SOLO, MENARA62.COM – Pengalaman mendampingi tugas diplomatik di berbagai negara mengantarkan Dr. Marita Fatimah, S.H., M.H. pada sebuah penelitian akademik. Istri Duta Besar RI untuk Kolombia itu kini resmi menyandang gelar doktor setelah menuntaskan studi Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id.
Marita menjadi salah satu lulusan yang mengikuti Wisuda Periode I Tahun Akademik 2026/2027 UMS di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (26/9/2026).
Marita merupakan advokat sekaligus istri Drs. Tatang Budie Utama Razak, M.B.A., Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Kolombia merangkap Antigua dan Barbuda, Barbados, serta Saint Kitts & Nevis.
Gelar doktor tersebut diraih setelah Marita menyelesaikan disertasi berjudul “Model Kebijakan Hukum Proyek Strategis Nasional dan Dampaknya terhadap Stratifikasi Sosial Berbasis Welfare Society (Studi Komparasi Indonesia dan Kolombia)”.
Sebelumnya, Marita telah mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi dan Pengukuhan Doktor Ilmu Hukum UMS pada 23 Juli 2026.
Teliti Proyek Strategis Indonesia dan Kolombia
Disertasi Marita mengkaji kebijakan hukum dalam pelaksanaan proyek strategis nasional serta dampaknya terhadap stratifikasi sosial masyarakat. Penelitian dilakukan dengan membandingkan kondisi dan proyek pembangunan di Indonesia dengan Kolombia.
Ketertarikan mendalami hukum menjadi alasan Marita memilih melanjutkan pendidikan doktor di UMS. Sebelumnya, ia merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan konsentrasi Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara.
Ia kemudian menempuh pendidikan Magister Hukum di Universitas Esa Unggul dengan konsentrasi Hukum Bisnis Internasional.
“Di Program Doktor Ilmu Hukum UMS ini saya mendapatkan satu ilmu yang luar biasa. Fokusnya pada hukum transendental, dengan pijakan pada humanisasi, liberasi, dan transendensi,” ujar Marita.
Menurut dia, pendekatan hukum transendental memberikan pengalaman akademik yang berbeda. Ilmu, kata Marita, tidak semestinya hanya meningkatkan kapasitas intelektual, tetapi juga mendorong manusia untuk rendah hati dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Setinggi-tingginya ilmu yang kita dapatkan, kita tetap harus rendah hati. Saya juga merasa masih harus banyak belajar,” tuturnya.
Pengalaman Diplomatik Jadi Bahan Penelitian
Penelitian Marita tidak terlepas dari pengalaman mendampingi suaminya menjalankan tugas diplomatik di sejumlah negara.
Selama perjalanan tersebut, Marita pernah tinggal di Prancis, Amerika Serikat, Malaysia, Kuwait, hingga Kolombia. Pengalaman melihat pembangunan dan kondisi sosial di berbagai negara kemudian mendorongnya mengembangkan penelitian komparatif.
“Pengalaman saya tidak ingin hanya disimpan untuk saya sendiri. Saya ingin mengembangkannya dan membagikannya, terutama kepada generasi muda,” ungkapnya.
Ketika berada di Kolombia, Marita rutin menulis catatan mengenai pembangunan dan kondisi sosial masyarakat. Catatan tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan penelitian setelah dirinya diterima di Program Doktor Ilmu Hukum UMS.
Untuk penelitiannya, Marita mengumpulkan data dan melakukan wawancara di Indonesia serta Kolombia. Ia membandingkan sejumlah proyek pembangunan dengan karakteristik serupa, termasuk pembangunan kawasan pesisir dan proyek waduk.
“Komparasinya harus apple to apple. Jadi, di Indonesia ada proyek yang dibandingkan dengan proyek di Kolombia. Dari sana harus ditemukan persamaan, perbedaan, dan permasalahannya, kemudian dikaitkan dengan teori,” jelasnya.
Ingin Hubungkan UMS dan Kolombia
Pengalaman selama berada di Kolombia juga membuat Marita melihat peluang memperkuat hubungan Indonesia dan Kolombia melalui pendidikan serta kebudayaan.
Ia berharap hubungan akademik kedua negara dapat terus berkembang meskipun kelak tugas diplomatik suaminya di Kolombia berakhir.
“Saya berharap bisa terus berlanjut. Bukan hanya di negara tempat suami saya bertugas saat ini, tetapi juga di negara-negara lain yang pernah kami tempati,” katanya.
Menurut Marita, sejumlah masyarakat dan perguruan tinggi di Kolombia menunjukkan ketertarikan terhadap Indonesia, termasuk budaya yang dimiliki Indonesia.
Karena itu, ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi pintu bagi UMS untuk memperluas jejaring internasional.
“Sebagai alumni UMS, saya berharap bisa terus berkontribusi. Salah satunya memperkenalkan UMS melalui pengalaman yang saya miliki,” ujarnya.
Rektor UMS: Ilmu Harus Diamalkan
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menekankan bahwa ilmu yang diperoleh lulusan harus berujung pada kemanfaatan bagi masyarakat.
Menurut Harun, ilmu dalam perspektif UMS tidak berhenti pada humanisasi dan liberasi, tetapi juga mengarah pada transendensi.
“Hakikat ilmu bukan hanya untuk pembebasan dari kebodohan dan bukan hanya untuk nilai-nilai human. Hakikat ilmu adalah transendensi yang di dalamnya mampu memberikan kemanfaatan supaya ilmu itu diamalkan,” tutur Harun.
Pesan tersebut sejalan dengan harapan Marita setelah meraih gelar doktor. Ia menegaskan bahwa capaian akademiknya bukanlah akhir dari perjalanan belajar.
“Keinginan saya tidak hanya sekadar gelar dan sudah selesai. Saya ingin belajar dan terus belajar, ingin membagi ilmu, kemudian ingin berkiprah dan berkontribusi,” pungkasnya. (*)

