33.4 C
Jakarta

Humas SD Muhammadiyah 1 Solo Ungkap Tantangan Era Digital

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Humas SD Muhammadiyah 1 Solo, Dwi Jatmiko, menilai lembaga pendidikan harus melakukan transformasi strategi branding agar mampu bertahan dan tetap menjadi pilihan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta persaingan pada era digital.

Hal tersebut disampaikannya usai menerima sertifikat dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, Rabu (15/7/2026). Menurutnya, dunia pendidikan kini menghadapi tantangan besar pada era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity), yang ditandai perubahan serbacepat, disrupsi digital, serta kompetisi antarlembaga yang semakin ketat.

“Perubahan yang sangat cepat menuntut sekolah maupun madrasah tidak lagi bersikap pasif dalam menjaring calon peserta didik. Lembaga pendidikan harus mampu beradaptasi melalui strategi komunikasi dan branding yang tepat,” ujar Jatmiko.

Ia menyampaikan hal tersebut dalam materi bertajuk “Transformasi Brand Menuju Branding”, yang menekankan pentingnya lembaga pendidikan mengintegrasikan aspek style (gaya visual) dan substance (kualitas) sebagai fondasi membangun citra positif di mata masyarakat.

Menurut Jatmiko, banyak lembaga pendidikan masih menyamakan pengertian brand dan branding, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda.

Brand, katanya, merupakan identitas sebuah lembaga berupa nama, istilah, simbol, maupun desain yang menjadi penanda nilai dan karakter lembaga. Sementara branding adalah proses aktif membangun persepsi, kepercayaan, dan reputasi melalui berbagai strategi komunikasi yang berkelanjutan.

“Branding menjadi mesin penggerak yang membuat masyarakat mengenal, percaya, hingga akhirnya memilih sebuah lembaga pendidikan,” jelasnya.

Dalam membangun branding yang kuat, Jatmiko mengacu pada Model Kotler yang membagi makna brand ke dalam enam tingkatan, yakni atribut, manfaat, nilai, budaya, kepribadian, dan pemakai.

Atribut mencakup aspek yang mudah terlihat seperti fasilitas sekolah dan program unggulan. Manfaat berkaitan dengan nilai fungsional maupun emosional yang dirasakan orang tua dan peserta didik, seperti rasa aman dan kenyamanan belajar.

Selanjutnya, nilai merepresentasikan karakter yang ingin ditanamkan lembaga, seperti prestasi, religiusitas, dan kedisiplinan. Budaya menggambarkan sistem nilai yang menjadi pedoman seluruh warga sekolah, sedangkan kepribadian menunjukkan karakter lembaga, seperti modern, ramah, atau inovatif.

Adapun aspek pemakai menggambarkan profil peserta didik yang menjadi target utama lembaga pendidikan.

Jatmiko juga menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun identitas visual maupun verbal lembaga. Menurutnya, sedikitnya terdapat enam unsur utama yang harus diperhatikan, yakni nama merek, logo, identitas visual, figur juru bicara, audio branding seperti mars sekolah, serta slogan atau tagline yang mudah diingat masyarakat.

Ia menilai seluruh elemen tersebut harus berjalan selaras agar mampu memperkuat citra sekaligus meningkatkan daya saing lembaga pendidikan di tengah derasnya arus informasi digital.

“Melalui transformasi brand yang terencana, sekolah dan madrasah diharapkan mampu bertahan sekaligus menjadi pilihan utama masyarakat di tengah ketatnya persaingan era digital,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!