32.8 C
Jakarta

Menatap Masa Depan Digital: Menghidupkan Spirit Islam Berkemajuan Melalui Kedaulatan dan Bisnis Artificial Intelligence

Baca Juga:

Oleh: Suyoto, Pengajar Unmuh Gresik, Bupati Bojonegoro 2008-2018

 

BALI, MENARA62.COM – Sejak fajar kelahirannya di bawah rona pemikiran KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak pernah gentar menghadapi modernitas. Ketika sebagian besar masyarakat memandang skeptis sekolah klasikal, meja-kursi, dan ilmu astronomi modern (falak), KH. Ahmad Dahlan justru mengadopsinya untuk melayani umat. Inilah esensi dari Islam Berkemajuan: sebuah manifes keagamaan yang tidak gagap zaman, yang senantiasa menempatkan ijtihad dan akal suci sebagai instrumen transformasi sosial.

 

Hari ini, peradaban manusia tengah mengetuk pintu transformasi terbesar dalam sejarah: era Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan realitas penggerak ekonomi global. Dapat dipastikan kita semua sebagai pengguna AI. Bagi Muhammadiyah, momentum ini tidak boleh dihadapi dengan sikap pasif, apalagi ketakutan yang menolak perubahan. Tanda orang lemah biasanya hanya menilai tapi gagap menjadi pemain. Kita harus melompat, dari sekadar konsumen teknologi, menjadi pengguna aktif sekaligus pemain strategis dalam bisnis AI.

 

Tunduk pada Perintah Membaca Zaman

 

Islam adalah agama yang memerintahkan umatnya untuk terus mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

 

“Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (kekuasaan Allah).” (QS. Ar-Rahman: 33)

 

Kekuatan (sulthan) dalam konteks abad ke-21 ini termanifestasi nyata dalam bentuk penguasaan sains dan teknologi. Menolak menguasai AI sama saja dengan menyerahkan kemudi peradaban kepada pihak lain, dan membiarkan umat Islam terus berada di pinggiran sejarah.

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., dalam berbagai kesempatan senantiasa menekankan pentingnya kontekstualisasi dakwah ini:

 

Muhammadiyah harus mendesain kadernya untuk menguasai teknologi informasi dan sains. Kita tidak boleh menjadi penonton di tengah arus sekularisasi digital, kita harus mewarnainya dengan nilai-nilai ihsan dan kemanfaatan publik.”

 

Pesan kuat dari Buya Haedar ini sekaligus menjadi warisan kepemimpinan (legacy) yang krusial untuk fondasi masa depan persyarikatan menghadapi abad digital.

 

Dari Pengguna Bijak Menuju Produsen Aktif

 

Menjadi pengguna AI yang produktif berarti memanfaatkan teknologi ini sebagai asisten pelipat ganda kebaikan (augmentation). Di sektor pendidikan Muhammadiyah yang raksasa—dengan ribuan sekolah dan ratusan universitas—AI dapat digunakan untuk menciptakan kurikulum adaptif yang menyesuaikan kecepatan belajar setiap siswa secara personal. Di sektor kesehatan, jaringan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah dapat memanfaatkan AI untuk mempercepat diagnosis penyakit secara presisi.

 

Namun, langkah kita tidak boleh berhenti di situ. Muhammadiyah memiliki potensi raksasa untuk masuk ke dalam Bisnis AI (Komersial sekaligus Sosial-Preneruship). Mengapa? Karena aset terbesar di era digital bukan lagi minyak bumi, melainkan Data.

 

Muhammadiyah memiliki data capital (modal data) yang luar biasa masif: rekam medis yang teranonimisasi, data perilaku pendidikan, hingga data pengelolaan filantropi (ZISWAF). Jika data ini diolah secara etis melalui unit bisnis teknologi (spin-off Muhammadiyah), kita dapat melahirkan platform AI buatan sendiri.

 

Pakar strategi teknologi global, Erik Brynjolfsson dari Stanford University, menegaskan hal ini dalam tesisnya mengenai ekonomi digital:

“AI tidak akan menggantikan manusia. Namun, manusia yang menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakannya. Hal yang sama berlaku bagi organisasi.”

Membuka Kran “Tech-Preneurship” Muhammadiyah

 

Bagaimana Muhammadiyah dapat menangkap peluang bisnis ini secara konkret?

1. Pendidikan Berbasis AI (EdTech): Universitas Muhammadiyah dapat berkolaborasi mendirikan pusat riset algoritma untuk membangun aplikasi bimbingan belajar berbasis AI yang bernilai komersial tinggi, sekaligus murah untuk sekolah-sekolah di daerah 3T.

2. Kesehatan Digital (HealthTech): Konsorsium RS dan PKU Muhammadiyah dapat mengembangkan sistem AI pendeteksi dini penyakit tropis berbasis data lokal Indonesia. Ini adalah produk bernilai tinggi yang sangat dibutuhkan dunia medis global.

3. Infrastruktur Hijau (Green Computing): Memanfaatkan jaringan bisnis ekosistem Muhammadiyah untuk berinvestasi pada data center ramah lingkungan yang memanfaatkan energi terbarukan di berbagai daerah.

Penutup: Menjemput Takdir Peradaban

 

Jika dahulu KH. Ahmad Dahlan menggunakan kompas dan jam saku untuk meluruskan arah kiblat, maka hari ini, pimpinan dan warga Muhammadiyah harus menggunakan algoritma dan kecerdasan buatan untuk meluruskan arah kesejahteraan umat.

 

Menangkap peluang bisnis dan menjadi pengguna aktif AI bukan tentang ikut-ikutan tren kapitalistik, melainkan tentang menegakkan kedaulatan bangsa dan umat. Menjelang estafet kepemimpinan baru tahun depan, mari kita jadikan momentum ini untuk membuktikan bahwa Muhammadiyah siap menjadikan AI sebagai instrumen baru dakwah amar ma’ruf nahi munkar, demi mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya; masyarakat yang maju secara materi, merdeka secara teknologi, dan mulia secara spiritual.

 

Nashrun minallahi wa fathun qarib.

 

United in Diversity Bali Campus, 13 Juli 2026

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!