34.4 C
Jakarta

UMS Dorong Pengabdian Berdampak Lewat Publikasi Berkualitas

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat budaya pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga menghasilkan publikasi dan dampak yang berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Optimalisasi Luaran Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS), Kamis (16/7/2026), di The Alana Hotel & Convention Center Solo.

 

Workshop ini menjadi bagian dari strategi UMS untuk meningkatkan kualitas luaran pengabdian dosen dan tenaga kependidikan (tendik), sekaligus mendorong hasil-hasil pemberdayaan masyarakat terdokumentasi dan dipublikasikan secara lebih luas.

 

Deputi Bidang Pengabdian dan Hilirisasi DRPPS UMS, Prof. Dr. Muhtadi, M.Si., menegaskan bahwa praktik baik yang dilakukan sivitas akademika tidak boleh berhenti sebagai laporan administratif semata.

 

Menurutnya, setiap tahun UMS menjalankan berbagai program pengabdian, mulai dari pendampingan UMKM, pemberdayaan desa, edukasi kesehatan, hingga pengembangan teknologi tepat guna. Namun, masih banyak hasil pengabdian yang belum dipublikasikan sehingga manfaat dan inovasinya belum diketahui masyarakat luas.

 

“Akibatnya, pengalaman berharga tersebut, praktik baik tersebut, hanya berhenti sebagai laporan kegiatan pengabdian. Padahal di dalamnya banyak pengetahuan, inovasi, dan praktik baik yang sangat layak dibagikan kepada masyarakat, baik masyarakat akademik, perguruan tinggi yang lain, maupun masyarakat yang lebih luas,” ujar Muhtadi.

 

Ia menjelaskan, paradigma pengabdian kini telah bergeser. Keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari kualitas luaran, publikasi, serta dampak nyata yang dihasilkan.

 

Berbagai bentuk luaran pengabdian yang didorong UMS meliputi artikel ilmiah di jurnal, publikasi di media massa, video edukatif, buku panduan, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), teknologi tepat guna, modul pelatihan, hingga model pemberdayaan yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

 

Sementara itu, Direktur DRPPS UMS, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., mengatakan tema workshop merupakan bagian dari upaya meningkatkan mutu pengabdian kepada masyarakat di lingkungan UMS.

 

Ia menjelaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat memiliki karakter berbeda dengan penelitian. Jika penelitian berangkat dari kesenjangan ilmiah (research gap), maka pengabdian lahir dari analisis kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat atau mitra.

 

Sarjito mengungkapkan partisipasi dosen dalam program pengabdian mengalami peningkatan signifikan. Dari sekitar 7 persen dosen yang terlibat pada 2021, kini angkanya telah melampaui 80 persen. Namun, menurutnya, peningkatan kuantitas harus diikuti dengan peningkatan kualitas luaran.

 

“Yang ingin kami titipkan pada kesempatan optimalisasi kali ini, selain laporan wajib, luaran pengabdian masyarakat juga harus berupa publikasi,” tegasnya.

 

Selain publikasi, Sarjito menambahkan video dokumentasi dan HKI juga menjadi luaran penting yang mampu memperkuat dampak program pengabdian.

 

UMS juga mulai memperluas keterlibatan tenaga kependidikan dalam kegiatan pengabdian. Pada batch pertama program tersebut, tercatat sebanyak 34 proposal telah diajukan sebagai bentuk kontribusi nyata tendik bersama dosen dalam pemberdayaan masyarakat.

 

Workshop menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Fajar Junaedi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Budi Santoso, dosen Ilmu Komunikasi UMS, serta Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom., dari Humas UMS.

 

Fajar Junaedi mendorong dosen dan tenaga kependidikan memanfaatkan media sosial sebagai sarana memperluas jangkauan hasil pengabdian kepada masyarakat.

 

“Meskipun pengabdian masyarakat itu berdasarkan masalah, tetapi penting untuk menambah narasi positif dengan solusi dan harapan,” ujarnya.

 

Sementara itu, Budi Santoso menilai publikasi melalui media massa menjadi langkah strategis untuk memperluas dampak pengabdian.

 

“Selain berita, hasil pengabdian juga dapat dikemas dalam bentuk esai atau opini,” katanya.

 

Adapun Asef Dwi Nugroho menekankan pentingnya konten video sebagai media komunikasi yang mampu menghadirkan cerita dan dampak pengabdian secara lebih kuat.

 

“Laporan pengabdian tertulis yang tebal sering kali hanya berakhir di arsip perpustakaan. Video mampu memvisualisasikan dedikasi, emosi, dan dampak nyata kerja dosen di lapangan secara instan,” jelasnya.

 

Ia juga membagikan teknik pengambilan gambar dan penyusunan storytelling agar dokumentasi pengabdian lebih menarik dan inspiratif.

 

Melalui workshop ini, UMS menegaskan komitmennya untuk membangun budaya pengabdian yang produktif, terdokumentasi, dan berdampak luas. Dengan mengoptimalkan publikasi melalui jurnal, media massa, media sosial, hingga video, hasil pengabdian diharapkan tidak hanya menjadi laporan akademik, tetapi juga mampu menginspirasi, memberikan solusi, dan mendorong kemajuan masyarakat secara berkelanjutan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!