29.1 C
Jakarta

Wamen Fajar: SNT Buka Jalan Anak Daerah ke Kampus Dunia

Baca Juga:

GORONTALO, MENARA62.COM — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mendorong siswa Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di Bone Bolango, Gorontalo, berani bermimpi besar dan menembus kampus terbaik dunia.

 

Pesan itu disampaikan Fajar saat mengunjungi SNT Bone Bolango, Selasa (18/8/2026). Kunjungan berlangsung dalam suasana akrab ketika lagu Aku Pasti Bisa dinyanyikan bersama siswa dan guru.

 

Fajar tidak hanya meninjau ruang kelas dan fasilitas sekolah. Ia berdialog langsung dengan siswa, termasuk Akmal yang dinilai memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk tampil.

 

“Di SNT jangan takut mencoba hal baru. Itu bagian dari growth mindset,” pesan Fajar.

 

Menurut dia, keberhasilan tidak selalu datang dari percobaan pertama. Orang-orang hebat justru tumbuh melalui keberanian mencoba, menghadapi kegagalan, belajar, lalu bangkit kembali.

 

Siswa SNT Bone Bolango Ingin Kuliah di Berkeley

 

Salah seorang siswa, Kia, mengaku tertarik belajar di SNT karena fasilitas dan suasana pembelajaran yang berbeda.

 

“Sekolahnya bagus, fasilitasnya lengkap, gaya belajarnya juga berbeda sehingga membuat kami nyaman. Di sini juga tidak ada perundungan,” kata Kia.

 

Fajar meminta siswa memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh. Fasilitas pendidikan yang disediakan pemerintah, menurutnya, harus dibalas dengan semangat belajar dan prestasi.

 

“Adik-adik harus bersyukur diberi fasilitas yang lengkap dan nyaman. Manfaatkan belajar di SNT sebaik mungkin dan jadilah yang terbaik di bidang masing-masing,” ujarnya.

 

Fajar juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki minat, bakat, dan jalan hidup yang berbeda.

 

“Beda itu indah. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi jangan menjadi orang biasa saja. Kalian harus menjadi orang-orang luar biasa yang membangun bangsa dan daerah masing-masing,” katanya.

 

Optimisme itu terlihat ketika seorang siswi menceritakan pengalaman belajar di SNT. Ia menyebut siswa dibiasakan berpikir kritis dan mempelajari bahasa asing untuk memperluas wawasan.

 

Siswi tersebut bahkan memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

 

Fajar menyambut positif cita-cita tersebut. Menurutnya, anak-anak dari daerah harus berani membayangkan masa depan hingga tingkat global.

 

“Dengan SNT, adik-adik bisa kuliah di luar negeri. Pak Presiden Prabowo membuka mimpi itu dengan adanya SNT,” ujar Fajar.

 

“Di SNT sudah terbuka gerbang untuk meraih cita-cita, bisa masuk kampus terbaik di dalam maupun luar negeri,” lanjutnya.

 

Dorong Bahasa Asing dan Karakter

 

Fajar mendorong siswa memperkuat kemampuan bahasa asing sebagai modal membuka cakrawala global. Namun, kemampuan tersebut harus tetap diiringi nilai dan jati diri Indonesia.

 

Ia juga mengingatkan siswa agar tidak terlena dengan fasilitas yang tersedia.

 

“Jangan jadi anak manja. Setelah masuk SNT, banyak peluang yang bisa diraih,” pesannya.

 

SNT merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemerataan mutu pendidikan. Pemerintah menargetkan 500 layanan SNT jenjang SMP-SMA secara bertahap hingga 2029.

 

Program tersebut dirancang sebagai pusat pengembangan pendidikan di daerah dengan pembelajaran yang antara lain berfokus pada STEAMS—sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika—serta olahraga dan pengayaan global dengan tetap berakar pada nilai Indonesia.

 

Program SNT juga diarahkan untuk menjawab kesenjangan mutu pendidikan antardaerah. Berdasarkan data Kemendikdasmen yang bersumber dari Dapodik per 30 Juni 2025 dan Rapor Pendidikan 2025, baru 263 dari 7.288 kecamatan atau sekitar 4 persen yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian mutu baik.

 

SNT Harus Jadi Pusat Pengimbasan

 

Fajar menegaskan SNT harus tetap inklusif dan terbuka. Kehadiran sekolah tersebut tidak boleh menciptakan jarak dengan sekolah lain, tetapi justru memperluas akses terhadap pendidikan bermutu.

 

Manfaat SNT diharapkan tidak berhenti pada siswa yang belajar di dalamnya. Sekolah tersebut juga ditargetkan menjadi pusat pengimbasan bagi sekolah sekitar melalui pengembangan kompetensi guru, pemanfaatan laboratorium dan fasilitas bersama, kemitraan, serta penyebaran praktik baik.

 

Pada 2026, SNT dibangun di 37 lokasi. Sebanyak 17 kabupaten/kota dipersiapkan beroperasi mulai Tahun Ajaran 2026/2027, termasuk Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

 

Saat berdialog dengan para guru, Fajar melihat banyak tenaga pendidik SNT berasal dari generasi muda. Ia mendorong mereka membawa semangat baru dalam proses pembelajaran.

 

“Guru-gurunya muda, harus punya semangat baru,” katanya.

 

Fajar juga menanyakan bagaimana sekolah melatih siswa mengelola emosi. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan akademik.

 

“Adik-adik dilatih bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional,” ujarnya.

 

Konsep tersebut sejalan dengan desain SNT yang memadukan transformasi infrastruktur, sumber daya manusia, penguatan karakter, serta Pembelajaran Mendalam berbasis STEAMS. Guru SNT juga diarahkan menjadi penggerak pengimbasan bagi guru di sekolah sekitar.

 

Bagi Fajar, keberhasilan SNT tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan dan kelengkapan fasilitas. Ukuran utama justru terletak pada kualitas manusia yang tumbuh di dalamnya.

 

“SNT harus melahirkan calon-calon pemimpin bangsa,” tegasnya.

 

Lagu Aku Pasti Bisa yang dinyanyikan pada awal kunjungan seolah menjadi gambaran semangat para siswa. Dari Bone Bolango, seorang siswa berani menyebut Berkeley sebagai cita-cita, sementara siswa lainnya membawa mimpi masing-masing.

 

Melalui SNT, pemerintah berharap anak-anak dari berbagai daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan potensi, menembus perguruan tinggi terbaik, dan kelak mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!