SOLO, MENARA62.COM — Senyum Dwi mengembang ketika menemukan pakaian berukuran besar yang pas untuk anaknya. Bukan hanya karena mendapat barang secara gratis, tetapi karena pakaian itu memang sedang dibutuhkan keluarganya.
“Kebetulan ada baju ukuran besar untuk anak saya, jadi saya ambil. Sangat bermanfaat sekali,” kata Dwi seusai mengikuti aksi sosial di Ruang Solidaritas Joli Jolan, Kerten, Surakarta, Sabtu (8/8/2026).
Bagi Dwi, kegiatan tersebut bukan sekadar tempat mendapatkan barang kebutuhan. Ia juga bertemu dengan orang-orang baru dan menambah pertemanan.
“Senang sekali karena dapat barang yang dibutuhkan secara gratis, dapat banyak kenalan dan menambah pertemanan,” ujarnya.
Cerita Dwi menjadi gambaran kecil dari aksi kolaboratif yang digelar Lazismu Surakarta bersama Gebrak Indonesia dan Ruang Solidaritas Joli Jolan. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh makanan siap santap, pakaian layak pakai, buku, mainan, perlengkapan sekolah, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Sebanyak 150 porsi makanan turut dibagikan melalui Foodtruck Humanity milik Lazismu Surakarta. Menu yang disajikan berupa nasi ayam suwir dan sayur jipang.
Makanan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga sekaligus menghadirkan manfaat secara langsung.
Dari Mobil Dapur hingga Rak Barang Donasi
Foodtruck Humanity merupakan program mobil dapur keliling yang digunakan Lazismu Surakarta dalam berbagai aksi sosial dan kemanusiaan.
Dengan konsep bergerak dari satu titik ke titik lainnya, program tersebut memungkinkan bantuan makanan menjangkau masyarakat di berbagai lokasi.
Manajer Lazismu Surakarta, Wahid Hamdani, mengatakan program tersebut memiliki semangat yang sejalan dengan kegiatan yang dilakukan Gebrak Indonesia dan Joli Jolan.
“Kita memiliki program yang memanfaatkan mobil untuk berkeliling ke berbagai titik, yaitu Foodtruck Humanity. Program ini dimanfaatkan untuk berbagi dan alhamdulillah memiliki satu visi dengan Gebrak Indonesia dan Joli Jolan,” ujar Wahid.
Menurut dia, kolaborasi menjadi cara penting untuk memperluas manfaat aksi sosial.
“Dengan adanya kolaborasi ini, semakin banyak penerima manfaat yang dibantu,” katanya.
Di sisi lain, masyarakat yang datang ke Joli Jolan tidak hanya mencari makanan. Mereka juga dapat memilih berbagai barang yang dibutuhkan dari donasi warga.
Pakaian, buku bacaan, mainan, peralatan sekolah, hingga perlengkapan kebutuhan sehari-hari tersedia dalam kondisi layak digunakan.
Konsep tersebut membuat penerima manfaat dapat memilih barang sesuai kebutuhan masing-masing. Barang yang mungkin sudah tidak digunakan oleh seseorang kemudian mendapatkan kehidupan baru di tangan orang lain yang lebih membutuhkan.
Penerima Manfaat Datang Bergantian
Antusiasme warga yang datang bahkan tidak hanya berasal dari Kota Surakarta. Penerima manfaat juga datang dari berbagai wilayah di Solo Raya.
Agar bantuan tidak hanya dinikmati oleh orang yang sama, Ruang Solidaritas Joli Jolan menerapkan sistem kehadiran bergiliran.
Co-Founder Ruang Solidaritas Joli Jolan, Chrisna Chanis Cara, mengatakan warga yang telah menerima bantuan pada satu pekan harus menunggu dua pekan sebelum kembali.
“Orang yang datang berasal dari wilayah Solo Raya, mereka yang datang ke Joli Jolan paling cepat dua minggu. Jadi orang yang Sabtu kemarin datang tidak bisa datang lagi di Sabtu minggu depannya, jadi orang-orangnya berganti setiap pekan,” jelas Chrisna.
Mekanisme tersebut menjadi upaya untuk menjaga pemerataan sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak warga untuk memperoleh manfaat.
Di balik mekanisme sederhana itu terdapat semangat yang lebih besar: bantuan tidak berhenti pada satu orang, tetapi terus berpindah kepada mereka yang membutuhkan.
Kebaikan Berputar dari Warga untuk Warga
Aksi sosial tersebut menghidupkan prinsip “dari warga untuk warga”. Barang yang sebelumnya didonasikan masyarakat kembali digunakan untuk membantu masyarakat lainnya.
Semangat tersebut membuat donasi tidak sekadar menjadi barang yang berpindah tangan. Di dalamnya terdapat kepedulian, kepercayaan, dan harapan agar sesuatu yang masih bernilai tidak terbuang sia-sia.
Bagi Dwi dan penerima manfaat lainnya, bantuan mungkin terlihat sederhana. Sebuah baju, seporsi makanan, buku, atau perlengkapan sekolah. Namun, ketika diberikan pada saat yang tepat, barang tersebut dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.
Kolaborasi Lazismu Surakarta, Gebrak Indonesia, dan Ruang Solidaritas Joli Jolan akhirnya bukan hanya menghadirkan 150 porsi makanan atau berbagai barang layak pakai.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut mempertemukan warga, membuka ruang berbagi, dan memperlihatkan bahwa solidaritas dapat tumbuh dari hal-hal sederhana.
Sebab, ketika barang yang tak lagi digunakan oleh seseorang berpindah kepada mereka yang membutuhkan, dan ketika seporsi makanan dapat mengurangi beban seseorang hari itu, kebaikan sedang menemukan jalannya sendiri.
Semangat gotong royong itulah yang diharapkan terus tumbuh, sehingga semakin banyak warga tergerak untuk berbagi dan semakin luas pula manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. (*)
