SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan kisah inspiratif alumninya melalui program UMS Talk Podcast. Kali ini, podcast menghadirkan Asri Hartanti, S.Pd., alumni Pendidikan Bahasa Inggris UMS asal Wonogiri yang dikenal luas melalui konten kesehariannya mengajarkan bahasa Inggris secara sederhana dan kontekstual di media sosial.
Asri Hartanti tercatat sebagai mahasiswa UMS angkatan 1999 dan lulus pada 2003. Ketertarikannya pada bahasa Inggris bermula sejak bangku sekolah dasar, saat ia terinspirasi oleh sepupunya yang mampu bernyanyi menggunakan bahasa Inggris. Meski berasal dari desa, ketertarikan itu tumbuh menjadi passion yang akhirnya membawanya menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris di UMS.
“Awalnya belajar bahasa Inggris itu kacau, pernah sedih juga. Tapi dari situ saya belajar bahwa bahasa itu bukan akidah. Salah bisa diperbaiki,” ujar Asri, Senin, (5/1).
Meski berlatar belakang pendidikan guru, Asri mengaku awalnya tidak membayangkan dirinya menjadi pendidik. Ia justru bercita-cita menjadi pemandu wisata. Namun, jalan hidup membawanya menjadi guru bahasa Inggris di sekolah swasta hingga akhirnya kini berstatus guru ASN melalui jalur PPPK.
Pandemi 2020 menjadi titik balik bagi Asri untuk mulai aktif membuat konten edukasi bahasa Inggris di media sosial. Berawal dari keinginannya membiasakan berbicara bahasa Inggris demi mengajarkan anaknya di rumah, Asri memilih membuat konten sebagai sarana latihan sekaligus berbagi.
“Motivasi utama saya anak. Saya ingin bahasa Inggris jadi investasi masa depan mereka,” ungkapnya.
Konten-konten Asri dikenal natural dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti mengajarkan kalimat sederhana saat berbelanja di minimarket atau beraktivitas di rumah. Menurutnya, tantangan terbesar belajar bahasa Inggris bukan pada kemampuan, melainkan rasa takut salah dan takut dihakimi.
“Sekarang ini sudah 2025. Tidak punya partner itu bukan alasan. Bisa latihan dengan AI, teman medsos, atau sendiri. Just do it. Jangan takut grammar cops,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa koreksi tata bahasa sebaiknya dilakukan dengan empati. Terlalu sering mengoreksi justru bisa mematikan semangat belajar. “Tidak semua orang nyaman dikoreksi terus-menerus. Kalau belum diminta, biarkan dulu,” tambahnya.
Dalam podcast tersebut, Asri juga membagikan tips belajar kosakata secara efektif, yakni dengan menghindari penerjemahan langsung ke bahasa Indonesia. Ia menyarankan menggunakan gambar atau kamus Inggris–Inggris agar otak terbiasa berpikir dalam bahasa Inggris, bukan menerjemahkan.
Asri mengakui lingkungan kampus UMS sangat berperan dalam membangun kefasihannya berbahasa Inggris. Ia bahkan menyebut mulai merasa lancar setelah tiga semester kuliah karena lingkungan yang mendukung untuk praktik.
“Manfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Setelah lulus, belum tentu lingkungannya mendukung untuk latihan,” pesannya kepada mahasiswa UMS.
Hingga kini, Asri tetap konsisten menjalani peran ganda sebagai guru dan konten kreator. Ia mengaku tidak memiliki ambisi besar selain terus mengajar dan berbagi melalui konten edukatif.
“Saya ingin tetap jadi guru dan terus bikin konten. Itu saja,” pungkasnya. (*)
