BANDUNG, MENARA62.COM – Belajar hukum tidak selalu identik dengan menghafal pasal atau mendengarkan teori di ruang kuliah. Di Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, mahasiswa justru diajak memahami hukum melalui pendekatan yang interaktif, kontekstual, dan dekat dengan persoalan nyata di masyarakat.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh Fadila Rizka Anggraeni, mahasiswi semester enam asal Bandung. Perempuan kelahiran 16 Maret 2004 itu mengaku perkuliahan di Prodi HKI UM Bandung memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mengasah kemampuan analisis dan praktik.
Memiliki hobi membaca novel dan buku pengembangan diri, Fadila mengaku kegemarannya itu turut membentuk cara pandangnya terhadap nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Buku Nunchi dan Laut Bercerita menjadi dua bacaan favorit yang menginspirasinya dalam memahami kehidupan.
Ketertarikannya terhadap dunia hukum semakin berkembang setelah menjadi mahasiswa Prodi HKI UM Bandung. Menurutnya, materi yang dipelajari sangat komprehensif karena memadukan hukum Islam dengan hukum nasional.
“Mahasiswa belajar berbagai hal terkait hukum. Mulai dari hukum perkawinan, waris, wakaf, hingga penyelesaian sengketa keluarga dipelajari secara komprehensif dengan pendekatan akademis, islami, dan profesional. Selain itu, kita juga belajar hukum pidana, perdata, hukum acara perdata, dan sebagainya,” ujar Fadila di sela-sela Ujian Akhir Semester (UAS), Kamis (16/7/2026).
Ia menilai suasana akademik di UM Bandung menjadi salah satu alasan dirinya nyaman menjalani perkuliahan. Para dosen dinilai terbuka untuk berdiskusi, mudah diajak bertukar pikiran, serta aktif mendampingi mahasiswa selama proses belajar.
Tidak hanya belajar di dalam kelas, mahasiswa juga dibekali pengalaman melalui diskusi, presentasi, analisis kasus, penelitian, hingga program magang di berbagai lembaga hukum. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai dunia profesi sekaligus meningkatkan kompetensi yang dibutuhkan setelah lulus.
Menurut Fadila, kombinasi antara teori dan praktik membuat mahasiswa lebih siap menghadapi dinamika persoalan hukum di Indonesia.
Ia juga optimistis terhadap prospek karier lulusan Prodi HKI. Menurutnya, alumni memiliki peluang bekerja di berbagai bidang, seperti Kantor Urusan Agama (KUA), pengadilan, lembaga pemerintahan, menjadi hakim, advokat, konsultan hukum, peneliti, dosen, maupun profesi lain yang berkaitan dengan bidang hukum.
Selain kualitas pembelajaran, Fadila mengapresiasi lingkungan kampus yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa. Berbagai kesempatan mengikuti kompetisi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga kegiatan akademik dan nonakademik terbuka luas bagi mahasiswa.
Seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja, Prodi HKI UM Bandung juga terus berinovasi menghadirkan sistem pembelajaran yang adaptif agar lulusannya memiliki kompetensi akademik sekaligus keterampilan profesional.
Menjelang akhir perbincangan, Fadila berpesan kepada para siswa yang sedang menentukan pilihan jurusan kuliah agar tidak sekadar mengikuti tren, melainkan memilih program studi yang sesuai dengan minat dan potensi diri.
“Kenali passion kalian sejak awal. Kalau kita memilih jurusan yang sesuai dengan minat, proses belajar akan terasa lebih menyenangkan, kita bisa berkembang lebih maksimal, dan lebih siap menghadapi masa depan,” pesannya.
Melalui pendekatan pembelajaran yang aplikatif, kolaboratif, dan berbasis praktik, Prodi Hukum Keluarga Islam UM Bandung terus berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu hukum dari perspektif keislaman, tetapi juga memiliki karakter, integritas, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat. (FA)
