34.1 C
Jakarta

2.070 Siswa Ramaikan Jambore Pandu Athfal Boyolali

Baca Juga:

BOYOLALI, MENARA62.COM — Sebanyak 2.070 siswa dari sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah mengikuti Jambore Daerah (JAMDA) Pandu Athfal Hizbul Wathan ke-VIII di Lapangan Pandeyan, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Sabtu (5/9/2026).

 

Jambore tersebut resmi dibuka Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Boyolali, Drs. KH Ali Muhson. Pembukaan berlangsung meriah dengan dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) Ngemplak, Kwartir Daerah Hizbul Wathan Boyolali, pimpinan Muhammadiyah, para pembina, serta tamu undangan.

 

JAMDA Pandu Athfal ke-VIII diikuti 91 Qobilah dari SD/MIM se-Kabupaten Boyolali. Sebanyak 138 tenda didirikan untuk mendukung kegiatan yang menjadi salah satu agenda besar pembinaan kepanduan di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah tersebut.

 

Keikutsertaan puluhan Qobilah ini menunjukkan kuatnya perhatian sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah terhadap pendidikan kepanduan sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

 

Di Kabupaten Boyolali sendiri tercatat terdapat 102 satuan pendidikan yang menjadi basis kepanduan di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Jumlah tersebut terdiri atas 101 SD/MIM dan satu SD Aisyiyah.

 

Tekankan Adab di Atas Ilmu

 

Dalam sambutannya, Ali Muhson menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual. Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk generasi yang memiliki adab, akhlak, dan karakter.

 

Ia mengutip prinsip “Al-Adabu Fauqal ‘Ilmi”, yang bermakna adab berada di atas ilmu.

 

Adab lebih penting daripada kecerdasan. Apa artinya cerdas kalau tidak punya adab?” tegas Ali Muhson.

 

Karena itu, ia mendorong peserta JAMDA Pandu Athfal untuk tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menunjukkan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Jadilah kader yang beradab. Jadilah kader yang berkarakter karimah,” pesannya.

 

Pesan tersebut menjadi salah satu ruh utama kegiatan kepanduan Hizbul Wathan. Melalui aktivitas di alam terbuka, peserta didorong untuk belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab, bekerja sama, berani mengambil keputusan, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

 

Bukan Sekadar Jambore

 

Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Hizbul Wathan Boyolali, Mustamik, M.Pd., mengatakan JAMDA Pandu Athfal menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan kepanduan di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah.

 

Menurutnya, jambore bukan sekadar ajang berkumpul dan bersilaturahmi. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar, berlatih, berkompetisi, sekaligus membangun persaudaraan.

 

Dengan jumlah peserta yang mencapai 2.070 siswa dan dukungan 138 tenda, JAMDA Pandu Athfal ke-VIII menjadi momentum strategis untuk memperkuat pembinaan kader kepanduan sejak usia dini di Kabupaten Boyolali.

 

Apresiasi juga disampaikan Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Boyolali, Pujiono.

 

Ia berharap JAMDA mampu menjadi ruang pembentukan karakter yang melahirkan kader Muhammadiyah masa depan dengan mental tangguh dan kepribadian yang baik.

 

“Semoga kegiatan ini menjadi ruang pembentukan karakter anak-anak kita, melahirkan kader yang tangguh, mandiri, beradab, berakhlak karimah, dan siap menjadi generasi penerus Muhammadiyah,” ungkap Pujiono.

 

JAMDA Pandu Athfal Hizbul Wathan ke-VIII akhirnya tidak sekadar menjadi agenda kepanduan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah Boyolali membangun generasi yang mampu menyeimbangkan ilmu, adab, keterampilan, kemandirian, dan karakter.

 

Dari Lapangan Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, ribuan peserta membawa semangat yang sama: menjadi Pandu Athfal yang cerdas, terampil, disiplin, mandiri, berkarakter, dan berakhlak karimah. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!