SIKKA, MENARA62.COM — Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sikka menembus medan sulit untuk menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pulau Palue menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Sikka yang mengalami dampak cukup parah akibat gempa Flores. Kondisi geografis pulau yang berada jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sikka membuat distribusi bantuan membutuhkan perjalanan dan persiapan khusus.
Ketua PDA Sikka, Fitriah, mengatakan Palue secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Sikka. Namun, secara geografis, pulau tersebut justru lebih dekat dengan wilayah Nagekeo yang menjadi salah satu kawasan pusat gempa Flores.
“Untuk daerah Sikka sendiri yang paling terdampak ada di Pulau Palue,” ujar Fitriah, Rabu (2/9/2026).
Sebelum menyalurkan bantuan, PDA Sikka terlebih dahulu mengirimkan dua anggota tim untuk melakukan asesmen langsung. Mereka mendata kondisi warga sekaligus mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak di lapangan.
Hasil pendataan menunjukkan warga membutuhkan berbagai kebutuhan dasar, mulai dari tenda, tikar, selimut, susu balita, perlengkapan mandi, minyak kayu putih, minyak telon, pembalut, sembako hingga air minum.
“Ada beberapa rekan kami yang memang ditempatkan di sana, di Palue, untuk melihat apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat,” jelas Fitriah.
Tempuh Laut hingga Jalan Kaki
Penyaluran bantuan ke Pulau Palue bukan perkara mudah. PDA Sikka menggandeng MDMC Universitas Muhammadiyah Maumere untuk memastikan bantuan dapat menjangkau warga di wilayah yang aksesnya cukup sulit.
Tim berangkat dari Maumere melalui Pelabuhan Feri Kewapante. Perjalanan laut menuju Pulau Palue menggunakan kapal feri membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.
Setelah tiba di Palue, tantangan belum berakhir. Pulau tersebut merupakan kawasan vulkanik Gunung Rokatenda yang masih aktif. Kondisi geografis dan kerusakan pascagempa turut menyulitkan mobilitas tim bantuan.
Sejumlah ruas jalan tertutup bebatuan besar akibat material yang berjatuhan. Tim pun harus menggunakan perahu untuk mengitari pulau menuju titik yang lebih dekat dengan desa sasaran. Perjalanan menggunakan perahu memakan waktu sekitar 30 menit.
Dari titik tersebut, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju desa. Medan yang menanjak membuat kendaraan tidak dapat menjangkau lokasi.
“Setelah turun perahu, kami harus berjalan dengan medan yang agak menanjak menuju desa sekitar 30–45 menit. Kendaraan tidak bisa naik, jadi bantuan dibawa dengan dipikul,” ungkap Fitriah.
Bantuan Menjangkau Empat Desa
PDA Sikka menyalurkan bantuan ke empat desa di Pulau Palue. Keempatnya yakni Desa Kesokoja di Dusun Awa Male, Desa Natakuni di Dusun Cua, Desa Nitunlea di Dusun Nitung, serta Desa Tuanggeo di Dusun Okacere.
Dalam satu kali perjalanan, delapan orang tim diberangkatkan menuju Palue. Karena jarak dan medan yang berat, tim harus menginap setidaknya dua hari sebelum kembali.
Waktu tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memberikan pendampingan psikososial kepada warga, terutama anak-anak yang mengalami dampak psikologis setelah gempa.
Bersama MDMC Universitas Muhammadiyah Maumere, ‘Aisyiyah juga mendirikan posko bantuan di rumah salah satu warga yang menjadi bagian dari tim relawan sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Maumere.
Fitriah mengatakan kebutuhan warga masih sangat besar. Berdasarkan kondisi yang ditemukan tim, hampir 90 persen rumah warga mengalami kerusakan berat hingga runtuh.
Tak Pandang Latar Belakang Agama
Ada sisi kemanusiaan yang kuat dalam misi tersebut. Warga Pulau Palue yang menerima bantuan bukan beragama Islam. Namun, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk hadir membantu.
“Di Pulau Palue itu Muslim tidak ada. Semuanya Nasrani. Mereka sangat berterima kasih kepada ‘Aisyiyah dan Universitas Muhammadiyah karena mereka langsung menerima apa yang mereka butuhkan,” tutur Fitriah.
Menurutnya, keberadaan anggota tim yang merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Maumere dan berasal dari wilayah tersebut turut membantu proses asesmen. Pengetahuan terhadap karakteristik daerah dan kondisi masyarakat membuat penyaluran bantuan dapat dilakukan secara lebih tepat.
Bagi Fitriah, pengalaman tersebut menegaskan pentingnya distribusi bantuan berbasis kebutuhan. Bantuan tidak cukup sekadar dikirim, tetapi harus didahului dengan pemetaan kondisi warga agar benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
“Saya ingin ‘Aisyiyah untuk terus dapat memberikan bantuannya, melihat kebutuhan warga kemudian membantu sesuai yang mereka butuhkan,” ujarnya.
Selain kebutuhan dasar, Fitriah berharap pemerintah dan berbagai pihak segera membantu penyediaan hunian bagi warga yang kehilangan rumah.
Kebutuhan tersebut dinilai semakin mendesak karena musim penghujan segera tiba, sementara sebagian warga masih bertahan dengan kondisi tempat tinggal yang sangat terbatas.
“Untuk yang terdampak, harapannya selalu diberi kekuatan dan bencana ini segera selesai. Selain itu, agar segera dapat diberikan bantuan hunian bagi warga, terutama yang rumahnya rata dengan tanah, mengingat sebentar lagi memasuki musim penghujan,” pungkas Fitriah. (*)

