23.9 C
Jakarta

Terapi bagi Penderita Kanker Payudara

Baca Juga:

Wanita yang menemukan gejala seperti adanya benjolan, nyeri tulang, nyeri dada, sesak, nyeri perut, dan sakit kepala menetap, maka perlu waspada. Jika dilakukan pemeriksaan dan terdiagnosa kanker payudara, maka harus segera diterapi. Semakin dini terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil sembuh. Demikian ungkap dr. Aris Ramdhani, Sp. B dari RSUI.

Terapi yang dilakukan pada kanker payudara adalah operasi. Operasi akan mengeliminasi sumber kanker yang berpotensi melepaskan anak sebarnya. Syarat operasi ini, kanker tersebut masih resectable atau tidak ada penyebaran yang meluas.

Pada kanker yang sifatnya invasif, tindakan operasi saja tidak cukup. Ini karena ada ancaman penyebaran kanker ke organ-organ tubuh lainya. Oleh karena itu, perlu penanganan lebih dengan terapi tambahan (adjuvan). Terapi tambahan ini bersifat sistemik yang akan mengenai seluruh organ di tubuh. Contoh terapi sistemik yaitu kemoterapi. Ini dilakukan sebelum terapi utamanya (neoadjuvant), operasi. Tujuannya  untuk mengecilkan ukuran kanker dan mencegah timbulnya penyebaran serta meningkatkan angka harapan hidup pasien.

Aris Ramdhani menyebutkan beberapa jenis pilihan operasi kanker payudara, yaitu pertama, mastektomi. Cara ini dengan mengangkat seluruh jaringan payudara. Umumnya disertai pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak.

Kedua, Breast Conserving Surgery, yaitu tindakan pengangkatan kankernya saja, tidak mengangkat seluruh jaringan payudara. Syaratnya ini, batas sayatan yang ditinggalkan bebas kanker dan selanjutnya wajib dilakukan terapi radiasi.

Ketiga, onkoplasti yaitu upaya rekonstruksi payudara, dengan tujuan mengisi rongga yang ditinggalkan dan membentuk kembali payudara.

Opsi terapi lain pada kanker payudara yaitu terapi non pembedahan. Ada yang bersifat lokal dengan radioterapi dan bersifat sistemik seperti kemoterapi.

Aris Ramdhani mengingatkan pada pasien yang melakukan pengobatan dengan obat-obatan herbal. Karena obat-obatan tersebut belum lulus uji klinis. Menurutnya, hal itu hampir tidak membantu, malah memperlambat penanganan kesembuhannya. Bahkan ada obat herbal yang dicampur dengan obat kemoterapi. Hal ini sangat berbahaya. Jadi, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan tenaga medis yang ahli.

 

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!