31.9 C
Jakarta

Lulusan Cumlaude Pilih Profesi Apoteker UM Bandung

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Memilih kampus untuk melanjutkan pendidikan profesi menjadi langkah penting bagi lulusan Sarjana Farmasi. Bagi Zakiatun Nufus, keputusan melanjutkan studi di Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bukan sekadar mengejar gelar profesi, tetapi mempersiapkan diri menjadi apoteker yang kompeten, beretika, dan siap mengabdi kepada masyarakat.

 

Lulusan cumlaude Program Studi Farmasi STIK Siti Khadijah Palembang dengan IPK 3,57 itu mengaku memilih UM Bandung karena kualitas tenaga pengajarnya yang dinilai memiliki kompetensi akademik dan pengalaman profesional yang kuat.

 

“Saya melihat dosen-dosen di UM Bandung memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik. Mayoritas merupakan lulusan perguruan tinggi negeri dan swasta ternama di Indonesia. Itu menjadi salah satu alasan saya yakin kuliah di sini,” ujarnya saat menjalani Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di RSJ Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (14/7/2026).

 

Menurut perempuan yang akrab disapa Kia itu, proses pembelajaran di PSPPA UM Bandung berlangsung interaktif. Para dosen tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membagikan pengalaman praktik sehingga mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan profesi apoteker di lapangan.

 

Selain metode pembelajaran, fasilitas laboratorium dan sarana praktik yang terus dikembangkan turut memberikan pengalaman belajar yang lebih optimal.

 

Bekal Kompetensi dan Etika Profesi

 

Kia menilai salah satu keunggulan PSPPA UM Bandung terletak pada penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang terintegrasi dalam proses pembelajaran.

 

Baginya, pembekalan nilai-nilai keislaman menjadi fondasi penting bagi calon apoteker dalam menjalankan profesi secara profesional dan beretika.

 

“Menurut saya, itu yang menjadi keunggulan Prodi Apoteker UM Bandung. Kami tidak hanya belajar tentang obat dan pelayanan kefarmasian, tetapi dibekali pemahaman agama yang berkaitan dengan etika profesi. Bekal itu penting karena apoteker nantinya akan berhadapan langsung dengan masyarakat,” tuturnya.

 

Selama menjalani pendidikan profesi, Kia juga merasakan adanya pendampingan yang intensif sebelum mahasiswa diterjunkan ke wahana praktik.

 

Sebelum mengikuti PKPA, mahasiswa memperoleh pembekalan menyeluruh sehingga lebih siap menghadapi berbagai tantangan di rumah sakit, apotek, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

 

Pendampingan Menuju UKAI

 

Saat ini, Kia tengah menjalani PKPA di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Aktivitas praktik berlangsung setiap hari kerja sebagai bagian dari pembentukan kompetensi profesional calon apoteker.

 

Ia mengungkapkan, persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) juga dilakukan secara sistematis melalui diskusi kasus, pembahasan materi, hingga latihan soal bersama dosen akademisi maupun dosen praktisi.

 

“Jadi, kami tidak dilepas begitu saja. Sebelum menjalani praktik ataupun menghadapi UKAI, kami mendapat berbagai pembekalan, pendampingan, dan diskusi intensif bersama dosen. Proses itulah yang membuat kami lebih siap dan lebih percaya diri,” katanya.

 

Menurut Kia, profesi apoteker masih memiliki prospek karier yang sangat luas. Lulusan profesi dapat berkiprah di rumah sakit, puskesmas, apotek, industri farmasi, pedagang besar farmasi, dinas kesehatan, hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

 

Bahkan, peluang menjadi wirausahawan dengan mendirikan apotek sendiri juga terbuka bagi apoteker yang telah memenuhi persyaratan profesi.

 

Karena itu, ia mengajak para lulusan Sarjana Farmasi yang masih ragu melanjutkan pendidikan profesi agar tidak menunda langkah mereka.

 

“Kalau ingin berkarier sebagai apoteker, jangan ragu melanjutkan ke pendidikan profesi. Selain menjadi syarat legal untuk bekerja, peluang kariernya juga sangat luas. Bahkan, kita juga punya kesempatan membangun usaha sendiri di bidang farmasi,” pesannya.

 

Bagi gadis asal Palembang yang gemar membaca, menyanyi, dan menonton tersebut, pendidikan profesi bukan sekadar proses memperoleh gelar tambahan. Lebih dari itu, pendidikan profesi menjadi tahapan penting untuk membentuk tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi, integritas, etika, dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

 

Melalui pengalaman yang dijalaninya, Kia menilai Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung berhasil menghadirkan lingkungan belajar yang tidak hanya memperkuat kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter calon apoteker profesional yang siap berkontribusi bagi dunia kesehatan dan bangsa. (FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!