SOLO, MENARA62.COM – Fenomena El Nino “Godzilla” menjadi perbincangan publik karena dinilai berpotensi membawa dampak besar terhadap iklim di Indonesia. Akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id , Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., menjelaskan bahwa istilah tersebut bukan istilah ilmiah resmi. Menurutnya, “Godzilla” hanya menggambarkan kekuatan El Nino yang sangat besar atau super.
“El Nino merupakan fenomena kenaikan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi ini menyebabkan perubahan tekanan udara yang berdampak pada pergerakan angin global. Akibatnya, wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau menjadi lebih panjang,” ungkapnya yang juga sebagai Guru Besar Program Studi Geografi Fakultas Geografi UMS, Jumat (1/5).
Kuswaji menyebut bahwa fenomena ini memiliki siklus periodik sekitar 5 hingga 7 tahun. Dalam setiap siklus tersebut, intensitasnya bisa berbeda, mulai dari lemah hingga sangat kuat. El Nino “Godzilla” merujuk pada fase terkuat dari siklus tersebut.
Ia menambahkan bahwa pada tahun 2026 terdapat peluang sekitar 70 persen terjadinya El Nino. Fenomena ini diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan tahun. Dampaknya dapat berlangsung hingga akhir tahun dengan intensitas yang belum bisa dipastikan.
“Dampak utama dari El Nino kuat adalah meningkatnya suhu udara dan berkurangnya curah hujan. Kondisi ini berpotensi memicu kemarau panjang di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, musim kemarau yang biasanya berakhir pada Oktober bisa bergeser hingga Desember,” papar Kuswaji.
Dosen UMS itu juga menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih berada dalam masa pancaroba. Peralihan dari angin muson barat ke muson timur menyebabkan cuaca tidak menentu. Hal ini menjadi bagian dari dinamika iklim yang normal terjadi setiap tahun.
Ia juga menekankan bahwa wilayah Indonesia Timur memiliki risiko lebih besar terdampak El Nino. Secara geografis, wilayah tersebut lebih dekat dengan Samudera Pasifik. Akibatnya, intensitas panas dan kekeringan bisa lebih ekstrem dibanding wilayah lain.
Selain kekeringan, dampak lain yang perlu diwaspadai adalah penurunan produksi pertanian. Kekurangan air akan memengaruhi produktivitas padi dan komoditas lainnya. Hal ini dapat berdampak pada ketahanan pangan nasional.
Kuswaji juga mengingatkan adanya potensi gelombang panas. Suhu yang meningkat dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi pihak yang paling berisiko.
“Fenomena ini dipengaruhi oleh posisi geografis Indonesia yang berada di antara dua samudra dan dua benua. Interaksi antara Samudera Hindia dan Pasifik serta Benua Asia dan Australia menciptakan dinamika iklim yang kompleks. Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap anomali cuaca,” tambahnya.
Selain faktor global, perubahan tata guna lahan juga memperparah dampak yang terjadi. Deforestasi dan alih fungsi hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Akibatnya, keseimbangan siklus air menjadi terganggu.
Untuk itu, Kuswaji mengajak masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada. Ia menekankan pentingnya upaya mitigasi seperti penghijauan dan konservasi air. Salah satunya melalui pembuatan biopori dan penyerapan air hujan ke dalam tanah.
Ia juga menegaskan peran perguruan tinggi dalam meningkatkan kesadaran lingkungan. UMS bersama mahasiswa aktif melakukan kegiatan penghijauan dan edukasi. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dampak El Nino “Godzilla”. (*)
