YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Ada cara yang berbeda dipilih Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ahmad Syaify, SP.Perio., Subsp.RPID (K), FISID., untuk menandai ulang tahunnya yang ke-65. Bukan sekadar merayakan pertambahan usia, ia justru mempersembahkan sebuah karya yang merangkum perjalanan hidup, refleksi, sekaligus pesan-pesan kehidupan melalui buku berjudul Dokter Multitalenta.
Buku tersebut ditulis bersama Rochmad Widodo dari Penerbit Biografi Indonesia, yang menyusun kisah berdasarkan rangkaian penuturan langsung Prof. Syaify.
“Sejak awal sebenarnya buku ini tidak pernah saya rencanakan. Justru berawal dari pengajuan Mas Rochmad Widodo dari Penerbit Biografi Indonesia,” ujar Prof. Syaify.
Ia mengaku tertarik karena konsep buku yang ditawarkan tidak berhenti sebagai biografi. Buku itu dirancang menjadi ruang refleksi yang memadukan kisah perjalanan hidup dengan pemaknaan, pengalaman, dan pelajaran yang dapat dipetik pembaca.
Meski demikian, ada satu hal yang sempat membuatnya bimbang, yakni judul Dokter Multitalenta.
“Saya sempat ragu dengan judulnya. Ada rasa kurang sreg karena khawatir terkesan terlalu membesarkan atau memuji diri sendiri,” katanya.
Keraguan itu perlahan sirna setelah berdiskusi dengan putra-putrinya, drg. Irene dan drg. Mirza, serta istrinya, Siti Azizah.
Menurut Irene, perjalanan hidup sang ayah merupakan anugerah yang layak dibagikan. Ia menilai tidak banyak orang mampu menekuni dan berhasil dalam berbagai bidang secara bersamaan. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.
Pandangan serupa disampaikan Mirza. Sementara Siti Azizah, yang mendampingi Prof. Syaify sejak awal merintis karier, juga melihat bahwa julukan tersebut merupakan gambaran yang sesuai dengan perjalanan hidup suaminya.
Berangkat dari pertimbangan itu, Prof. Syaify akhirnya menerima judul tersebut sebagai representasi isi buku.
Dalam buku ini, pembaca diajak menelusuri perjalanan Prof. Syaify yang meniti berbagai peran sekaligus. Ia dikenal sebagai seorang jurnalis, dokter gigi, akademisi, sekaligus seniman lukis. Seluruh perjalanan tersebut disusun bukan untuk menonjolkan dirinya, melainkan untuk menunjukkan bahwa seseorang dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara bersamaan.
Rochmad Widodo mengatakan, proses penulisan buku dilakukan melalui serangkaian wawancara mendalam. Penuturan Prof. Syaify kemudian disusun menjadi narasi yang utuh dan sistematis.
“Buku ini memang berangkat dari perjalanan hidup Prof. Syaify sebagai pribadi yang mampu mengembangkan banyak talenta sekaligus. Namun, isinya bukan hanya kisah perjalanan hidup. Di dalamnya juga terdapat refleksi, tips, nilai-nilai kehidupan, dan pelajaran yang sangat relevan bagi siapa pun,” ujarnya.
Menurut Rochmad Widodo, kekuatan buku tersebut juga terletak pada hadirnya berbagai sudut pandang dari orang-orang yang mengenal Prof. Syaify dalam lintasan kehidupan dan kariernya.
“Pembaca tidak hanya melihat Prof. Syaify dari sudut pandangnya sendiri, tetapi juga melalui kesaksian orang-orang yang mendampinginya selama ini. Itu membuat buku ini menjadi kaya perspektif,” katanya.
Sejumlah tokoh turut memberikan ulasan dan kesan dalam buku tersebut. Di antaranya Rektor UGM Prof. Ova Emilia, budayawan Butet Kartaredjasa, aktor dan seniman Slamet Rahardjo, kurator seni rupa Kuss Indarto, penyair sekaligus kurator Nirwan Dewanto, mantan Ketua Komisi Yudisial Imam Anshori Saleh, Guru Besar UNY Prof. Suranto, hingga mantan Ketua KPK Abraham Samad.
Dalam kata pengantarnya, Prof. Syaify menegaskan bahwa buku itu tidak dimaksudkan untuk dibaca sebagai kisah tentang dirinya semata. Ia berharap pembaca menjadikannya sebagai ajakan untuk mengenali potensi diri dan mengembangkannya sebagai bentuk rasa syukur atas amanah yang diberikan Tuhan.
“Potensi bukan untuk dipamerkan atau dikejar demi pujian, melainkan dikembangkan agar memberi manfaat yang lebih luas,” tulisnya.
Rochmad Widodo menambahkan, meski berjudul Dokter Multitalenta, buku tersebut tidak hanya ditujukan bagi kalangan dokter atau tenaga kesehatan. Siapa pun, apa pun profesinya, dapat menemukan relevansi dari kisah dan nilai-nilai yang disampaikan di dalamnya.
Pesan itu sejalan dengan kutipan psikolog Howard Gardner yang menjadi penutup prolog buku tersebut: “Setiap manusia tidak diciptakan untuk satu peran. Kita adalah makhluk dengan ribuan kemungkinan.” Kalimat itu menjadi benang merah yang menegaskan semangat buku ini: setiap orang memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan, melampaui batas profesi yang sedang dijalani. [*]

