JAKARTA, MENARA62.COM – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, Peta Jalan dan Agenda Riset Nasional yang disusun bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) akan menjadi acuan riset Indonesia hingga 2045.
Arif menjelaskan, peta jalan tersebut diharapkan mampu menyelaraskan agenda riset perguruan tinggi, BRIN, dan pemangku kepentingan lain, sehingga selaras dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 pada Minggu (28/6). Pada arahannya Presiden meminta agar hasil riset dan kajian akademik dapat berkontribusi terhadap percepatan kebijakan strategis nasional.
“BRIN bersama-sama dengan Kemdiktisaintek, dalam rangka untuk mempersiapkan ekosistem riset yang unggul yang bisa men-support baik untuk peningkatan UMKM maupun industri di Indonesia, serta memberikan solusi untuk berbagai permasalahan,” ujar Arif kepada awak media.
Ia menjelaskan, BRIN dan Kemdiktisaintek tengah mematangkan peluncuran Peta Jalan dan Agenda Riset Nasional, yang dijadwalkan akan luncurkan di Surabaya. Peta dan agenda ini diharapkan menjadi acuan untuk riset Indonesia hingga 2045
“Ini adalah kerja sama antara Kemdiktisaintek dan BRIN. Ini sebuah langkah yang sangat baik, sehingga riset strategis yang akan dilakukan oleh para periset Indonesia dapat mengacu pada arah yang sudah kita buat,” ucapnya.
Dengan adanya riset yang terarah, menurut Arif pandangan mengenai teknologi yang digunakan ke depan juga akan memiliki kompas. Hal itu juga menjadi panduan arah industrialisasi Indonesia ke depan.
“Sehingga industrialisasi kita ke depan tidak didasarkan hanya pada sekadar common sense, tetapi didasarkan pada data dan proyeksi teknologi yang akan berkembang. Dengan demikian, industri kita juga akan tetap survive dan relevan terhadap dinamika perubahan,” jelasnya.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan, Presiden RI meminta tindak lanjut atas berbagai masukan dari Sarasehan Kebangsaan melalui pembentukan kelompok kerja yang melibatkan guru besar, dosen, peneliti perguruan tinggi, dan BRIN.
“Bapak Presiden meminta kami membentuk semacam satgas atau kelompok kerja yang nantinya berisi guru besar, dosen, peneliti dari perguruan tinggi maupun BRIN untuk bisa mengkaji lebih lanjut bersama kementerian teknis terkait,” ujarnya.
Menurutnya, kelompok kerja tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi sains, teknologi, riset, dan inovasi dalam mendukung kebijakan strategis pemerintah. Presiden juga menilai perguruan tinggi dan lembaga riset memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
“Bapak Presiden menyampaikan bahwa potensi seluruh bangsa perlu bersatu untuk mengokohkan inisiatif, mengeluarkan gagasan-gagasan dan kegiatan terbaik untuk kemajuan bangsa kita. Bapak Presiden selalu menekankan bahwa sains, teknologi, riset, inovasi itu adalah suatu kemanen yang diperlukan bagi kemajuan bangsa kita,” ujarnya.


