SOLO, MENARA62.COM – Momentum Hari Buruh menjadi refleksi penting tentang bagaimana pendidikan mampu mendorong mobilitas sosial dan meningkatkan kualitas pekerja. Hal ini tercermin dari perjalanan alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Niken Probowati, SE., MBA, yang berhasil menapaki karier dari pekerja hingga menjadi pelaku usaha global.
Lulusan Program Studi Manajemen UMS angkatan 2013 tersebut memulai perjalanan profesionalnya melalui program double degree di Taiwan. Kesempatan itu tidak hanya membuka akses pendidikan internasional, tetapi juga mempertemukannya dengan dunia kerja sebagai pekerja part-time di sebuah perusahaan.
Selama menempuh studi magister dengan beasiswa penuh, Niken menjalani peran sebagai admin selama dua tahun. Pengalaman tersebut menjadi pijakan awal dalam memahami ritme kerja profesional. Setelah lulus, ia dipercaya menjadi manajer dan bekerja penuh waktu selama tiga tahun.
“Selama lima tahun itu saya benar-benar belajar dari bawah. Dari situ saya paham bagaimana sistem kerja, manajemen, hingga strategi bisnis,” ungkapnya saat dimintai keterangan, Jumat (1/5).
Pengalaman sebagai pekerja profesional inilah yang kemudian menjadi modal penting untuk naik kelas. Di tengah karier yang stabil dengan gaji tinggi, Niken mengambil keputusan besar yaitu keluar dari pekerjaannya dan memulai bisnis sendiri.
Langkah tersebut tidak mudah. Namun, dengan bekal ilmu dan pengalaman kerja, ia merintis usaha di bidang skincare, kosmetik, body care, dan hair care di Taiwan. Seluruh proses bisnis dijalankan secara profesional sesuai regulasi setempat.
Setelah usahanya berkembang, ia memperluas bisnis ke Indonesia dengan membuka toko fashion serta toko cokelat dan snack impor di Magetan, Jawa Timur. Mobilitasnya kini terbagi antara Taiwan dan Indonesia sebagai bagian dari ekspansi usaha lintas negara.
Dari sisi ekonomi, capaian tersebut menunjukkan lompatan signifikan. Bisnisnya di Taiwan mencatat omzet sekitar Rp1,5 miliar per bulan, sementara di Indonesia mencapai hampir Rp1 miliar saat momen Lebaran dan sekitar Rp400 juta pada bulan biasa.
Bagi Niken, perjalanan ini bukan sekadar tentang bisnis, tetapi juga tentang bagaimana pekerja mampu meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan dan pengalaman kerja.
“Kalau kerja di perusahaan, serap ilmunya. Saya dulu sampai burnout, tapi dari situ saya punya bekal untuk membangun usaha sendiri,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa keberanian mengambil risiko harus dibarengi dengan perhitungan matang, terutama bagi pekerja yang ingin bertransformasi menjadi entrepreneur.
Dalam konteks Hari Buruh, kisah Niken menjadi contoh nyata bahwa pekerja profesional tidak berhenti pada posisi kerja semata, tetapi dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi dengan nilai tambah yang lebih besar.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa dan lulusan UMS agar tidak cepat puas dan terus meningkatkan kualitas diri.
“Do not settle for less. Kita harus tahu nilai diri kita dan berani mengejar karier sesuai harapan,” tegasnya.
Menutup ceritanya, Niken menegaskan bahwa kesuksesan adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi dan keyakinan.
“Kalau kita tekuni dan tidak menyerah, pasti ada jalan,” pungkasnya. (*)
