31.2 C
Jakarta

Revitalisasi Otak Jadi Kunci Kesehatan Jiwa

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Konsep revitalisasi dalam keperawatan jiwa menjadi sorotan dalam pengukuhan calon guru besar baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Hal ini disampaikan oleh Prof. Arum Pratiwi usai menghadiri jumpa pers di RM Dapur Solo, Senin (27/4/2026).

Dalam keterangannya, Arum menegaskan bahwa revitalisasi dalam keperawatan jiwa bukanlah upaya “memudakan” organ otak secara fisik, melainkan proses membangkitkan kembali energi otak yang menurun akibat stres maupun gangguan jiwa.

“Energi itu sebenarnya sudah ada dalam otak, tetapi bisa menurun ketika seseorang mengalami tekanan psikologis. Revitalisasi bertujuan membantu mengeluarkan energi yang terpendam agar fungsi otak kembali optimal,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan ini relevan diterapkan pada berbagai kondisi, mulai dari individu yang tampak sehat tetapi memiliki masalah psikologis, hingga pasien dengan gangguan jiwa berat seperti psikosis.

Arum menjelaskan, penurunan energi otak berpengaruh langsung pada fungsi kognitif dan psikologis seseorang. Oleh karena itu, revitalisasi tidak berfokus pada perubahan fisik organ, melainkan pada pemulihan fungsi melalui pengelolaan energi mental.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa konsep revitalisasi memiliki keterkaitan erat dengan manajemen stres. Saat seseorang mengalami stres, energi otak cenderung terpendam dan menyebabkan penurunan fungsi.

“Revitalisasi pada dasarnya adalah bagian dari pengelolaan stres. Bagaimana kita membantu individu mengelola tekanan sehingga energi otak bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Dalam praktiknya, strategi revitalisasi tidak bersifat tunggal. Arum menyebut, pendekatan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Misalnya, pada pasien dengan masalah konsep diri (self-concept), terapi akan difokuskan pada penguatan identitas dan persepsi diri.

Sementara itu, pada kasus gangguan jiwa yang lebih kompleks seperti halusinasi atau gangguan identitas, dibutuhkan strategi yang lebih spesifik dan intensif.

“Tidak ada satu metode yang bisa digunakan untuk semua kasus. Pendekatan harus adaptif dan berbasis kebutuhan psikologis pasien,” tegasnya.

Ia menambahkan, peran perawat jiwa sangat penting dalam proses ini. Perawat dituntut mampu mengidentifikasi masalah utama pasien dan memberikan intervensi yang tepat agar fungsi otak dapat kembali optimal.

Dengan pendekatan revitalisasi yang tepat, diharapkan individu tidak hanya pulih dari gangguan jiwa, tetapi juga mampu mempertahankan kesehatan mentalnya dalam jangka panjang.

Konsep ini sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan stres menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan fungsi otak, serta menjadi fondasi penting dalam praktik keperawatan jiwa modern. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!