SOLO, MENARA62.COM — Majalah dinding (mading) sekolah kembali dihidupkan mahasiswa Praktik Lapangan Persekolahan (PLP) 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ sebagai sarana edukasi dan kampanye anti-bullying di SMP Negeri 3 Kartasura.
Mengusung tema “Stop Bullying”, mading tersebut tidak sekadar menjadi pajangan sekolah. Mahasiswa menjadikannya sebagai media informasi, edukasi, ajakan, sekaligus penyampaian pesan moral dan keagamaan bagi siswa.
Program revitalisasi mading menjadi salah satu kegiatan mahasiswa selama menjalankan PLP 2 di SMP Negeri 3 Kartasura. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta Fakultas Agama Islam (FAI) UMS.
Selama PLP 2, mahasiswa tidak hanya mengikuti proses pembelajaran di ruang kelas. Mereka juga berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang positif.
Koordinator pembuatan mading, Eldina Nurdiana, mengatakan pemilihan tema bullying dilatarbelakangi pentingnya membangun kesadaran siswa mengenai dampak perundungan sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
“Tema bullying dipilih karena masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian di lingkungan sekolah. Melalui mading ini, diharapkan siswa semakin memahami dampak bullying serta terdorong untuk saling menghargai, peduli, dan bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman,” ujar Eldina, Selasa (11/8/2026).
Menurut dia, revitalisasi mading juga diarahkan agar media tersebut dapat dimanfaatkan sekolah secara berkelanjutan.
“Selain mengangkat isu anti-bullying, revitalisasi mading juga menjadi upaya kami untuk menghadirkan media komunikasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah,” katanya.
Mading, lanjut Eldina, dapat dikembangkan sebagai ruang untuk menyampaikan informasi sekolah, menampilkan karya siswa, memberikan edukasi, hingga menyampaikan pesan moral dan keagamaan.
Pesan Anti-Bullying Dikemas Kreatif
Kampanye anti-bullying dalam mading dikemas menggunakan bahasa yang santun dan desain visual yang menarik. Pendekatan tersebut dipilih agar pesan lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan siswa.
Mahasiswa PLP 2 UMS berharap keberadaan mading dapat menjadi pengingat bagi siswa untuk lebih berhati-hati dalam bersikap, berbicara, dan berinteraksi dengan teman.
Selain mengajak siswa menghentikan bullying, mading tersebut juga membawa pesan penting tentang membangun hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah.
Program tersebut mendapat apresiasi dari SMP Negeri 3 Kartasura. Dra. Wahyuni Puji Rahayu, bagian kurikulum sekaligus guru penanggung jawab mahasiswa PLP 2, menilai konsep mading yang dibuat mahasiswa kreatif dan relevan dengan kehidupan siswa.
“Mading yang dibuat oleh mahasiswa PLP II sudah sangat kreatif dan menarik. Pemilihan tema Stop Bullying juga sangat relevan dengan kehidupan siswa di lingkungan sekolah,” ujar Wahyuni.
Menurut dia, kekuatan mading tersebut terletak pada cara mahasiswa menyampaikan pesan anti-bullying secara santun, visual yang menarik, serta pesan moral yang mudah dipahami siswa.
Wahyuni berharap mading tersebut tidak berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan program PLP 2.
“Kami berharap mading ini tidak hanya menjadi media informasi, tetapi juga dapat menjadi langkah awal untuk mengajak siswa bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai,” katanya.
Bagi mahasiswa PLP 2 UMS, revitalisasi mading menjadi bagian dari pengalaman belajar di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kontribusi mahasiswa calon pendidik tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui upaya membangun budaya sekolah yang positif.
Dengan menghidupkan kembali mading, mahasiswa turut menghadirkan ruang komunikasi yang dapat digunakan untuk menyebarkan informasi, kreativitas, edukasi, serta nilai-nilai positif bagi warga sekolah. (*)

