BANDUNG, MENARA62.COM — Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya mengingatkan mahasiswa dan masyarakat agar tidak bergantung sepenuhnya pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Meski menawarkan berbagai kemudahan, AI tetap harus digunakan secara kritis dan berlandaskan etika.
Pesan tersebut disampaikan Atalia saat menjadi pembicara kunci dalam Workshop Riset di Era AI: Strategi Riset dan Etika Akademik bagi Mahasiswa PTKI di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Kamis (20/8/2026).
Atalia mengatakan perkembangan AI berlangsung sangat cepat dan telah masuk ke berbagai bidang kehidupan, termasuk kesehatan. Masyarakat kini bahkan mulai memanfaatkan AI untuk mencari informasi mengenai penyakit dan obat sebelum berkonsultasi dengan tenaga medis.
“Bahkan ada yang sebelum berobat ke dokter berinteraksi dulu dengan AI mengenai penyakit dan perkiraan obatnya,” kata Atalia.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan semakin mudahnya masyarakat mengakses teknologi AI. Berbagai platform seperti Gemini, ChatGPT, Claude, dan Perplexity juga mampu membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu relatif lama.
AI dapat dimanfaatkan untuk merangkum jurnal, buku, surat elektronik, hingga mencari dan mengolah informasi. Kemudahan akses dan biaya yang relatif terjangkau membuat teknologi tersebut semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Melihat fenomena AI hari ini, seakan-akan manusia tersisihkan. AI sudah menjadi teman akrab sehari-hari. Mereka juga ternyata bisa menjadi teman mengobrol,” ujarnya.
AI Bisa Menghasilkan Informasi Keliru
Di balik kemudahan tersebut, Atalia mengingatkan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan. Teknologi tidak memiliki emosi, keteladanan, serta nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana manusia.
AI juga tidak selalu memberikan informasi yang benar. Ketika data atau konteks yang tersedia tidak memadai, teknologi tersebut dapat menghasilkan jawaban yang keliru.
“AI bisa berbohong. Dia seperti gengsi mengatakan tidak tahu terhadap pertanyaan yang kita ajukan. Dia bisa mengarang-ngarang saja,” katanya.
Karena itu, Atalia meminta mahasiswa tidak menjadikan hasil AI sebagai sumber kebenaran yang langsung diterima. Informasi yang dihasilkan AI harus diperiksa, dibandingkan dengan sumber lain, serta dipertimbangkan kembali sebelum digunakan.
“AI hanya alat dan teman diskusi untuk bertukar ide. Hasil AI tentu tidak bisa dilaksanakan seratus persen. Penggunaan harus disertai dengan etika,” tegasnya.
Manusia Tetap Penentu Keputusan
Atalia juga mendorong masyarakat, khususnya sivitas akademika, terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hal itu termasuk mempersiapkan diri menghadapi teknologi yang semakin canggih, termasuk super AI.
Di lingkungan perguruan tinggi, dosen juga dinilai perlu terus meningkatkan kompetensi agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan karakter mahasiswa yang terus berubah.
Menurut Atalia, perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan etika, agama, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Kecanggihan AI tidak boleh membuat manusia kehilangan peran dalam menentukan arah dan mengambil keputusan.
“AI tidak menggantikan akal dan kreativitas manusia,” ujarnya.
Atalia juga mengapresiasi UM Bandung yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan AI sekaligus membahas riset dan etika akademik. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi yang konstruktif.
Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengatakan workshop tersebut memberikan wawasan penting bagi mahasiswa, terutama dalam memahami pemanfaatan AI untuk kegiatan penelitian.
Menurut Herry, perkembangan AI membuat pemahaman mengenai panduan dan etika penggunaan teknologi tersebut semakin penting bagi sivitas akademika.
Karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya diharapkan mampu memanfaatkan AI untuk mendukung kegiatan akademik, tetapi juga memahami batas, risiko, serta tanggung jawab dalam penggunaannya. (FA/*)

