SOLO, MENARA62.COM – Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali menunjukkan kiprah internasional melalui kegiatan Visiting Lecture di Universiti Sains Islam Malaysia pada 4-5 Mei 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari program student mobility antara kedua institusi ini menghadirkan sekitar 30 peserta mahasiswa internasional yang antusias mengikuti diskusi mengenai budaya digital dan penulisan naskah berbasis narasi lokal Indonesia.
Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Kelas Internasional Riski Apriliani, S.I.Kom, M.A., menyampaikan bahwa program ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan kerja sama internasional antara UMS dan USIM dalam bidang akademik dan pertukaran mahasiswa.
“Melalui student mobility dan visiting lecture, kedua universitas berharap dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan ilmu komunikasi berbasis budaya dan teknologi digital,” ujar Riski, Rabu (13/5).
Dalam kegiatan tersebut, Senin (4/5), dosen Ilmu Komunikasi UMS, Dr. Mulia Ramdhan Fauzani, membawakan materi bertajuk “Visioning Script Through Narratives in Indonesia Digital Culture.” Materi ini mengupas bagaimana budaya digital Indonesia berkembang pesat melalui media sosial dan platform digital, sekaligus menjadi ruang lahirnya narasi-narasi budaya, identitas, hingga kritik sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
Mulia menjelaskan bahwa perkembangan budaya digital di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kekayaan budaya lokal yang kemudian dikemas ulang melalui medium digital seperti TikTok, Instagram, podcast, hingga film digital. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi peluang besar bagi mahasiswa komunikasi untuk mengembangkan kemampuan scriptwriting yang lebih relevan dan kontekstual.
“Story yang kuat selalu lahir dari kedekatan dengan realitas budaya masyarakatnya. Indonesia memiliki kekayaan narasi lokal yang dapat diangkat menjadi karya kreatif yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya,” ujarnya dalam sesi kuliah tamu tersebut.
Dalam pemaparannya, Mulia menyoroti pentingnya pengembangan plot, karakter, dan dialog yang berakar pada budaya lokal. Ia mencontohkan bagaimana narasi kepahlawanan, kritik sosial, hingga isu gender banyak muncul dalam budaya digital Indonesia dan menjadi daya tarik tersendiri bagi audiens. Selain itu, mahasiswa juga diajak memahami bagaimana karakter dalam film atau konten digital dapat dibangun lebih manusiawi melalui pendekatan semiotika dan narasi budaya.
Pada hari selanjutnya, dosen Ilkom UMS Agus Triyono, M.Si., membawakan materi bertajuk “Digital Reframing Strategy: Mastering the Art of Shifting Organizational Narratives Through High-Impact Digital Content Production.” Materi ini membahas strategi membangun ulang persepsi publik melalui produksi konten digital yang kuat, relevan, dan berdampak di era media digital.
Agus menjelaskan bahwa di era digital saat ini, persepsi publik dapat berubah dengan sangat cepat akibat arus informasi di media sosial. Karena itu, organisasi dituntut memiliki kemampuan melakukan reframing atau membingkai ulang pesan agar mampu membangun citra yang lebih positif tanpa mengubah fakta yang ada.
“Reframing bukan tentang memanipulasi informasi, tetapi bagaimana sebuah organisasi mampu menghadirkan perspektif baru yang lebih solutif, manusiawi, dan relevan dengan kebutuhan audiens,” jelasnya dalam sesi diskusi.
Ia juga memaparkan tiga elemen utama dalam strategi digital reframing, yakni narasi, visual, dan emosional. Menurutnya, storytelling yang kuat harus mampu mengubah fokus persoalan menjadi solusi, didukung visual yang profesional dan pendekatan emosional yang dapat membangun empati publik.
Selain itu, mahasiswa juga diajak memahami pentingnya visual storytelling dalam komunikasi digital modern. Agus menekankan bahwa konten visual berkualitas tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun kredibilitas institusi dan memperkuat pesan komunikasi di berbagai platform digital.
Kegiatan Visiting Lecture ini berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai perbedaan budaya digital Indonesia dan Malaysia, serta peluang kolaborasi kreatif lintas negara dalam industri media dan komunikasi. Suasana akademik semakin hidup ketika mahasiswa membahas bagaimana cerita lokal dapat dikembangkan menjadi karya global yang tetap mempertahankan identitas budaya masing-masing negara. (*)
