Oleh: Bahren Nurdin, S.S., M.A., CHt., CPHt., CT.NNLP., C.MS*
Di tengah berbagai persoalan pendidikan nasional—mulai dari ketimpangan kualitas, mahalnya biaya, hingga krisis pembentukan karakter—kehadiran lembaga pendidikan alternatif menjadi semakin relevan untuk dicermati. Tidak semua menawarkan solusi sempurna, tetapi beberapa menghadirkan praktik baik yang layak dibaca secara kritis.
Sebagai seorang akademisi dan pengamat sosial, saya melihat pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Dalam konteks ini, keberadaan lembaga pendidikan yang tidak hanya berkualitas tetapi juga terjangkau menjadi kebutuhan mendesak. Dalam konteks inilah Diniyyah Al-Azhar (DIAZ) Indonesia menarik untuk diperhatikan: sebagai sebuah ikhtiar lokal dalam menjawab kebutuhan akan pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga berakar pada nilai.
Saya mulai mengenal sekolah ini sekitar tahun 1997/1998, saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Muara Bungo dan saya berdomisili di seputaran lembaga pendidikan ini. Kala itu, Pondok Pesantren Diniyyah telah dikenal sebagai salah satu pondok pesantren yang diminati banyak santri. Sejak awal, sekolah ini sudah menunjukkan keseriusannya dalam menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas—dikelola dengan penuh tanggung jawab, dedikasi, dan hati.
Seiring berjalannya waktu, terutama setelah mengadopsi identitas “Al-Azhar”, sekolah yang kini dikenal dengan singkatan DIAZ ini berkembang pesat. Kehadirannya di 5 wilayah—Bungo, Tebo, Batang Hari, Kota Jambi dan Kota Pekanbaru—menjadi bukti nyata tingginya kepercayaan masyarakat. Ekspansi ini tidak hanya menunjukkan pertumbuhan institusi, tetapi juga memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan berkualitas di daerah sangat besar.
Sependek yang saya tahu, prestasi DIAZ tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam enam tahun terakhir, guru dan siswa telah menghasilkan lebih dari 483 karya buku sebagai bagian dari syarat kelulusan. Ini merupakan indikator kuat keberhasilan pendekatan project-based learning yang diterapkan. Selain itu, DIAZ menjadi sekolah Islam Terpadu pertama di Provinsi Jambi dan Sekolah Islam pertama yang mengadopsi kurikulum Cambridge, sebuah langkah progresif yang memperluas cakrawala akademik siswa.
Sejak tahun 2016, di Diniyyah Al-Azhar kota Jambi saja, lebih dari 2.900 prestasi telah diraih, mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional. Tidak hanya itu, sekolah ini juga mencatatkan beberapa rekor MURI, di antaranya penulisan hadits dengan peserta terbanyak (2017), kajian Hadits Arbain oleh guru terbanyak (2020), serta tausiyah virtual Ramadan oleh guru terbanyak (2021). Capaian-capaian ini menunjukkan bahwa DIAZ tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif dalam penguatan nilai-nilai keislaman.
Keunggulan lain yang patut dicatat adalah program praktik pengabdian masyarakat yang menjadi bagian dari practice-based learning. Program ini menginternalisasi nilai “khairunnas anfa’uhum linnas”—sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Di sisi lain, standar kelulusan yang mensyaratkan hafalan minimal 5 juz Al-Qur’an dengan tingkat capaian di atas 97% bahkan mayoritas lulusan melebihi target mencerminkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.
Pembangunan karakter menjadi hal yang semakin mendesak bagi negeri ini, di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi teknologi, serta krisis nilai yang perlahan menggerus jati diri generasi muda. Pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada capaian akademik semata, tetapi harus mampu membentuk manusia yang utuh—yang memiliki integritas, empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Tanpa fondasi karakter yang kuat, kemajuan intelektual justru berpotensi melahirkan individu-individu yang cerdas secara kognitif, namun rapuh secara moral dan sosial.
Dalam konteks ini, DIAZ telah hadir sebagai bagian dari solusi. Sekolah ini tidak hanya mendidik siswa untuk unggul dalam akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan melalui berbagai program pembelajaran dan praktik nyata di masyarakat. Upaya ini menunjukkan bahwa pembangunan karakter bukan sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan secara sistematis dan terukur dalam dunia pendidikan.
Akan tetapi, sekedar mengingatkan, pembangunan karakter memang menjadi kebutuhan mendesak, namun dalam praktiknya, upaya ini tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Dalam konteks DIAZ, pendekatan yang kuat pada integrasi nilai agama, akademik, dan aktivitas berbasis proyek tentu menjadi keunggulan. Namun, ada potensi yang perlu dicermati, misalnya risiko beban berlebih bagi siswa—baik dari sisi target akademik, hafalan, hingga keterlibatan dalam berbagai program. Jika tidak dikelola dengan sensitif, hal ini bisa melahirkan tekanan psikologis atau menjadikan proses belajar terasa instrumentalis, sekadar mengejar capaian indikator, bukan penghayatan nilai itu sendiri. Selain itu, keberhasilan yang terukur melalui prestasi dan rekor juga perlu diimbangi dengan evaluasi mendalam terhadap kualitas internalisasi karakter, yang tidak selalu tampak dalam angka.
Karena itu, ke depan DIAZ dapat memperkuat pendekatannya dengan memastikan keseimbangan antara pencapaian dan kesejahteraan belajar siswa (student well-being). Program pembangunan karakter perlu terus diarahkan pada proses reflektif, bukan hanya performatif—misalnya dengan memperbanyak ruang dialog, mentoring personal, dan evaluasi kualitatif yang menggali pengalaman batin siswa.
Selain itu, keterbukaan terhadap kritik dan praktik continuous improvement akan membuat DIAZ semakin kokoh sebagai model pendidikan. Dengan demikian, bukan hanya menghasilkan lulusan yang berprestasi, tetapi juga pribadi yang matang, sadar diri, dan mampu menghadapi kompleksitas kehidupan secara utuh.
Fasilitas yang lengkap serta biaya pendidikan yang relatif terjangkau semakin menguatkan posisi DIAZ sebagai “the best school for everyone”. Ini penting, karena kualitas pendidikan seringkali terhambat oleh persoalan aksesibilitas biaya.
Sebagai seorang Human Capital Consultant, saya beberapa kali terlibat langsung sebagai mentor bagi guru dan tenaga kependidikan di sekolah ini, serta dipercaya sebagai motivator dalam seminar parenting bagi wali siswa. Dari interaksi tersebut, saya melihat adanya manajemen yang solid—mulai dari ketua yayasan, direktur, kepala sekolah, guru, hingga tenaga kependidikan—yang bekerja dengan visi yang selaras.
Dalam pandangan saya, Diniyyah Al-Azhar Jambi layak dijadikan salah satu model penyelenggaraan pendidikan, khususnya di tingkat daerah. Bahkan, tidak berlebihan jika sekolah-sekolah negeri maupun swasta dapat mengambil pelajaran dari keberhasilan DIAZ. Di tengah kebutuhan bangsa akan pendidikan berkualitas dan terjangkau, DIAZ hadir sebagai salah satu jawaban—membuktikan bahwa kualitas dapat dicapai dengan harga terjangkau, dan nilai-nilai tidak boleh ditinggalkan.
*(Akademisi, Human Capital Consultant dan Pengamat Sosial)
