34.3 C
Jakarta

UMS Perkuat Identitas Muslim Diaspora di Jepang

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Menjaga identitas keislaman di tengah masyarakat yang mayoritas sekuler menjadi tantangan tersendiri bagi diaspora muslim Indonesia di Jepang. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id merespons tantangan itu dengan memperkuat pemahaman keislaman sekaligus kapasitas gerakan komunitas muslim di Negeri Sakura.

 

Langkah tersebut dilakukan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertajuk “Empowering Muslim Identity: Penguatan Al-Islam, Pemberdayaan, dan Gerakan Muslim di Jepang”.

 

Program yang dimulai pada Sabtu (12/9/2026) itu merupakan kolaborasi UMS dengan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Jepang. Kegiatan juga melibatkan Forum Komunikasi Muslim Indonesia Tsukuba (FKMIT) dan Silaturahmi Keputrian (Siput), dua komunitas muslim Indonesia yang berkembang di Jepang.

 

FKMIT beranggotakan pelajar, mahasiswa, peneliti, pekerja, hingga keluarga Indonesia yang berdomisili di wilayah Tsukuba. Sementara Siput memiliki jejaring anggota di berbagai wilayah Jepang.

 

Ketua Tim PkM-KI UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., mengatakan penguatan identitas muslim tidak cukup hanya dilakukan melalui pemahaman agama. Komunitas juga perlu memiliki kapasitas organisasi dan kemampuan berkontribusi di tengah masyarakat Jepang.

 

“Menjadi muslim di Jepang memerlukan kolaborasi untuk menghadapi tantangan yang beragam. Perlu juga menyiapkan strategi penguatan kapasitas kader PCIA Jepang dalam mengelola organisasi serta menggerakkan program-program sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan komunitas,” ujar Mahasri, Senin (14/9/2026).

 

Menurut dia, penguatan Al-Islam menjadi salah satu fondasi utama. Pemahaman keislaman yang kuat diharapkan membantu diaspora muslim menjaga keimanan dan integritas moral tanpa kehilangan identitas sebagai muslim Indonesia.

 

Namun, identitas tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat komunitas muslim berjalan eksklusif. Sebaliknya, diaspora muslim didorong mampu berinteraksi secara positif dan memberikan kontribusi bagi lingkungan sosialnya.

 

Mahasri mengajak warga dan kader muslim Indonesia di Jepang untuk mengambil peran sebagai duta Indonesia sekaligus duta Islam. Peran itu diwujudkan dengan membawa semangat rahmatan lil ‘alamin, berbaur secara hangat, serta aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

 

“Menjadi Muslim yang kokoh identitasnya dan luas manfaatnya,” menjadi semangat yang diusung dalam forum tersebut.

 

Bagi Mahasri, penguatan identitas keislaman harus bermuara pada aksi nyata. Akidah yang kokoh menjadi modal bagi komunitas muslim untuk tampil percaya diri, berprestasi, sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar.

 

Karena itu, kegiatan PkM-KI tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ruang silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk merumuskan gerakan yang relevan dengan kebutuhan muslim Indonesia di Jepang.

 

UMS dan PCIA Jepang juga mendorong keberlanjutan kolaborasi tersebut. Sinergi yang konsisten diharapkan melahirkan inovasi dakwah kultural yang adaptif sekaligus memperkuat kontribusi kemanusiaan komunitas muslim Indonesia di tingkat internasional.

 

Dengan pendekatan tersebut, penguatan identitas muslim tidak berhenti pada upaya mempertahankan jati diri. Lebih jauh, identitas keislaman diharapkan menjadi energi untuk membangun komunitas yang mampu beradaptasi, berkontribusi, dan membawa manfaat di tengah masyarakat Jepang. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!