31.8 C
Jakarta

Prof. Arum Pratiwi Ungkap Strategi Revitalisasi Otak untuk Capai Kesehatan Jiwa Optimal

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Isu kesehatan mental yang kian kompleks di tengah tekanan kehidupan modern mendorong pentingnya pendekatan baru dalam menjaga keseimbangan jiwa. Revitalisasi energi otak melalui manajemen stres menjadi salah satu strategi kunci untuk mencapai kesehatan jiwa yang optimal.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D., dalam Jumpa Pers Pengukuhan Guru Besar ke-72 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id , Senin (27/4). Ia akan dikukuhkan bersama Prof. Kussudyarsana pada Rabu (29/4) di Auditorium Moh. Djazman.

Dalam pemaparannya, Arum menekankan bahwa revitalisasi bukan sekadar “mengisi ulang” energi seperti konsep recharge, melainkan proses memperbaiki sekaligus meningkatkan fungsi otak. Otak manusia, menurutnya, memiliki sistem energi internal yang terus diperbarui melalui metabolisme berbasis glukosa dan oksigen, yang kemudian diubah menjadi energi untuk aktivitas neuron.

“Energi otak yang optimal sangat menentukan bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Ketika energi ini terganggu, maka fungsi kognitif dan emosional juga ikut terdampak,” jelas Guru Besar bidang kepakaran Ilmu Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK).

Ia menambahkan, fungsi otak dalam mengelola emosi melibatkan berbagai struktur penting seperti amigdala, hippocampus, dan prefrontal cortex. Ketidakseimbangan pada sistem ini dapat memicu berbagai respons seperti kecemasan, ketakutan, hingga gangguan jiwa yang lebih berat.

Arum menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak bersifat statis, melainkan berada dalam sebuah spektrum atau rentang. Mulai dari kondisi sehat, stres, gangguan penyesuaian, gangguan kecemasan, gangguan mood, hingga gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Setiap kondisi tersebut memiliki mekanisme aktivitas listrik dan kimia otak yang berbeda.

“Individu bisa bergerak dari satu kondisi ke kondisi lain tergantung pada tingkat stres dan kemampuan adaptasi. Di sinilah pentingnya intervensi yang tepat, termasuk terapi untuk merevitalisasi fungsi otak,” ujarnya.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah terapi kognitif sebagai strategi revitalisasi energi kejiwaan. Terapi ini berfokus pada perubahan pola pikir negatif menjadi positif melalui stimulasi berulang yang dapat memperkuat koneksi antar neuron.

Menurut Arum, proses tersebut tidak hanya melibatkan aspek biologis, tetapi juga psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam perspektif Islam, ia mengutip makna dari Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 216 yang menekankan pentingnya berpikir positif terhadap setiap ketetapan.

Selain itu, ia juga menyinggung hadis riwayat Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya hati (kalbu) sebagai pusat kendali perilaku manusia. “Kalbu yang baik akan menghasilkan perilaku yang baik. Maka revitalisasi energi otak harus selaras dengan kebersihan hati dan kekuatan spiritual,” imbuhnya.

Dalam praktiknya, terapi kognitif dilakukan melalui beberapa tahapan, di antaranya identifikasi pikiran negatif, reframing atau mengubah sudut pandang, serta teknik relaksasi seperti meditasi, murotal, dan musik yang merangsang gelombang otak.

Arum juga memaparkan berbagai hasil riset yang telah dilakukannya dalam lima tahun terakhir, mulai dari studi pada pasien psikosis, penderita tuberkulosis dengan stigma sosial, hingga keluarga pasien gangguan jiwa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa intervensi berbasis manajemen stres dan pendekatan spiritual mampu membantu meningkatkan kondisi psikososial pasien.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua kondisi dapat sepenuhnya dipulihkan, khususnya pada kasus degenerasi otak akibat penuaan atau penyakit neurodegeneratif. Upaya revitalisasi dalam kondisi ini lebih difokuskan pada peningkatan fungsi optimal dan kualitas hidup pasien.

“Tidak ada cara untuk membalikkan proses penuaan, tetapi kita tetap bisa mengoptimalkan fungsi otak yang ada melalui pendekatan yang tepat,” jelasnya.

Arum menegaskan bahwa sumber energi psikis sejatinya berasal dari dalam diri manusia, termasuk dari kekuatan kalbu yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Ia berharap keperawatan jiwa dapat terus berkontribusi dalam membantu individu dengan masalah psikososial maupun gangguan jiwa untuk mencapai kondisi mental yang lebih optimal.

“Revitalisasi energi otak bukan hanya konsep ilmiah, tetapi juga ikhtiar holistik untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, emosi, dan spiritualitas,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!