SUKOHARJO, MENARA62.COM – Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, melakukan kunjungan kerja ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Sukoharjo, Kamis (2/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia menyoroti inovasi pengelolaan sampah organik berbasis magot yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan.
Dalam peninjauan langsung ke fasilitas SPPG, Mendag mengapresiasi sistem pengelolaan sampah yang diterapkan. Menurutnya, program tersebut tidak hanya memenuhi standar pengelolaan limbah, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah di sini sangat baik, tidak ada yang terbuang sia-sia. Semua diolah menjadi produk bernilai tambah,” ujar Budi Santoso.
Salah satu inovasi utama yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan magot atau larva lalat black soldier fly untuk mengolah sampah organik. Proses ini mengubah limbah menjadi pakan ternak berkualitas tinggi yang kaya protein. Tak hanya itu, hasil pengolahan juga dikembangkan menjadi pupuk organik hingga bahan baku kosmetik.
Menariknya, produk kosmetik yang dihasilkan dari pengolahan tersebut disebut memiliki potensi untuk menembus pasar internasional, termasuk ekspor ke Korea. Hal ini membuka peluang baru bagi pengembangan industri berbasis limbah yang bernilai tinggi.
Selain aspek lingkungan, Mendag juga menekankan dampak sosial dan ekonomi dari program SPPG. Ia menyebut program ini mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan peternak sebagai pemasok bahan baku.
“Program ini menciptakan siklus ekonomi yang baik. Petani dan peternak mendapatkan manfaat, tenaga kerja terserap, dan lingkungan tetap terjaga,” jelasnya.
Diketahui, setiap unit SPPG mampu menyerap tenaga kerja sekitar 50 hingga 51 orang. Hal ini menjadikan program tersebut tidak hanya berdampak pada sektor lingkungan dan kesehatan, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja.
Pengelolaan sampah di SPPG ‘Aisyiyah Sukoharjo dilakukan secara terstruktur, dimulai dari pemilahan sampah organik, pengolahan menggunakan magot, hingga menghasilkan produk akhir berupa pakan ternak, pupuk, dan bahan kosmetik. Seluruh proses berjalan tanpa menyisakan limbah yang merugikan lingkungan.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi melalui penyediaan bahan pangan berkualitas, sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Kunjungan Menteri Perdagangan ini diharapkan semakin mendorong pengembangan model pengelolaan sampah terpadu yang inovatif dan berkelanjutan. SPPG ‘Aisyiyah Sukoharjo pun dinilai berpotensi menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan limbah yang produktif, bernilai ekonomi, dan berorientasi ekspor. (*)
