34.6 C
Jakarta

UMS Kembangkan Greenhouse Hidroponik Tenaga Surya di Sukoharjo

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Tim dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengembangkan model pertanian terpadu berbasis greenhouse hidroponik yang memanfaatkan energi surya untuk mendukung kemandirian pangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur di Desa Kudu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

 

Program pengabdian masyarakat tersebut menyasar persoalan yang selama ini dihadapi KWT Subur Makmur, terutama ketergantungan terhadap listrik PLN untuk mengoperasikan pompa air serta kapasitas produksi sayuran hidroponik yang masih terbatas.

 

Kegiatan bertajuk “Pertanian Terpadu Berbasis Greenhouse Hidroponik Tenaga Surya untuk Kemandirian Pangan Kelompok Wanita Tani Desa Kudu, Sukoharjo” itu dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Kudu, Jumat (7/8/2026).

 

Sebanyak 30 anggota KWT Subur Makmur bersama perangkat desa dan sejumlah pihak terkait mengikuti kegiatan tersebut.

 

Ketua tim pengabdian, Dewi Novita Sari, S.Si., M.Sc., dosen Fakultas Geografi UMS, mengatakan penerapan teknologi energi surya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional budidaya hidroponik.

 

“Program ini bertujuan untuk mengembangkan model pertanian terpadu berbasis greenhouse hidroponik yang terintegrasi dengan energi surya. Kami ingin meningkatkan kapasitas produksi sayuran hidroponik sekaligus menekan biaya operasional yang selama ini menjadi kendala utama mitra,” ujar Dewi, Senin (10/8/2026).

 

Program tersebut berfokus pada komoditas sayuran hidroponik, khususnya selada dan pakcoy, yang selama ini telah dikembangkan KWT Subur Makmur.

 

Terintegrasi dengan Maggot dan Pupuk Organik

 

Tidak hanya mengembangkan greenhouse hidroponik, tim dosen UMS juga menerapkan konsep pertanian terpadu atau integrated farming.

 

Sistem tersebut mengintegrasikan budidaya maggot, komposter untuk menghasilkan Pupuk Organik Cair (POC), serta tanaman pendukung dalam satu kesatuan sistem produksi.

 

Limbah organik rumah tangga dan kotoran ternak dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot sekaligus bagian dari pengelolaan sumber bahan organik. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi limbah sekaligus menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

 

Dewi menjelaskan, program tersebut sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau.

 

Program juga diarahkan untuk mendukung Asta Cita ke-6 tentang pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, serta agenda riset nasional di bidang pangan dan pertanian.

 

Dorong Petani Beradaptasi

 

Kolaborasi dalam program tersebut melibatkan Dr. Ir. Sri Hartati, M.P., dari Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara, serta Ir. Subroto, M.T., dan Ir. Sartono Putro, M.T., dari Fakultas Teknik UMS.

 

Sri Hartati menilai perubahan fungsi lahan pertanian menjadi permukiman dan kawasan industri membuat ketersediaan lahan produktif semakin terbatas. Kondisi tersebut menuntut petani mengadopsi metode budidaya yang lebih efisien.

 

“Perubahan lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri membuat lahan produktif semakin terbatas. Ke depan, sistem penanaman juga harus berbeda. Oleh karena itu, petani harus belajar hidroponik agar tetap bisa berproduksi meskipun di lahan yang sempit,” ujar Sri Hartati.

 

Menurut dia, kualitas sayuran hidroponik tidak hanya ditentukan oleh sistem instalasi, tetapi juga pengelolaan nutrisi. Karena itu, anggota KWT mendapatkan pelatihan mengenai teknik budidaya, manajemen nutrisi, pemanenan, hingga proses sortasi.

 

Pengetahuan tersebut diberikan agar produk hidroponik yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dan nilai jual yang kompetitif.

 

Gunakan Panel Surya

 

Sementara itu, Ir. Subroto, M.T., selaku koordinator pembuatan alat, mengatakan tim telah melakukan proses perancangan dan pembuatan perangkat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi selama beberapa bulan.

 

Perangkat yang dihibahkan kepada KWT antara lain sistem panel surya, instalasi pompa air tenaga surya, serta komposter untuk pengolahan limbah.

 

Program tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi melalui skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026.

 

Melalui pendampingan dan penerapan teknologi tepat guna tersebut, tim dosen UMS berharap KWT Subur Makmur mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional.

 

Pada akhirnya, pengembangan greenhouse hidroponik berbasis energi surya diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan desa, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi keluarga anggota KWT. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!