30 C
Jakarta

Istiqamah Ibadah Ramadan Ditekankan di Masjid Raya Fatimah

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Keistiqamahan dalam beribadah selama bulan suci Ramadan menjadi pesan utama dalam kultum tarawih di Masjid Raya Fatimah, Sabtu (7/3/2026). Dalam ceramahnya, Ust. M. Iqbal Tantowi mengajak jamaah menjaga konsistensi ibadah hingga akhir Ramadan serta memanfaatkan waktu-waktu mustajabah untuk berdoa.

 

Menurutnya, Ramadan merupakan momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah, salah satunya dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Ia mendorong jamaah menargetkan khatam Al-Qur’an dua hingga empat kali selama Ramadan sebagai bentuk kedekatan dengan kitab suci.

 

“Target khatam Al-Qur’an dua sampai empat kali bisa menjadi kebahagiaan spiritual tersendiri bagi seorang muslim,” ujar Iqbal di hadapan jamaah.

 

Selain itu, ia menyarankan jamaah membuat catatan atau ceklis salat tarawih selama 29 malam sebagai bentuk muhasabah atau evaluasi diri. Langkah sederhana tersebut, kata dia, dapat membantu menjaga semangat ibadah sekaligus menjadi pengingat agar tetap istiqamah.

 

Iqbal juga menekankan bahwa nilai amal di sisi Allah tidak selalu ditentukan oleh besarnya perbuatan, melainkan oleh keikhlasan. Sedekah kecil sekalipun, lanjutnya, dapat bernilai besar jika dilakukan dengan niat tulus.

 

“Allah Mahaadil. Sedekah kecil yang ikhlas bisa lebih berat di timbangan amal dibanding sedekah besar yang tidak dilandasi keikhlasan,” jelasnya.

 

Dalam ceramah tersebut, ia mengingatkan bahwa godaan beribadah biasanya muncul saat memasuki pertengahan Ramadan. Rasa malas, prasangka buruk, hingga kesulitan bangun sahur menjadi tantangan yang kerap dihadapi umat Islam.

 

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mengimbanginya dengan ikhtiar dan doa. “Doa adalah versi langit, usaha adalah versi bumi. Keduanya harus berjalan bersama,” katanya.

 

Iqbal juga menyoroti pentingnya sahur yang dilakukan dengan niat dan ketenangan (tuma’ninah). Ia menganjurkan umat Islam mengakhirkan waktu makan sahur agar puasa lebih sempurna sekaligus memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa.

 

“Gunakan waktu sahur untuk berdoa dan berinteraksi dengan keluarga. Suasana tenang menjadikan sahur lebih berkah,” ujarnya.

 

Selain itu, ia mengingatkan jamaah agar memilih tempat berbuka puasa yang kondusif dan penuh keberkahan. Lingkungan yang kurang mendukung, seperti tempat ramai yang tidak kondusif untuk ibadah, dinilai dapat mengurangi kekhusyukan.

 

Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadan, Iqbal mengajak umat Islam meningkatkan ibadah, termasuk memperbanyak rukuk, sujud, dan iktikaf. Pada periode tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.

 

Dalam ceramahnya, ia juga membagikan kisah inspiratif seorang mualaf yang tertarik mempelajari Islam setelah mendengar azan subuh dari masjid dekat tempat tinggalnya. Pemuda tersebut kemudian belajar Islam di Masjid Raya Fatimah hingga akhirnya memutuskan memeluk agama Islam.

 

“Kisah ini mengingatkan kita untuk bersyukur atas nikmat Islam dan tidak meremehkan panggilan azan,” ujarnya.

 

Di akhir ceramah, pengurus Masjid Raya Fatimah mengajak jamaah berpartisipasi dalam kegiatan Ramadan, seperti program buka puasa dan sahur bersama. Setiap hari, masjid tersebut menyiapkan sekitar 200 porsi sahur bagi jamaah dan masyarakat yang membutuhkan.

 

Melalui berbagai kegiatan Ramadan tersebut, Masjid Raya Fatimah diharapkan terus menjadi pusat dakwah dan pembelajaran Islam yang menghadirkan suasana ibadah yang hangat, inklusif, dan penuh keberkahan bagi masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!