SOLO, MENARA62.COM — Limbah bulu ayam dan cangkang telur yang selama ini kerap dipandang tidak bernilai berhasil disulap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjadi inovasi material arsitektur berkelanjutan. Inovasi tersebut bahkan mengantarkan dua mahasiswa UMS meraih Silver Medal dalam ajang 12th International Exhibition of Inventions di Guangzhou, China.
Dua mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UMS, Ariz Fantrio Larosa dan Muh Radjabani Umara Qalbian, meraih medali perak melalui karya bertajuk “Kercal: An Innovation in Sustainable Wall Panels Composed of Chicken Feather Biomass and Eggshell Waste”.
Kompetisi internasional tersebut berlangsung pada 21–23 Agustus 2026. Keduanya didampingi dosen pembimbing Suharyani, S.T., M.T.
Kercal merupakan inovasi panel dinding prefabrikasi yang memanfaatkan biomassa bulu ayam dan limbah cangkang telur. Material tersebut dikembangkan sebagai alternatif bahan konstruksi yang lebih berkelanjutan sekaligus memiliki fungsi akustik.
Apresiasi terhadap inovasi mahasiswa UMS itu juga datang dari Dr. Nguyen Hoang Giang, salah satu petinggi RIVA Vietnam. Ia memberikan penghargaan tambahan kepada Ariz dan Radjabani sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan inovasi Kercal.
“Kercal dikembangkan berangkat dari persoalan limbah organik yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui inovasi tersebut, bulu ayam dan cangkang telur yang sebelumnya kurang bernilai guna diolah menjadi material arsitektur yang fungsional, estetis, dan lebih ramah lingkungan,” ujar Suharyani, Rabu (26/8/2026).
Kercal Dikembangkan sebagai Panel Akustik
Menurut Suharyani, pengembangan Kercal tidak hanya menjawab persoalan limbah, tetapi juga kebutuhan sektor arsitektur terhadap material yang lebih ramah lingkungan.
Kercal dirancang sebagai panel akustik dengan memanfaatkan karakteristik serat bulu ayam dan rongga udara internal untuk mendukung proses penyerapan suara. Permukaannya yang bergelombang juga dirancang untuk membantu penyebaran dan difusi gelombang suara.
“Kercal dikembangkan sebagai material panel akustik dengan memanfaatkan jaringan serat bulu ayam dan rongga udara internal untuk mendukung mekanisme penyerapan suara. Bentuk permukaan yang bergelombang juga dirancang untuk membantu penyebaran dan difusi gelombang suara,” jelas Suharyani.
Dalam proses pengembangannya, tim melakukan pembuatan sampel, desain material, hingga pengujian performa akustik. Sampel Kercal diuji di ERIC Acoustics Lab, Faculty of Engineering, UGM, pada 17 Juli 2026.
Pengujian dilakukan menggunakan standar ISO 10534-2 dan ASTM E1050-10. Hasilnya menunjukkan Kercal memiliki koefisien absorpsi suara sebesar 0,408 pada frekuensi 1.000 Hz dan menunjukkan efektivitas penyerapan lebih tinggi pada rentang frekuensi 1.600–6.300 Hz.
Berawal dari Seleksi Internal UMS
Sebelum tampil di panggung internasional, Kercal terlebih dahulu melalui proses seleksi dan presentasi tingkat universitas dalam ajang INNOPA di UMS.
Setelah lolos seleksi internal dan memperoleh dukungan universitas, tim melakukan finalisasi materi presentasi, administrasi, poster, serta video inovasi yang menjelaskan konsep, proses produksi, dan keunggulan Kercal.
Tim juga mempersiapkan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bagian dari upaya melindungi inovasi yang dikembangkan.
Suharyani berharap keberhasilan Kercal dapat menjadi pemantik budaya inovasi material berkelanjutan di lingkungan akademik.
Melalui mata kuliah Teknologi Material Arsitektur, ia terus mendorong mahasiswa mengeksplorasi potensi material alternatif dari limbah organik maupun nonorganik.
“Jangan melihat limbah sebagai sesuatu yang tidak bernilai, tetapi jadikan sebagai peluang untuk menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Ia berharap mahasiswa tidak berhenti sebagai pengguna teknologi material, tetapi berkembang menjadi inovator yang mampu menghasilkan produk arsitektur dengan dampak positif bagi masyarakat, industri, dan lingkungan.
Dinilai Punya Potensi untuk Konstruksi Hijau
Ariz Fantrio Larosa mengatakan salah satu keunggulan Kercal terletak pada pemanfaatan limbah lokal menjadi produk arsitektur yang berpotensi digunakan sebagai material alternatif dalam konstruksi hijau.
“Kompetisi di Guangzhou ini sangat kompetitif karena kami harus bersaing dengan teknologi-teknologi maju dari berbagai belahan dunia. Namun, para juri internasional sangat mengapresiasi Kercal karena dinilai memberikan solusi nyata berbasis ekonomi sirkular bagi permasalahan lingkungan global,” ujar Ariz.
Selain aspek akustik, Kercal dikembangkan dengan mempertimbangkan potensi fungsi lain, termasuk daya isolasi termal. Pemanfaatan limbah sebagai bahan baku diharapkan dapat turut mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan sektor konstruksi.
Sementara itu, Radjabani menilai capaian di Guangzhou menjadi bukti bahwa mahasiswa Arsitektur UMS mampu menghasilkan inovasi yang kompetitif di tingkat internasional.
Ia berharap Kercal tidak berhenti sebagai karya kompetisi. Pengembangan lebih lanjut melalui riset dan pengujian diperlukan agar inovasi tersebut memiliki peluang untuk diterapkan dan dikomersialisasikan.
“Harapannya, Kercal bisa terus dikembangkan, tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi dapat masuk ke tahap pengembangan dan komersialisasi sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi industri konstruksi dan lingkungan,” ungkap Radjabani.
Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa limbah organik memiliki peluang untuk diolah menjadi material bernilai tambah. Kercal menjadi contoh bagaimana inovasi mahasiswa dapat mempertemukan isu ekonomi sirkular, teknologi material, dan arsitektur berkelanjutan dalam satu karya yang mampu bersaing di tingkat internasional. (*)

