut meliput di Kantor Walikota Jakarta Selatan, 1991-1994, dia dipercaya menjadi Ketua Koordinatoriat. Lantas aktif di tingkat PWI Jaya, pada seksi perkotaan, dan selanjutnya (2003-2008 ) menjabat Ketua Departemen Wartawan Kesra PWI Pusat dan berlanjut pada posisi sama untuk periode 2008-2013.

Sedangkan keterlibatannya sebagai anggota Komisi Komunikasi dan Informasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (2005-2010), boleh jadi selain karena profesi wartawan juga karena dia lama bertugas meliput di Departemen Agama. Begitu pula sebagai anggota Majelis Wakaf dan ZIS PP Muhammadiyah dan terakhir Wakil Sekretaris Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia) DKI Jakarta, dan Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!