JAKARTA, MENARA62.COM – Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia (MRPTNI) Eduart Wolok, menyampaikan sejumlah usulan strategis kepada Presiden Prabowo untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi nasional. Usulan tersebut mencakup peningkatan beasiswa doktor (S3) bagi dosen, penguatan pendanaan riset melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga perluasan akses beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Dalam penyampaiannya pada penutupan KSTI 2026, Eduart menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tinggi harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia, khususnya para dosen. Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan alokasi beasiswa doktor (S3) bagi dosen di perguruan tinggi negeri maupun swasta agar kesempatan meningkatkan kompetensi akademik dapat dirasakan secara lebih merata.
Selain itu, MRPTNI menyoroti masih terbatasnya pendanaan riset dari sektor industri di Indonesia. Berbeda dengan negara-negara maju yang sebagian besar riset dan inovasinya didukung oleh dunia usaha, pendanaan riset di Indonesia masih didominasi oleh pemerintah.
Karena itu, MRPTNI mengusulkan agar sekitar 2–5 persen laba BUMN dialokasikan untuk mendanai riset dan inovasi kolaboratif bersama perguruan tinggi. Skema tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas inovasi perusahaan negara sekaligus mendorong perguruan tinggi menghasilkan penelitian yang lebih relevan dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional.
MRPTNI juga mendukung strategi pemerintah yang berfokus pada peningkatan nilai tambah industri nasional. Menurut Eduart, Indonesia perlu bergerak dari sekadar mengolah bahan mentah dan produk antara menuju penciptaan produk akhir yang memiliki merek dan daya saing global, termasuk di sektor alat kesehatan yang hingga kini masih banyak bergantung pada produk impor.
Di bidang akses pendidikan, MRPTNI menilai tingginya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi, khususnya dari kalangan mahasiswa berprestasi namun berasal dari keluarga kurang mampu, menunjukkan perlunya peningkatan dukungan pembiayaan pendidikan. Oleh sebab itu, pemerintah diusulkan menambah alokasi beasiswa sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Sementara itu, Rektor Universitas Tadulako Prof. Amar turut menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pemerintah menghadirkan kampus bertaraf dunia melalui kerja sama dengan institusi internasional, seperti Imperial College London. Menurutnya, langkah tersebut merupakan strategi yang tepat untuk mempercepat peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Namun demikian, ia mengusulkan agar pola kerja sama tersebut tidak hanya difokuskan pada pembangunan kampus baru di bidang kedokteran dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), tetapi juga melibatkan perguruan tinggi yang telah ada. Dengan demikian, lebih banyak institusi pendidikan tinggi dapat meningkatkan kualitas akademik, kapasitas riset, serta daya saing di tingkat internasional.
Menutup penyampaiannya, MRPTNI menyampaikan bahwa masih terdapat sejumlah rekomendasi teknis lainnya yang akan diserahkan langsung kepada Presiden. Rekomendasi tersebut merupakan hasil pembahasan bersama selama beberapa waktu terakhir dan telah diselaraskan dengan kementerian teknis terkait sebagai bagian dari upaya memperkuat transformasi pendidikan tinggi nasional.

