26.4 C
Jakarta

PTPN I Percepat Transisi Energi Berbasis Bioenergi

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – PT Perkebunan Nusantara I (Persero) menegaskan komitmennya dalam mempercepat transisi energi nasional melalui pengembangan bioenergi berbasis potensi perkebunan. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN I, Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, saat menjadi pembicara pada seminar internasional “Biomethane to LNG: Green Transition Towards Net Zero in ASEAN” yang diselenggarakan Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) bekerja sama dengan ASEAN Centre for Energy (ACE), Kamis (23/7), di Jakarta.

Forum yang dihadiri pemangku kepentingan sektor energi, pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan organisasi profesi dari berbagai negara ASEAN tersebut menjadi wadah strategis untuk membahas percepatan transisi menuju energi rendah karbon melalui pengembangan biomethane dan bioenergi.

Dalam paparannya, Abdul Rivai Ras menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pemain utama bioenergi di kawasan ASEAN. Menurutnya, kekuatan sektor perkebunan nasional harus dioptimalkan sebagai fondasi pengembangan energi baru terbarukan yang mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE).

“Transisi energi tidak dapat bertumpu pada satu sumber energi saja. Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan bioenergi berbasis biomethane maupun bioetanol secara paralel sehingga mampu menciptakan sistem energi yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berbasis sumber daya domestik,” ujar Abdul Rivai Ras.

Ia menjelaskan, PTPN I melalui anak usaha Energi Agro Nusantara (ENERO) terus memperkuat pengembangan bioetanol berbahan baku molases tebu sebagai bagian dari strategi hilirisasi perkebunan. Saat ini ENERO memiliki kapasitas produksi sekitar 100 kiloliter per hari yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi, alkohol industri, karbon dioksida (CO₂) food grade, hingga pupuk organik melalui penerapan konsep zero waste industry.

Menurut Abdul Rivai Ras, model bisnis tersebut menunjukkan bahwa sektor perkebunan tidak hanya menghasilkan komoditas primer, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah melalui inovasi hilirisasi yang mendukung ekonomi sirkular dan pembangunan rendah karbon.

“Setiap produk samping kami manfaatkan kembali sehingga menciptakan efisiensi, mengurangi limbah, sekaligus menghasilkan energi bersih. Inilah transformasi yang sedang dibangun PTPN I untuk menghadirkan industri perkebunan yang semakin modern dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan pengembangan bioenergi nasional saat ini bukan semata pada aspek teknologi maupun kapasitas produksi, melainkan pada kepastian pasar dan kebijakan yang mampu mendorong percepatan investasi.

Menurutnya, mandat pemanfaatan bioenergi secara berkelanjutan akan memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Sebagai bagian dari implementasi strategi tersebut, PTPN I telah menjalin kerja sama dengan PT Pertamina Patra Niaga dalam penyediaan bioetanol untuk mendukung pengembangan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan juga terus memperluas kapasitas produksi sebagai bentuk kesiapan mendukung kebijakan pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan.

Abdul Rivai Ras menegaskan bahwa PTPN I memandang transisi energi sebagai bagian dari transformasi korporasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional.

“PTPN I berkomitmen menjadi bagian dari solusi ketahanan energi Indonesia melalui pengembangan bioenergi berbasis sumber daya perkebunan. Dengan memperkuat hilirisasi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis bioenergi akan menjadi salah satu pilar penting menuju ekonomi hijau dan masa depan energi yang berkelanjutan,” tegasnya.

Melalui partisipasi aktif dalam forum regional tersebut, PTPN I kembali menegaskan posisinya sebagai BUMN perkebunan yang tidak hanya bertransformasi dalam aspek bisnis, tetapi juga mengambil peran strategis dalam mendorong agenda transisi energi nasional dan memperkuat kerja sama menuju ekosistem energi hijau di kawasan ASEAN.(*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!