26.8 C
Jakarta

Transisi Industri Batik Tradisional ke Ekonomi Sirkular Butuh Strategi Bridging Intervention

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Sudah semakin menguat tuntutan berubahnya industri batik tradisional menuju ke ekonomi sirkular. Yaitu model ekonomi berkelanjutan yang bertujuan memaksimalkan nilai guna suatu produk dan meminimalkan limbah. Tuntutan tersebut berupa pasar hijau, regulasi lingkungan, perubahan preferensi konsumen, serta agenda pembangunan berkelanjutan.

Transisi perubahan industri batik tradisional menuju ke ekonomi sirkular butuh Strategi Bridging Intervention. Yaitu suatu pendekatan yang dirancang untuk mengatasi kesenjangan (gap) antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Sehingga strategi ini menjadi jembatan agar transisi bisa berjalan bertahap, adaptif, dan berkelanjutan.

Itulah benang merah Desertasi Feris Firdaus, Dosen Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII). Desertasi berjudul ‘Strategi Bridging Intervention dalam Transisi Manufaktur Industri Batik Berkelanjutan Berbasis Ekonomi Sirkular’ berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Program Studi Ilmu Lingkungan Manajemen Sumber Daya, Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, Selasa (23/6/2026).

Feris Firdaus menjelaskan penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengintegrasikan SWOT–Pareto, DPSIR–Pareto, Cost–Benefit Analysis (CBA), Analytic Network Process (ANP), benchmarking, observasi lapangan, wawancara mendalam, studi literatur, serta validasi pakar. Sedang objek penelitian dilaksanakan di sepuluh sentra industri batik yang mewakili karakteristik wilayah di Indonesia. Sleman, Bantul, Surakarta, Pekalongan, dan Cirebon merupakan sentra batik di Pulau Jawa. Sedang Jambi, Palembang, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Papua, sentra batik di luar Jawa.

“Integrasi berbagai metode tersebut memungkinkan analisis yang lebih komprehensif terhadap aspek ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, teknologi, pasar, dan kelembagaan. Sehingga menghasilkan keputusan yang mampu menghubungkan faktor prioritas, hubungan sistemik, kelayakan ekonomi, tingkat kesiapan wilayah, dan strategi implementasi,” kata Feris Firdaus.

Feris Firdaus menambahkan batik sudah menjadi identitas budaya Indonesia dan telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity. Namun sayang, sebagian besar praktik manufaktur industri batik masih didominasi oleh sistem produksi tradisional berbasis ekonomi linier (take–make–dispose).

Hal ini, kata Feris, ditandai dengan penggunaan bahan baku baru secara terus-menerus, tingginya konsumsi air dan energi, penggunaan pewarna sintetis. Selain itu, industri batik tradisional menghasilkan limbah cair dan limbah padat yang berpotensi mencemari lingkungan.

Menurut Feris, berbagai penelitian telah membahas ekonomi sirkular, manufaktur berkelanjutan, dan transisi keberlanjutan. Namun sebagian besar penelitian masih berfokus pada identifikasi praktik ekonomi sirkular, pengukuran kinerja keberlanjutan, atau evaluasi dampak lingkungan secara parsial.

Belum banyak penelitian yang mengintegrasikan faktor penghambat dan pendorong, hubungan sistemik, kelayakan ekonomi, tingkat kesiapan wilayah, dan strategi implementasi ke dalam satu kerangka transisi yang komprehensif. Selain itu, belum ditemukan model yang secara spesifik menjelaskan bagaimana sentra industri batik dengan karakteristik dan tingkat kesiapan yang berbeda dapat bertransisi secara bertahap menuju manufaktur berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular. “Kesenjangan inilah yang menjadi dasar pengembangan penelitian ini,” kata Feris.

Penelitian ini, kata Feris, menyediakan peta jalan (roadmap) dan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong transformasi industri batik yang lebih berkelanjutan. Implementasi Strategi Bridging Intervention juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and WellBeing), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 15 (Life on Land). (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!