30 C
Jakarta

Halal Bihalal Nasional Kemendikdasmen, Menteri Mu’ti Tekankan Nilai Kebersamaan dan Refleksi Spiritual

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar kegiatan Halal Bihalal Nasional yang diikuti seluruh jajaran Kemendikdasmen dan melibatkan berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari seluruh Indonesia, Senin (30/3/2026). Mengambil tema “Semangat Syawal: Meningkatkan Mutu Pendidikan”, acara halal bihalal tersebut berlangsung dalam suasana santai dan penuh canda. Mendikdasmen Prof Abdul Mu’ti bahkan mempersilakan peserta untuk duduk dengan nyaman, mencerminkan suasana egaliter dan kekeluargaan.

“Alhamdulillah kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat. Pada kesempatan ini, saya secara pribadi dan mewakili pimpinan mengucapkan mohon maaf lahir dan batin,” ujarnya di hadapan peserta.

Mendikdasmen menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain. Praktik ini bukan bagian langsung dari ritual agama, melainkan bentuk kultural dari pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, halal bihalal dapat dipahami sebagai bentuk “vernacularisasi ajaran agama”, yakni bagaimana nilai-nilai agama diterjemahkan secara kontekstual dalam budaya masyarakat Indonesia. “Halal bihalal adalah tradisi, bukan ajaran agama secara langsung, tetapi berangkat dari nilai-nilai agama yang diamalkan secara kreatif dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung fenomena mudik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia. Ia menyebut bahwa mudik tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan pulang ke kampung halaman, tetapi juga memiliki makna spiritual, yakni kembali kepada fitrah.

“Mudik bukan hanya kembali ke kampung halaman, tetapi juga kembali kepada jati diri dan nilai-nilai dasar kemanusiaan,” ungkapnya.

Ia bahkan menyebut dirinya sebagai “mudikers militan” yang selalu berusaha pulang kampung sebelum takbir Idulfitri berkumandang.

Kenalkan Konsep 3R dan 3O

Dalam tausyiahnya, Prof. Abdul Mu’ti juga memperkenalkan konsep 3R sebagai refleksi utama dari halal bihalal, yakni:

Pertama adalah refreshing. Konsep refreshing itu sendirri dibagi menjadi dua aspek yaitu Spiritual Refreshing (penyegaran jiwa melalui ibadah selama Ramadan) dan Social Refreshing (memperbaiki hubungan sosial dengan saling memaafkan).

Ia menekankan bahwa kesempurnaan spiritual tidak akan tercapai tanpa kebersihan hubungan sosial.

Konsep kedua adalah reunion. Halal bihalal menurutnya menjadi momentum untuk mempererat kembali hubungan yang sempat renggang. Tradisi berkumpul kembali ini memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan.

Dan konsep ketiga adalah recreation. Rekreasi tidak hanya dimaknai sebagai liburan, tetapi juga sebagai proses mendapatkan ide, inspirasi, dan semangat baru setelah menjalani perjalanan dan pengalaman selama mudik.

Selain 3R, Mendikdasmen juga memperkenalkan konsep 3O sebagai sikap yang perlu dimiliki. Pertama adalah open mind (pikiran terbuka). Melalui konsep ini, ia mengajak seluruh peserta untuk terbuka terhadap ide, masukan, dan perspektif baru dari siapa pun. “Orang yang berpikiran terbuka akan mampu belajar dari siapa saja,” tegasnya.

Kedua adalah open heart (hati terbuka). Menurutnya, kemampuan memaafkan lahir dari hati yang lapang. Ia menekankan pentingnya memahami bahwa kesalahan orang lain sering kali terjadi karena ketidaktahuan, bukan kesengajaan.

Dan ketiga adalah open attitude. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit sebagai istilah terpisah, ia menekankan sikap terbuka dalam berinteraksi dan membangun hubungan sosial.

Menutup pidatonya, Prof. Abdul Mu’ti mengajak seluruh jajaran Kemendikdasmen untuk menjadikan momentum Idulfitri sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan sosial, serta meningkatkan semangat kerja.

“Setelah kita saling memaafkan dan memperbaiki hubungan, mari kita mulai kembali dengan semangat baru,” pungkasnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!