33.6 C
Jakarta

Milad Lazismu Luncurkan Buku Jurnalisme Filantropi

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Peran media dalam mendorong perubahan sosial menjadi sorotan dalam resepsi Milad ke-24 Lazismu yang digelar di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Pada momentum tersebut, Majalah Suara Muhammadiyah berkolaborasi dengan Lazismu meluncurkan buku “Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan”, yang menawarkan perspektif baru tentang jurnalisme berbasis dampak sosial.

 

Buku setebal 345 halaman karya Roni Tabroni itu dibedah oleh sejumlah narasumber, yakni Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI Tirta Sutedjo, serta Peneliti Filantropi Islam Amelia Fauzia. Diskusi mengupas konsep jurnalisme filantropi dari berbagai sudut pandang, mulai dari praktik media, kebijakan publik, hingga kajian akademik.

 

Dalam pemaparannya, Roni Tabroni menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari dua kegelisahan besar. Pertama, dunia jurnalisme yang terus menghadapi disrupsi, dan kedua, kuatnya tradisi filantropi masyarakat Indonesia yang belum terhubung secara optimal dengan praktik jurnalistik.

 

Menurutnya, jurnalisme filantropi merupakan pendekatan baru yang menggabungkan disiplin jurnalisme dan filantropi untuk menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggerakkan kepedulian sosial.

 

“Buku ini digagas untuk menjembatani dua kegelisahan itu. Diksi jurnalisme filantropi menjadi sebuah kajian keilmuan baru yang interdisiplin dan melahirkan cara pandang, pendekatan, serta konsep baru dalam bidang jurnalisme,” ujarnya.

 

Roni menegaskan, jurnalisme filantropi tidak berhenti pada penyampaian informasi atau menggambarkan penderitaan masyarakat. Lebih dari itu, media diharapkan mampu mengawal persoalan sosial, menggerakkan semangat berbagi, serta mendorong publik untuk bersama-sama menghadirkan solusi.

 

“Ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi bukan pada banyaknya berita, bukan pada seberapa viral, tetapi pada seberapa besar dampak yang dihadirkan bagi kehidupan sosial masyarakat,” tegasnya.

 

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyidin, menilai konsep yang ditawarkan dalam buku tersebut relevan dengan perkembangan media saat ini. Menurutnya, jurnalisme filantropi berfungsi sebagai jembatan antara masyarakat yang membutuhkan bantuan dengan mereka yang memiliki kepedulian untuk membantu.

 

Ia menyebut karya tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai konsep hingga penerapan jurnalisme filantropi dalam praktik media modern.

 

“Jurnalisme filantropi berarti memberitakan, lalu menampilkan empati dan melakukan aksi. Kondisi itu yang sedang dilakukan oleh media-media besar,” katanya.

 

Sementara itu, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI, Tirta Sutedjo, menilai jurnalisme filantropi memiliki potensi besar dalam membangun kepercayaan publik sekaligus menggerakkan penyelesaian persoalan sosial.

 

Menurut Tirta, konsep tersebut sejalan dengan agenda Indonesia Emas 2045 yang menargetkan Indonesia menjadi negara maju dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

 

Ia juga mengajak pemerintah, media, jurnalis, dan masyarakat untuk berkolaborasi menghapus stigma negatif terhadap kelompok rentan melalui pemberitaan yang lebih berempati dan solutif.

 

Perspektif akademik disampaikan Peneliti Filantropi Islam, Amelia Fauzia. Ia menilai praktik filantropi telah lama mengakar di Indonesia dan memiliki hubungan erat dengan perkembangan media.

 

Namun demikian, Amelia menekankan pentingnya penyusunan kode etik jurnalisme filantropi agar media tetap mampu menjalankan fungsi advokasi tanpa mengabaikan prinsip independensi, verifikasi, dan integritas jurnalistik.

 

Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy’ari, mengatakan kehadiran pers tidak lagi cukup hanya menyampaikan fakta. Menurutnya, media perlu menjadi penggerak yang mampu membangun empati, menginspirasi masyarakat, serta mengonsolidasikan potensi sosial dan ekonomi.

 

Ia optimistis konsep jurnalisme filantropi dapat memperkuat dampak gerakan zakat, infak, sedekah, dan pemberdayaan masyarakat jika diintegrasikan dengan kekuatan media.

 

Peluncuran buku “Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan” menjadi salah satu agenda penting dalam Milad ke-24 Lazismu. Buku ini diharapkan menjadi referensi baru bagi insan pers, akademisi, pegiat filantropi, dan masyarakat dalam mengembangkan praktik jurnalisme yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan solusi dan mendorong terwujudnya kesejahteraan sosial. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!