Oleh: Dr. Suyoto, M.Si.
(Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik, Bupati Bojonegoro 2008-2018, dan Rektor UMG 2000-2005)
GRESIK, MENARA62.COM – Setiap bangsa adalah arsitek bagi nasibnya sendiri. Kesadaran ini menuntut kita untuk tidak sekadar terpaku pada pemenuhan kebutuhan dasar materi—sandang, pangan, dan keamanan—tetapi juga keberanian untuk berkompetisi secara bermartabat dalam kancah global. Di tengah perebutan sumber daya alam dan pasar yang kian kompetitif, posisi pendidikan dan kesehatan harus ditempatkan sebagai investasi strategis yang tidak boleh ditawar.
Paradoks Anggaran dan Tantangan Kualitas
Indonesia telah menunjukkan komitmen politik yang luar biasa melalui mandat 20% anggaran pendidikan. Namun, kita harus jujur melihat cermin realitas. Mengapa kualitas output dan outcome pendidikan kita belum sepenuhnya memberikan keyakinan akan kokohnya pondasi menuju Indonesia Emas 2045?
Data menunjukkan tantangan yang serius: skor PISA yang belum naik signifikan, angka pengangguran yang masih tinggi, serta kualitas inovasi yang belum berdaya saing. Dampak lanjutannya, struktur ekonomi kita masih bertumpu pada komoditas berbasis sumber daya alam mentah, bukan pada nilai tambah pengetahuan. Jika pendidikan tidak segera melakukan lompatan paradigma, kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri.
Transformasi Pendidikan Tinggi: Belajar dari Transformasi Global
Tidak bermaksud mengabaikan peran pendidikan dasar. Sejarah mencatat bagaimana perguruan tinggi mampu mengubah takdir sebuah bangsa. Universitas Stanford di Amerika Serikat adalah contoh nyata. Mereka tidak memposisikan diri sebagai menara gading, melainkan menjadi mesin penggerak ekonomi melalui penyelarasan riset dengan kebutuhan industri lokal di California, yang kemudian melahirkan Silicon Valley.
Inilah esensi Learning Organization sebagaimana ditekankan Peter Senge: kemampuan sebuah sistem untuk terus belajar dan menyatu dengan ekosistemnya. Tantangan utama pendidikan kita selama ini adalah adanya gap besar antara dunia akademik dengan strategi keunggulan daerah. Pendidikan sering kali bergerak di jalurnya sendiri, tanpa bersinggungan dengan realitas ekonomi dan sosial di mana ia berdiri.
Tiga Pilar Reorientasi Pendidikan Tinggi.
Untuk menutup celah tersebut, transformasi pendidikan harus bertumpu pada tiga langkah taktis:
* Penyelarasan dengan Keunggulan Daerah: Pendidikan tinggi harus menjadi “otak” bagi pengembangan potensi lokal. Jika kampus berada di wilayah industri seperti Gresik, maka riset dan kurikulumnya harus memiliki denyut nadi yang sama dengan kebutuhan industri dan sosial setempat.
* Integrasi Peran Pendidikan: Harus ada koherensi peran dari pendidikan dasar hingga tinggi. Pendidikan dasar membangun karakter dan logika, sementara pendidikan tinggi menjadi laboratorium solusi atas tantangan strategis nasional maupun daerah.
* Penguatan Kompetensi Adaptif: Fokus pendidikan harus bergeser pada penguatan kompetensi dasar untuk hidup mandiri, kemampuan kolaboratif, serta daya adaptasi terhadap tantangan global seperti kecerdasan buatan (AI) dan perubahan iklim.
Manifestasi Teologi Al-Ma’un di PTM
Di sinilah letak keunikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Tidak semua PTM memiliki “kemewahan” untuk hanya memilih calon mahasiswa terbaik secara akademik. Namun, bagi Muhammadiyah, inilah ladang amal yang paling nyata. Di sinilah Teologi Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan mendapatkan ruang aktualisasinya: menerima siapa pun yang datang untuk diberdayakan.
Pilihan ini mengharuskan PTM, seperti Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), melayani dengan kasih sayang namun tetap profesional. Kita tidak sekadar memberi ijazah, tapi memberikan “kail” berupa pengetahuan dan mindset Islamic Entrepreneurship. Dengan mindset ini, apapun program studinya, mahasiswa difasilitasi untuk melahirkan produk yang kompetitif, memberikan nilai sosial (social value), dan berorientasi pada kebermanfaatan masa depan.
Menuju Ekosistem Pendidikan yang Realistik
Kurikulum dan pendekatan pedagogi kita harus diarahkan pada ekosistem yang realistik dan berbasis masalah nyata. Relasi lembaga pendidikan (kampus) dengan lingkungan sosial serta industri harus diintegrasikan secara organik.
Pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan proses transformasi manusia. Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah, kita memikul amanah untuk memastikan bahwa setiap lulusan PTM adalah pribadi yang siap menjawab tantangan zaman. Inilah kontribusi nyata kita: menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan, pemberdayaan, dan solusi bagi kejayaan bangsa.
Gresik, 1 Mei 2026
