KEPULAUAN SERIBU, MENARA62.COM – Di usia yang baru menginjak 23 tahun, Sunny Alfiyanto telah mengambil tanggung jawab yang tidak ringan, sebagai pembina asrama SMKN 61 Jakarta. Selama 24 jam ia mendampingi 188 taruna dan taruni menjalani aktivitas sehari-hari mulai dari bangun tidur, makan hingga sekolah dan kegiatan tambahan lain.
Karena tugas dan pengabdiannya, mengharuskan Sunny tinggal di Pulau Tidung Besar, Kepulauan Seribu. Bagi Sunny ini bukan masalah ringan, karena ia harus hidup jauh dari orang tua juga kekasih hatinya di kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat, demi mengejar cita-cita di dunia kemaritiman.
“Ya, saya harus meninggalkan tempat kelahiran dan tinggal di sini di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Saya pulang ke Kemayoran tiga bulan sekali,” kata Sunny dijumpai di Pulau Tidung di sela kunjungan praktik baik tim BKHM Kemendikdasmen dan Fortadik pada Kamis (25/6/2026).
Menjalani profesi sebagai pembina asrama, bagi Sunny adalah hal baru. Sebuah profesi yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Meski demikian ia mudah beradaptasi dengan profesinya tersebut.
Ia menganggap, asrama bukan sekadar tempat tinggal. Asrama adalah ruang pembentukan karakter, tempat para remaja belajar mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan hidup berdampingan dengan orang lain.
“Anak-anak yang masuk ke asrama ini baru lulus SMP. Mereka sedang berada di masa transisi. Awalnya masih ingin bermain, lalu tiba-tiba harus hidup mandiri jauh dari orang tua. Di sinilah mereka membutuhkan penyesuaian karakter,” ujarnya.
Selain membangun kedisiplinan, para penghuni asrama juga didorong mengembangkan kreativitas sesuai bakat masing-masing. Berbagai kegiatan seperti pentas seni, malam inaugurasi, bakti sosial, membersihkan rumah ibadah hingga aksi bersih pantai menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan.
Menariknya, seluruh kegiatan tersebut dirancang dan dikelola sendiri oleh para taruna dan taruni. Mereka menyusun proposal kegiatan secara rinci, mulai dari jadwal pelaksanaan, lokasi, hingga teknis pelaksanaan. Setelah mendapat persetujuan dari pembina, rencana tersebut diajukan kepada kepala sekolah untuk memperoleh izin pelaksanaan.
“Semua dikelola oleh anak-anak sendiri. Mereka belajar memimpin, bertanggung jawab, sekaligus belajar membuat sebuah kegiatan dari awal sampai selesai,” kata Sunny.
Perjalanan Sunny menjadi pembina bukanlah sebuah kebetulan. Ia merupakan alumni angkatan pertama penghuni asrama SMKN 61 Jakarta.
Setelah lulus dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang pada 2023, ia dipanggil kembali oleh sekolah untuk menjadi instruktur dalam program Masa Dasar Pembinaan Fisik dan Mental (Madabintal). Pengalamannya sebagai anggota Paskibraka Kabupaten Kepulauan Seribu tahun 2018 serta Dewan Kerja Daerah Gerakan Pramuka DKI Jakarta periode 2019–2024 menjadi bekal penting dalam mendidik para taruna.
“Saya memang tertarik di bidang pembinaan karakter. Sebelum menjadi pembina di sini, saya juga membina anggota Pramuka dan Paskibraka,” tuturnya.
Sebagai alumni, Sunny memahami betul kehidupan di asrama. Pengalaman itulah yang membuatnya berusaha memperbaiki berbagai sistem pembinaan.
Salah satu perubahan yang paling dirasakan adalah tersedianya kapal sekolah sebagai transportasi bagi siswa yang menjalani jadwal pulang atau “pesiar”. Dahulu, para penghuni asrama harus bergantung pada jadwal kapal umum sehingga tidak selalu dapat pulang sesuai keinginan.
“Kalau dulu kami harus menunggu apakah ada kapal atau tidak. Sekarang sudah difasilitasi sehingga jauh lebih baik,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama terkait kondisi bangunan dan fasilitas asrama yang memerlukan perawatan. “Bangunannya memang masih perlu perhatian. Tetapi kami tetap berusaha agar pendidikan karakter berjalan maksimal dengan fasilitas yang ada,” ujarnya.
Saat ini, asrama dihuni 188 siswa dari berbagai tingkat, terutama jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI), Nautika Kapal Niaga (NKN), dan Teknika Kapal Niaga (TKN). Seluruh biaya tinggal di asrama digratiskan, sementara siswa hanya membayar kebutuhan makan dengan kisaran Rp550.000 hingga Rp850.000 per bulan.
Menurut Sunny, sistem pembinaan yang diterapkan selama ini sebenarnya telah sejalan dengan standar pendidikan karakter yang kini menjadi bagian dari program sertifikasi internasional di sekolah tersebut. “Yang kami lakukan sebenarnya sudah berjalan sejak dulu. Tinggal memaksimalkan apa yang sudah ada,” jelasnya.
Di balik tugas yang dijalani selama 24 jam bersama para siswa, Sunny mengaku memperoleh pengalaman hidup yang sangat berharga. “Saya belum berkeluarga, tetapi di sini saya belajar bagaimana merawat dan membimbing anak-anak seperti keluarga sendiri. Ini menjadi bekal bagi saya ketika nanti memiliki keluarga,” katanya.
Tentu ada pengorbanan yang harus dijalani. Ia harus tinggal jauh dari keluarga di Kemayoran, Jakarta Pusat, bahkan rela mengurangi waktu bersama orang-orang terdekat.
Namun, semua itu terbayar ketika melihat perubahan para taruna yang semakin percaya diri, disiplin, dan mandiri.
Bagi Sunny, keberhasilan seorang pembina bukan diukur dari kerasnya aturan yang diterapkan, melainkan dari kemampuan menghadirkan lingkungan yang membuat para siswa tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berkarakter, dan siap menghadapi dunia kerja maupun kehidupan di masa depan.
Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, asrama SMKN 61 Jakarta terus menjadi rumah kedua bagi para taruna. Di tempat sederhana itu, karakter dibentuk, mimpi dipupuk, dan masa depan mulai disiapkan—satu langkah kecil setiap harinya.
Alif, siswa kelas X SMKN 61 Jakarta asal Cipayung Jakarta Timur mengaku senang bisa tinggal di asrama. Meski hanya diizinkan ‘pesiar’ alias mudik sebulan sekali, namun Alif sangat menikmati.
“Saya belajar hidup mandiri di asrama ini. Jauh dari orang tua, jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta,” katanya.
Dengan suasana belajar di tengah lautan, Alif berujar, bisa lebih fokus belajar dan relatif tidak banyak godaan untuk nongkrong. “Kalau mau nongkrong paling mancing atau duduk di pinggir pantai,” katanya.
Ia sendiri memang bercita-cita menjadi anak buah kapal (ABK) kapal-kapal berbendera internasional. Karena itu, SMKN 61 Jakarta menjadi sekolah yang dipilih untuk mewujudkan cita-citanya.
“Alhamdulillah sekarang tak sekadar menjadi ABK, bahkan bisa jadi nahkoda kapal internasional. Saya senang,” tutup Alif.
