MADIUN, MENARA62.COM – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat memunculkan berbagai kekhawatiran terkait masa depan dunia kerja. Namun, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), sebelumnya Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), menilai AI bukan ancaman selama manusia mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Muhammad Syaifudin, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMJT, mengatakan perkembangan teknologi sejatinya merupakan bagian dari proses perubahan yang telah terjadi sejak lama. Menurutnya, setiap inovasi teknologi memang berpotensi menggantikan sebagian pekerjaan manusia, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan peluang baru.
“Kalau kita sendiri tidak bisa beradaptasi dengan teknologi maka akan kalah bersaing dan berhenti di fase yang sama, dengan kata lain akan tertinggal,” ujar mahasiswa semester enam yang akrab disapa Syaif.
Ia mencontohkan, pada masa lalu sebagian besar proses produksi dilakukan secara manual oleh manusia. Namun, seiring perkembangan zaman, berbagai mesin hadir untuk menggantikan pekerjaan tersebut dan meningkatkan efisiensi.
Menurut Syaif, fenomena yang sama kini terjadi pada AI. Karena itu, masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami cara kerja teknologi tersebut agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman.
“Dalam konteks AI, prosesnya sama. Manusia harus mempelajari cara kerja AI. Misalnya memahami bagaimana sebuah prompt bisa menghasilkan tulisan atau data yang detail. Kalau kita tahu cara kerja setiap AI dan terus mengikuti perkembangannya, maka tidak perlu takut,” katanya.
Meski mengakui perkembangan AI berlangsung sangat cepat, baik dari segi bentuk maupun fungsi, Syaif menilai adaptasi terhadap teknologi tetap dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan literasi digital.
Ia menyoroti pentingnya pemerataan pendidikan dan edukasi teknologi yang didukung pemerintah. Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan sekadar perkembangan AI, melainkan belum meratanya akses pendidikan dan infrastruktur teknologi di berbagai daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Syaif saat menanggapi pidato Hari Buruh yang disampaikan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong beberapa waktu lalu. Dalam pidatonya, Wong menegaskan komitmen pemerintah Singapura untuk melindungi pekerja dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik di tengah pesatnya perkembangan AI.
“Dari situ terlihat bahwa edukasi teknologi sangat penting. Kalau kita memahami pola kerja AI, ada kemungkinan kita bisa masuk ke berbagai sektor atau peluang yang tercipta dari teknologi tersebut. Tantangannya, pendidikan di negara kita masih belum merata,” ujarnya.
Syaif berharap pemerintah dapat memperluas akses pendidikan berkualitas sekaligus menyediakan infrastruktur teknologi yang memadai agar masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam menghadapi transformasi digital.
“Kalau pendidikan sudah merata dan infrastruktur teknologi tercukupi, SDM kita akan lebih siap menanggulangi berbagai risiko dari perkembangan teknologi seperti AI,” jelasnya.
Secara pribadi, Syaif mengaku tidak terlalu khawatir terhadap keberadaan AI. Menurutnya, secanggih apa pun teknologi yang diciptakan manusia, AI tetap tidak memiliki aspek emosional dan empati yang menjadi keunggulan manusia.
Ia menilai AI justru dapat menjadi alat yang membantu meningkatkan produktivitas, mempercepat pekerjaan, serta menghasilkan data dalam jumlah besar secara efisien.
“Kalau saya tidak terlalu khawatir karena teknologi seperti itu, sesempurna apa pun, tidak bisa merasakan atau tidak memiliki feel seperti manusia. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut,” pungkasnya. (*)

