SOLO, MENARA62.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id di kancah internasional. Tim mahasiswa lintas program studi berhasil membawa pulang medali emas dalam ajang Malaysia Technology Expo (MTE) 2026, sekaligus meraih Special Award dari Chinese Innovation and Invention Society (CIIS) Taiwan.
Kompetisi bergengsi tersebut digelar di World Trade Centre Kuala Lumpur pada 9-11 April 2026 dan diikuti oleh inovator dari berbagai negara. Dalam ajang ini, tim UMS tampil dengan karya inovatif berjudul “PERMATA (Pendidikan Resiliensi Mental Anak Tangguh): Smart Resilience Ecosystem for Children From Prevention to Post-Traumatic Growth”.
Ketua tim, Taufik Imansyah, menjelaskan bahwa PERMATA dikembangkan sebagai platform digital untuk membantu pemulihan mental anak pasca-bencana. Inovasi ini lahir dari realita bahwa dampak bencana tidak hanya merusak secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang seringkali tidak terlihat. Data yang diangkat dalam pengembangan menunjukkan bahwa trauma seperti PTSD, kecemasan, hingga gangguan perilaku masih menjadi tantangan serius pada anak-anak pasca bencana.
“Berangkat dari masalah tersebut, PERMATA hadir dengan pendekatan yang berbeda. Platform ini memadukan psikologi klinis, teknologi AI, serta kearifan lokal, sehingga mampu menjangkau anak-anak dengan cara yang lebih dekat dan relevan dengan kehidupan mereka,” jelas Taufik, Ahad (19/4).
Salah satu keunggulan utama PERMATA terletak pada fitur geo-cultural tagging. Sistem secara otomatis menyesuaikan bahasa, tampilan, dan nilai budaya sesuai lokasi pengguna. Misalnya, pengguna di Aceh akan mendapatkan nuansa lokal Aceh, sementara di Sumatera Barat akan menampilkan elemen budaya Minangkabau. Pendekatan ini dinilai penting karena membantu anak merasa lebih aman, dekat, dan tidak terasing dalam proses pemulihan.
Selain itu, PERMATA dilengkapi fitur tele-screening berbasis AI yang memungkinkan pengguna melakukan deteksi awal kondisi mental hanya dengan menjawab beberapa pertanyaan sederhana. Hasilnya memberikan gambaran tingkat stres, kecemasan, hingga depresi, yang kemudian dapat menjadi dasar untuk tindak lanjut, termasuk rekomendasi bantuan profesional jika diperlukan.
Fitur lainnya adalah AI Mental Support Companion, sebuah chatbot yang dirancang sebagai teman bercerita bagi anak. Tidak seperti sistem diagnosis, fitur ini lebih berperan sebagai pendamping emosional yang aman dan fleksibel, sehingga anak dapat mengekspresikan perasaannya tanpa tekanan.
Di sisi edukasi, PERMATA menghadirkan konsep gamifikasi pembelajaran melalui berbagai fitur interaktif, seperti game kesiapsiagaan bencana, latihan refleksi diri, hingga simulasi pengambilan keputusan dalam situasi darurat. Salah satu fitur unggulan, Pinch and Drop, memungkinkan pengguna berinteraksi langsung menggunakan gerakan tangan untuk memilih barang penting saat kondisi darurat, menjadikan proses belajar terasa lebih nyata dan menyenangkan.
Tak hanya itu, fitur Mood and Food Analyzer berbasis AI juga menjadi nilai tambah, di mana pengguna dapat memindai makanan untuk mengetahui kaitannya dengan kondisi emosional. Pendekatan ini membantu anak memahami hubungan antara pola makan dan suasana hati secara sederhana namun bermakna.
Seluruh fitur dalam PERMATA dirancang dalam satu ekosistem yang saling terhubung, mulai dari deteksi, edukasi, hingga pendampingan. Konsep ini sejalan dengan tujuan utama PERMATA, yaitu mendorong anak tidak hanya pulih dari trauma, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih tangguh (post-traumatic growth).
Taufik Imansyah, juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kekompakan tim dalam mengembangkan ide menjadi sebuah inovasi nyata.
“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh keluarga besar PERMATA. Tanpa dedikasi mereka, ide yang awalnya sederhana ini tidak akan pernah terwujud menjadi sebuah ekosistem yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang,” ungkap Taufik.
Pesan saya sederhana, lanjutnya, teruslah belajar dan membaca. Menurutnya, fiksi mengajarkan empati, sementara nonfiksi memberikan alat untuk mengubah dunia.
“Jangan pernah takut dengan hal-hal yang menantang, karena di situlah cara berpikir kita ditempa. Seberapapun besar sebuah ide, semuanya selalu dimulai dari langkah kecil. Lakukan riset, bangun teknologinya, dan pilih orang-orang terbaik untuk berjalan bersama. Karena pada akhirnya, inovasi yang hebat lahir dari tim yang solid, bahkan terasa seperti keluarga,” pesannya.
Keberhasilan meraih Gold Medal dan Special Award ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMS mampu bersaing di tingkat internasional dengan membawa inovasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.
Shandy Yusril Fadlullah juga mengungkapkan bahwa keberhasilan ini lebih dari sekadar prestasi. Baginya capaian ini menjadi langkah awal bagi pengembangan PERMATA ke tahap yang lebih luas, baik sebagai platform edukasi, program intervensi berbasis sekolah, hingga potensi pengembangan menjadi solusi digital yang dapat diimplementasikan secara nasional.
“Inovasi bukan hanya soal teknologi canggih, tapi tentang bagaimana solusi itu benar-benar bisa dirasakan manfaatnya. PERMATA adalah awal dari langkah itu,” tutupnya dengan penuh optimisme.
Tim ini terdiri dari Taufik Imansyah (Psikologi UMS), Yuanda Eka Saputra (Pendidikan Teknik Informatika UMS), Asterika Indah Nuraini (Ilmu Gizi UMS), Mutiah Hanif Nur Afifah (Psikologi UMS), Shandy Yusril Fadlullah (Pendidikan Teknik Informatika UMS), serta Muhammad Farid Romadhoni Alqodr (Teknik Informatika UMS). Mereka mendapatkan bimbingan dari Wisnu Sri Hertinjung, S.Psi., M.Psi. Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan solusi yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga memiliki pendekatan psikologis dan sosial yang kuat. (*)
