JAKARTA, MENARA62.COM – Kreativitas mahasiswa Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali mendapat panggung di tingkat nasional. Melalui ajang Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026, karya-karya batik inovatif mahasiswa berhasil menarik perhatian publik dengan menghadirkan perpaduan harmonis antara warisan budaya dan desain kontemporer.
Pameran yang berlangsung pada 8–12 Juli 2026 di Hall A Jakarta International Convention Center (JICC) ini diselenggarakan oleh APPBI mengusung tema “Rupa Makna Tambal Nusantara”. Kegiatan tersebut mempertemukan perajin, desainer, akademisi, serta pelaku industri kreatif dari berbagai daerah sebagai ruang kolaborasi dalam mengembangkan batik Indonesia.
Di stan Prodi KTF UM Bandung, pengunjung tidak hanya disuguhi batik tulis dan batik cap, tetapi juga berbagai produk kreatif berbasis tekstil seperti bantal dekoratif, lampu, hingga aksesori interior. Beragam karya tersebut menunjukkan bahwa batik memiliki potensi besar untuk terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang melekat.
Mahasiswa Prodi KTF UM Bandung, Wafa Ulhaq Ramadania, menjelaskan bahwa seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil proses pembelajaran dan eksplorasi selama menempuh pendidikan di kampus.
“Kami menghadirkan berbagai karya batik hasil pembelajaran selama perkuliahan, mulai dari batik tulis, batik cap, hingga penerapan tekstil untuk produk interior. Kami ingin menunjukkan bahwa batik memiliki ruang yang luas untuk terus berkembang menjadi karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Wafa, kesempatan tampil dalam ajang berskala nasional menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk memperkenalkan ide dan kreativitas kepada masyarakat luas. Setiap karya yang ditampilkan tidak hanya merepresentasikan kemampuan teknis, tetapi juga menjadi hasil perpaduan antara riset, tradisi, dan inovasi.
Antusiasme pengunjung pun terlihat sepanjang pameran. Salah seorang pengunjung, Melati, mengapresiasi kreativitas mahasiswa UM Bandung yang dinilainya mampu menghadirkan perspektif baru terhadap batik.
“Luar biasa. Karya-karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung sangat kreatif dan memiliki nilai budaya. Ini menjadi bentuk nyata upaya melestarikan batik Nusantara,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum APPBI, Komarudin Kudiya, menegaskan bahwa Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara bukan sekadar pameran, melainkan gerakan kebudayaan yang mempertemukan seluruh elemen dalam ekosistem batik Indonesia.
“Puspa Nuswantara hadir sebagai ruang bersama untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem batik,” ujarnya.
Komarudin yang juga dosen Prodi KTF UM Bandung sekaligus penulis buku Kreativitas Batik dalam Pewarnaan Sintesis menilai batik merupakan identitas bangsa yang menyimpan sejarah, filosofi, serta nilai-nilai kearifan lokal. Karena itu, para perajin dan pelaku industri kreatif perlu terus didorong agar mampu menjawab tantangan industri modern tanpa kehilangan jati diri budaya.
“Kami ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan menggunakan batik asli sebagai bagian dari kebanggaan nasional,” tegasnya.
Keikutsertaan Prodi KTF UM Bandung dalam Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 menjadi bukti bahwa perguruan tinggi mampu melahirkan karya yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian budaya Indonesia. Dari ruang-ruang studio kampus, kreativitas mahasiswa terus berkembang menjadi karya yang mampu berdialog dengan publik dan memperkuat eksistensi batik di tengah perkembangan zaman. (*)
