32.9 C
Jakarta

Tak ada Kata Sembuh untuk Kanker, Ini Cara Efektif Hindari Kekambuhan

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Tidak ada kata ‘sembuh’ untuk penyakit kanker. Karena sejatinya pengobatan kanker baik dengan operasi, radiasi, maupun kemoterapi sifatnya hanya menembak markas besar kanker yang ditemukan pada tubuh pasien kanker.

“Operasi, radiasi ataupun kemoterapi pada dasarnya tidak dapat mengeradikasi (memusnahkan) seluruh sel kanker. Begitu juga dengan antibodi & gene targeted therapy. Karena itu akan selalu ada sisa sel kanker, dan sebagian dari sisa sel kanker tersebut resisten terhadap obat,” kata Dr. dr. Karina, SpBK-RE, Pendiri Yayasan Hayandra Peduli di sela Ngopi Bareng Dokter Karina, Kamis (6/2/2020).

Sel kanker yang tidak terdeteksi inilah yang siap tumbuh dan berkembang menjadi kanker lagi. Karena itu seringkali seorang penderita kanker dihadapkan pada kenyataan ‘kambuh’ lagi kankernya, atau muncul kanker ditempat lain.

“Saya mengutip pendapat Prof. A. Shimosaka PhD dari Jepang bahwa meski hanya satu sel, kanker bisa saja membunuhmu,” lanjut Karina.

Seorang pasien dinyatakan “sembuh”, adalah bila sistim imun (pertahanan tubuh) pasien dapat memusnahkan sisa sel kanker. Namun secara teori, satu sel kanker saja dapat berkembang biak cukup banyak untuk membunuh pasien.

Bila sel kanker tidak dapat dimusnahkan oleh sel imun, akan terjadi relaps/rekurens. Waktu utk relaps/rekurensnya suatu penyakit kanker bergantung dari banyaknya sisa sel kanker dan waktu bagi sel kanker untuk memperbanyak diri (doubling time).

Itu mengapa Karina menyarankan selain melakukan pemeriksaan rutin pasca dokter menyatakan pasien ‘bersih’ dari kanker, penting bagi pasien menjaga daya imunitas tubuh. Dengan imun yang baik, maka sisa sel-sel kanker yang mungkin tersembunyi bisa diperangi sehingga tidak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

“Jadi kata kuncinya adalah meningkatkan imunitas tubuh pasien untuk memerangi sel kanker yang bersisa,” tambahnya.

Meningkatkan imun atau daya tahan tubuh pasien bisa dengan berbagai cara. Antara lain menjaga asupan makan dengan tidak mengonsumsi jenis makanan pemicu kanker, atau makanan yang mengandung radikal bebas. Karena radikal bebas akan membuat tubuh kekurangan oksigen yang dibutuhkan sel baik.

Asupan protein yang cukup, konsumsi buah dan sayur, akan membantu tubuh memproduksi sel imun. Demikian juga paparan sinas matahari yang banyak mengandung vitamin D sangat penting untuk membuat sel baik bisa hidup nyaman di tubuh.

Selain pola makan, penting juga olahraga rutin. Aktivitas fisik secara rutin akan membuat asupan oksigen pada tubuh kita menjadi lancar dan itu akan membuat sel-sel baik menjadi hidup nyaman. Jika sel merasa nyaman, maka ia bisa bekerja melindungi tubuh.

“Kalau asupan oksigen kurang, maka sel bisa kolaps, ngambek, nggak mau kerja,” tukas Karina.

Untuk membantu pasien kanker mendapatkan daya imunitas yang baik, Klinik Hayandra lanjut Karina memiliki teknologi baru berupa ICT atau Immune Cell Therapy. Ini adalah terapi pendukung dalam terapi kanker dan gangguan imunitas lainnya, yang memanfaatkan sel imun (pertahanan/kekebalan) tubuh, yaitu sel T, sel NK, sel NKT, dan sel lainnya.

“Sel-sel ini secara alamiah di dalam tubuh kita,  berguna untuk menyerang sel kanker baik secara langsung ataupun tidak langsung,” jelas Karina.

Prinsip dari terapi ini adalah meningkatkan sistim imun tubuh pasien dengan memperbanyak jumlah sel imun dari tubuh pasien sendiri (autologus), kemudian mengaktivasi, dan menginfuskannya kembali ke tubuh pasien.

ICT secara umum dapat dipakai untuk pertama, pencegahan terjadinya berbagai kanker solid/padat, diantaranya kanker otak, kanker tenggorokan, kanker paru, kanker hati, kanker payudara, kanker rahim, kanker serviks, kanker usus, kanker prostat, kanker ginjal, dan lain-lain.

Kedua untuk pendukung terapi standar kanker yang sudah umum diketahui (operasi, kemoterapi, radiasi)

Teknologi ICT yang diambil dari Jepang ini, diakui Karina, sudah melalui proses validasi tehnik selama 2 tahun untuk mencapai tingkat kesesuaian tertinggi bagi masyarakat Indonesia.

Terapi ICT diawali dengan melakukan pengambilan darah pasien sebanyak kurang lebih 60 cc, diikuti dengan proses pembiakan & aktivasi selama 2 minggu, lalu diinfuskan kembali ke pasien selama sekitar 1 jam.

Tubuh manusia rata-rata memiliki sel antara 60 triliun hingga 100 triliun sel. Dari triliunan sel tersebut tentu tidak semua baik, tidak semua sehat dan cerdas. Satu atau dua sel saja yang ‘sakit’ maka akan bisa memicu seluruh tubuh menjadi terkena imbasnya.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!