33.1 C
Jakarta

Dosen Ilmu Komunikasi UMS Latih Guru SMK Muhammadiyah 2 Sleman

Baca Juga:

SLEMAN, MENARA62.COM — Kemampuan komunikasi persuasif menjadi modal penting bagi guru dan karyawan dalam memperkenalkan program serta keunggulan sekolah kepada calon siswa dan orang tua. Untuk memperkuat keterampilan tersebut, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memberikan pendampingan kepada guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 2 Sleman, Kamis (20/8/2026).

 

Kegiatan bertajuk “Pendampingan Peningkatan Keterampilan Komunikasi Persuasif dan Public Speaking bagi Guru sebagai Duta Promosi di SMK Muhammadiyah 2 Sleman” itu diikuti 30 peserta yang terdiri atas guru dan karyawan.

 

Pendampingan dipimpin Zukhrofa Rizkiana Ramadhani, S.Tr.I.Kom., M.Sn., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UMS, bersama mahasiswa Avanno Syafani Surya dan Iman Syahputra. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Pengembangan Individual Dosen (PkM-PID) Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS.

 

Kegiatan dirancang untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam menyampaikan informasi dan keunggulan sekolah secara komunikatif, persuasif, serta sesuai dengan karakter audiens.

 

Zukhrofa mengatakan kebutuhan terhadap keterampilan tersebut semakin penting seiring kompetisi antarlembaga pendidikan dalam menarik minat calon siswa.

 

Dalam konteks promosi sekolah, guru dan karyawan bukan sekadar penyampai informasi. Mereka juga menjadi representasi sekolah yang berperan membangun kepercayaan serta menjelaskan nilai dan keunggulan sekolah secara relevan kepada calon siswa, orang tua, dan masyarakat.

 

“Komunikasi persuasif bukan sekadar bagaimana membuat orang tertarik, tetapi bagaimana kita memahami siapa audiens kita, apa yang mereka butuhkan, kemudian menyampaikan nilai sekolah dengan cara yang relevan dan meyakinkan,” jelas Zukhrofa, Sabtu (22/8/2026).

 

Kenalkan Strategi Komunikasi Persuasif

 

Dalam pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai komunikasi persuasif, public speaking, audience-centered communication, penyusunan pesan promosi, serta teknik penyampaian pesan melalui vokal dan bahasa tubuh.

 

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah Hook–Need–Value–Proof–Action sebagai struktur penyusunan pesan persuasif.

 

Melalui konsep tersebut, peserta diajak memahami bahwa promosi sekolah tidak cukup hanya menyampaikan daftar program atau fasilitas. Pesan harus diawali dengan menarik perhatian audiens (hook), memahami kebutuhan mereka (need), menunjukkan nilai yang relevan (value), memberikan bukti pendukung (proof), dan mengarahkan audiens pada tindakan berikutnya (action).

 

Peserta juga diperkenalkan dengan konsep ethos, pathos, dan logos sebagai fondasi pesan persuasif. Ketiga aspek tersebut digunakan untuk membangun kredibilitas pembicara, menghubungkan pesan dengan kebutuhan audiens, sekaligus memberikan alasan dan bukti yang dapat dipercaya.

 

Setelah menerima materi, peserta mengikuti praktik menggunakan Communication Canvas. Mereka dibagi menjadi lima kelompok untuk merancang pesan promosi sekolah berdasarkan karakter audiens tertentu.

 

Dalam praktik tersebut, peserta mengidentifikasi audiens, kebutuhan atau persoalan yang dihadapi, nilai yang ditawarkan sekolah, bukti pendukung, hook, hingga call to action. Hasil rancangan kemudian dipresentasikan dan mendapatkan umpan balik dari tim pendamping.

 

Praktik ini dirancang agar peserta tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu menerapkan komunikasi persuasif dalam situasi yang dekat dengan aktivitas promosi sekolah.

 

Disiapkan untuk Hadapi PMB

 

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Sleman Ahmad Maftuhin, S.H.I., menyambut baik pendampingan yang dilakukan UMS. Ia berharap kegiatan tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi lanjutan dengan Program Studi Ilmu Komunikasi UMS.

 

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena keterampilan komunikasi persuasif sangat dibutuhkan oleh guru dan karyawan ketika berinteraksi dengan calon siswa maupun orang tua,” ujar Ahmad.

 

Menurut dia, pelatihan lanjutan yang lebih praktis dibutuhkan agar keterampilan komunikasi guru dan karyawan dapat langsung diterapkan, khususnya ketika menghadapi Penerimaan Murid Baru (PMB) pada tahun ajaran berikutnya.

 

Menanggapi kebutuhan tersebut, Zukhrofa menilai keterampilan komunikasi praktis dapat menjadi fokus pengembangan pada pendampingan selanjutnya.

 

“Pelatihan hari ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa setiap audiens membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda,” katanya.

 

Ia menyebut pelatihan berikutnya dapat diarahkan pada simulasi menghadapi calon siswa dan orang tua, penyusunan script komunikasi, hingga praktik role play dalam situasi PMB.

 

Menurut Zukhrofa, kemampuan komunikasi persuasif akan semakin efektif jika peserta memperoleh kesempatan berlatih dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata. Dengan demikian, guru dan karyawan tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki kesiapan saat menjelaskan program sekolah, menjawab pertanyaan calon siswa dan orang tua, serta menyampaikan keunggulan sekolah secara meyakinkan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!