DENPASAR, MENARA62.COM — Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (BIM University) memperkuat komitmen membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pengembangan talenta, inovasi, dan entrepreneurship.
Komitmen itu mengemuka dalam Kuliah Umum BIM University yang menghadirkan Hj. Ernawati, S.STP., M.M., Plt. Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Balangan, yang hadir mewakili Bupati Balangan.
Dalam kesempatan tersebut, Ernawati memaparkan pengalaman Pemerintah Kabupaten Balangan membangun sumber daya manusia (SDM), salah satunya melalui Program Beasiswa 1.000 Sarjana.
Menurut Ernawati, pendidikan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas manusia sekaligus memperkuat pembangunan daerah.
“Talenta itu bakat dan minat. Kemudian talenta diasah melalui pendidikan, melahirkan inovasi, dan inovasi tersebut diwujudkan menjadi entrepreneurship yang memberikan value added bagi individu maupun daerah,” ujar Ernawati.
Beasiswa 1.000 Sarjana Capai 3.780 Penerima
Salah satu program unggulan yang dipaparkan dalam kuliah umum tersebut adalah Beasiswa 1.000 Sarjana Kabupaten Balangan.
Ernawati menjelaskan, angka 1.000 dalam nama program merupakan target minimal. Hingga kini, pemerintah daerah telah membiayai sekitar 3.780 mahasiswa dan bekerja sama dengan kurang lebih 60 perguruan tinggi di Indonesia.
“Namanya memang Beasiswa 1.000 Sarjana, tetapi definisi operasionalnya adalah minimal 1.000. Sampai sekarang sudah sekitar 3.780 yang kita biayai dan sudah bekerja sama dengan kurang lebih 60 universitas atau perguruan tinggi di Indonesia,” jelasnya.
Program tersebut memberikan bantuan biaya pendidikan berupa UKT atau SPP selama masa studi, khususnya bagi mahasiswa jenjang sarjana yang memenuhi ketentuan.
Ernawati menilai kebijakan itu merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah terhadap peningkatan kualitas SDM. Investasi pendidikan, kata dia, memiliki dampak jauh lebih panjang karena lulusan diharapkan tidak sekadar memperoleh gelar akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan daerah.
Pemkab Balangan Dorong Kolaborasi dengan BIM University
Ernawati juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam membangun SDM unggul.
Menurutnya, pemerintah memiliki kebijakan dan sumber daya pembangunan, sedangkan perguruan tinggi memiliki kekuatan dalam riset, pendidikan, kurikulum, dan pendampingan akademik.
“Pemerintah daerah memiliki kebijakan dan sumber daya pembangunan, sementara perguruan tinggi memiliki keunggulan riset, kurikulum, dan pendampingan akademik. Kolaborasi ini menyatukan dua kekuatan untuk mencetak SDM Balangan yang unggul dan berdaya saing global,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, BIM University dinilai memiliki posisi strategis karena mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan (knowledge), tetapi juga keterampilan (skill) dan sikap (attitude).
Lingkungan Bali juga dinilai dapat memberikan pengalaman pembelajaran yang relevan. Mahasiswa dapat melihat secara langsung perkembangan sektor budaya, pariwisata, hospitality, dan industri kreatif sebagai bagian dari ekosistem ekonomi.
Potensi tersebut diharapkan membuka wawasan mahasiswa Kabupaten Balangan mengenai cara mengembangkan pengetahuan dan keterampilan menjadi peluang ekonomi.
Lulusan Tak Harus Jadi ASN
Ernawati juga mendorong mahasiswa mengubah pola pikir bahwa kelulusan perguruan tinggi harus berujung pada profesi sebagai aparatur sipil negara (ASN).
Menurut dia, perkembangan ekonomi kreatif dan teknologi telah membuka peluang kerja yang jauh lebih beragam.
“Mindset bahwa setelah lulus kuliah harus menjadi ASN itu keliru. Peluang kerja sangat banyak. Kita harus memperoleh earn of living dari kreativitas dan skill yang kita miliki,” tegasnya.
Pemkab Balangan, lanjut Ernawati, juga tengah memikirkan bagaimana keberlanjutan program beasiswa dapat terhubung dengan pembangunan daerah setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Sinergi lintas perangkat daerah, termasuk sektor koperasi dan UMKM, perdagangan, teknologi informasi, serta bidang lainnya, dinilai penting agar lulusan penerima beasiswa dapat menjadi bagian dari ekosistem pembangunan daerah.
Mahasiswa Didorong Jadi Agent of Change
Ernawati turut mendorong mahasiswa mengambil peran sebagai agent of change bagi masyarakat.
Menurutnya, inovasi tidak hanya dapat lahir dari aparatur pemerintah, tetapi juga dari masyarakat, termasuk mahasiswa.
“Kenapa mahasiswa tidak bisa menjadi agent of change bagi masyarakat lain yang ada di Balangan?” katanya.
Perkembangan teknologi digital, lanjutnya, memberikan ruang lebih luas bagi generasi muda untuk menciptakan inovasi tanpa terbatas oleh lokasi geografis.
Kabupaten Balangan saat ini juga membutuhkan lebih banyak talenta di bidang teknologi informasi dan digitalisasi pemerintahan. Kebutuhan tersebut semakin penting seiring transformasi tata kelola menuju pemerintahan digital.
“Diharapkan dengan lahirnya calon-calon IT, calon-calon ahli teknologi pertanian, dan bidang lainnya, mereka bisa memberikan sumbangsih bagi Kabupaten Balangan,” ujarnya.
Mandai Didorong Jadi Produk Inovatif
Kuliah umum juga membahas potensi pangan lokal Balangan, salah satunya mandai, olahan kulit cempedak yang dikenal dalam kuliner masyarakat Banjar.
Ernawati melihat mandai sebagai contoh potensi lokal yang dapat dikembangkan melalui riset, inovasi, dan entrepreneurship.
Mahasiswa didorong tidak berhenti pada produk konvensional, tetapi melakukan penelitian mengenai kandungan, metode pengolahan, diversifikasi produk, hingga peluang pasar.
“Ini menjadi homework bagi anak-anak Balangan. Bagaimana mandai tidak hanya diasinkan, digoreng, atau dibuat abon, tetapi bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang berbeda melalui riset,” jelasnya.
Menurutnya, inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi tinggi. Kearifan lokal pun dapat menjadi sumber inovasi apabila dipadukan dengan ilmu pengetahuan, riset, kreativitas, dan kewirausahaan.
Pendidikan Jadi Investasi Jangka Panjang
Ernawati menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan akan memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor pembangunan, mulai dari ekonomi dan ketenagakerjaan hingga kualitas hidup masyarakat.
“Pendidikan dipandang sebagai investasi, bukan biaya. Dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi dalam jangka panjang,” tuturnya.
Karena itu, pemerintah daerah terus mengevaluasi keberlanjutan program pendidikan agar lulusan penerima beasiswa mampu memberikan kontribusi nyata setelah menyelesaikan studi.
Salah satu tantangan yang perlu diantisipasi adalah munculnya pengangguran terdidik. Untuk itu, pendidikan perlu dihubungkan dengan kebutuhan dunia kerja, UMKM, industri, serta peluang entrepreneurship.
Kuliah umum tersebut sekaligus mempertemukan perspektif pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem SDM.
Bagi BIM University, kolaborasi tersebut memperkuat posisi kampus sebagai ruang pertemuan ilmu pengetahuan, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Sementara bagi Pemkab Balangan, mahasiswa yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, termasuk BIM University, merupakan investasi SDM yang diharapkan kembali memberikan dampak bagi daerah.
Pesan utama kuliah umum itu menegaskan bahwa talenta perlu diberi ruang untuk tumbuh, inovasi perlu diwujudkan, dan entrepreneurship harus diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Menutup pemaparannya, Ernawati mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 11 tentang perubahan yang bermula dari upaya manusia mengubah keadaan dirinya sendiri.
Semangat tersebut menjadi penegas bahwa perubahan daerah tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari generasi muda yang memiliki pengetahuan, keberanian berinovasi, dan kemauan menciptakan solusi.
Melalui sinergi Pemkab Balangan dan BIM University, mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai penerima manfaat pendidikan. Mereka didorong menjadi talenta yang mampu menciptakan inovasi, membangun usaha, dan menjadi agent of change bagi masyarakat serta daerah asalnya. (*)
